Hasil Kelulusan SMMPTN Barat  Klik tombol ini untuk melihat Informasi Lengkap
Toggle Bar

Unand Bedah Buku Tiga Sepilin, Surau Solusi Untuk Bangsa

20 Desember 2016

Padang-Universitas Andalas bekerjasama dengan Forum Minang Maimbau (FMM) mengadakan bedah buku Tiga Sepilin, Surau Solusi Untuk Bangsa karya Buya H. Mas’oed Abidin pada Senin (19/12) di Gedung Convention Hall Kampus Unand Limau Manis. 

Hadir dalam kegiatan ini Rektor, Wakil Rektor, Dekan, Tenaga Kependidikan, Civitas Akademika di lingkungan Unand, Unsur Muspida, Kepolisian dan tamu undangan lainnya.

Acara ini menghadirkan pakar dari berbagai bidang di Sumatera Barat untuk membedah serta membahas buku ini diantaranya Dr. Fahmi Idris, SE, MH, Prof. Dr. Nursyirwan Effendi, Prof. Dr. Mestika Zed, MA dan Dr. Hasanuddin, MSi.

Rektor Universitas Andalas Prof. Dr. Tafdil Husni, SE, MBA mengatakan buku ini memaparkan kampanye untuk kembali mengingat sejarah kedjayaan Minangkabau dimana lahirnya bangsa Indonesia tidak terlepas dari peran serta tokoh-tokoh Minangkabau seperti Muhammad Hatta, Buya Hamka, Sutan Syahril, Agus Salim, Rasuna Said, Rohana Kudus dan masih banyak yang lainnya.

Tokoh Minang ini mempunyai kiprah yang luar biasa baik di Indonesia maupun di luar negeri, kemunculannya tidak terlepas dari budaya Minang yang dikenal dengan istilah Adat Basandi Syarak, Syarat Basandi Kitabullah. 

Disamping itu, perkembangan budaya Minangkabau tidak terlepas dari masuknya agama Islam ke Sumatera Barat, kebudayaan Minangkabau menyatu dengan agama Islam sehingga terciptanya tatanan sosial yang kokoh untuk menghadapi perkembangan zaman.

Dalam keminangkabauan dikenal dengan peranan tigo tali sapilin yakni peran ulama, peran niniak mamak dan peran cadiak pandai. Tigo sapilin ini seirama dan sejalan untuk mengatur masyarakat Minangkabau menuju kemajuan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan seiring dengan perkembangan zaman nilai kebudayaan yang ada disetiap diri orang Minang sudah mulai memudar ditambah dengan dengan melemahnya keimanan.

Selain itu, keberhasilan orang minang tidak terlepas dari “tingga disurau” surau merupakan tempat dimana pemuda Minang  menerpa segala ilmu.

“ilmu tanpa agama pincang, agama tanpa ilmu buta,”ungkapnya.

Senada dengan itu, Buya H. Mas’oed Abidin menginginkan buku ini perlu ditambah, dikurangi selain itu, ia juga menyadari bukunya masih perlu disempurnakan. 

Ia menambahkan surau adalah tempat untuk belajar mengaji, sarana pendidikan atau madrasyah tarbiyah bagi anak-anak nagari di ranah Minang.

Dalam menghadapi masalah-masalah hidup yang bersifat hilangnya sopan santun, hilangnya adat, solusi yang terbaik adalah kembali ke surau. Nilai-nilai surau sudah menjadi nilai-nilai utama untuk membangun sikap menjadi lebih baik.

Ia berharap para pembahas memberikan kritik-kritik tajam dalam bedah buku ini apa yang harus diperbaiki sehingga kita mampu membangun generasi emas dimasa yang akan datang.

Humas  dan Protokol Unand

 

Read 635 times