Respon Tantangan Perubahan Zaman, Laboratorium Ilmu Politik Unand Selenggarakan Sekolah Kepemimpinan Masa Depan

30 Oktober 2021
Webinar Laboratorium Ilmu Politik  FISIP Webinar Laboratorium Ilmu Politik FISIP Universitas Andalas

Padang (Unand) – Sebagai upaya menjawab kebutuhan masyarakat akan pemimpin yang ideal, Laboratorium Ilmu Politik FISIP Universitas Andalas menyelenggarakan Sekolah Kepemimpinan Masa Depan Sabtu, (30/10) secara virtual. 

Dalam pertemuan pertama Sekolah Kepemimpinan, Laboratorium Ilmu Politik Universitas Andalas sukses menghadirkan mantan birokrat senior, Shadiq Pasadigoe serta pengamat politik sekaligus Dosen Ilmu Politik Dr. Aidinil Zetra dengan tema “Kepemimpinan dalam Birokrasi Pemerintahan dan Tantangan untuk Masa Depan”.

Diselenggarakan secara nasional, program ini meraih antusiasme peserta dari berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, birokrat, akademisi, hingga professional.

Ketua Jurusan Ilmu Politik Universitas Andalas Indah Adi Putri menyampaikan program ini lahir karena dibutuhkannya perhatian atas aspek kepemimpinan seiring dengan tantangan dan perubahan zaman. 

dijelaskannya, Laboratorium Ilmu Politik Unand akan menghadirkan politisi, akademisi, dan praktisi sebagai pemandu pembentukkan calon pemimpin masa depan yang diadakan melalui program tersebut.

“Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi pemicu berikutnya sebagai pengembangan pemikiran serta wawasan kebangsaan kepemimpinan kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang sangat besar ini,” harap Indah.

Ia mengungkapkan program ini memiliki tagline “Mempersiapkan Pemimpin Muda Masa Depan” yang diupayakan melalui pembekalan oleh sosok handal dan ahli di bidangnya.

Dikatakannya kegiatan yang terselenggara secara virtual ini bersifat kontinu dengan dua pertemuan berikutnya pada 13 dan 27 November 2021 mendatang.

Shadiq Pasadigoe menjelaskan krisis kepemimpinan yang ada di pemerintahan saat ini. “Maka dari itu, kepemimpinan harus mengedepankan etika dalam proses birokrasi kedepannya,” jelasnya.

Diungkapkanya masyarakat sekarang sudah semakin kritis dan berani untuk mengajukan keinginan, tuntutan dan aspirasinya, serta melakukan kontrol atas kinerja pemerintah. 

“Sudah semestinya kebiasaan suka mengatur dan memerintah mesti diubah menjadi suka melayani, dari yang lebih suka menggunakan pendekatan kekuasaan, berubah menjadi suka menolong, semuanya menuju ke arah fleksibelitas, kolaboratis dan dialogis, dan menghilangkan cara-cara yang sloganis menuju cara-cara kerja yang realistik pragmatis,” ujar Bupati Tanah Datar yang pernah menjabat selama dua periode ini. 

Senada dengan itu, Aidinil menyebutkan dalam kepemimpinan politik dan birokrasi kedepan cara-cara pemimpin yang bersikap layaknya bos sudah harus ditinggalkan. Menurutnya jika pemimpin tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman maka pemimpin tersebut  tidak akan menjadi pemimpin yang populer.

“Ia tidak akan bisa diterima khalayak, kemudian kepemimpinannya pasti akan mengalami kegagalan,” jelas Aidinil.(*)

Penulis: Volunteers Laboratorium Ilmu Politik Unand

 

Read 422 times