Live Streaming Wisuda III Program Sarjana dan Diploma Tahun 2018  Klik tombol ini
Toggle Bar

Mutia Ilham

  • + Prodi: Keperawatan
  • + Status: Mahasiswa
  • + Tahun Masuk: 2015

September end adalah kalimat yang disukainya. Pada kali ke dua puluh kalimat itu memiliki arti yang sangat spesial untuk hidupnya. Ya 30 september 2017 untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di negeri sakura, yang sebelumnya tak pernah terpikirkan akan kesana. Benar adanya, bahwa manusia adalah pelakon dalam skenario tuhan. 

Program yang ikutinya adalah student mobility selama satu bulan. Dalam kegiatan ini ia  berkesempatan untuk belajar bersama dengan mahasiswa disana, presentasi dan berbagi cerita bersama mereka serta tour pastinya. 

Hal menarik yang ditemukannya disela kesibukan sore, salah seorang staff menghampiri kami dan menyapa kami dengan menggunakan bahasa indonesia. “ selamat sore”, serentak kami membalas “selamat sore”. Singkat cerita kami berkenalan dan namanya Kak Aki adalah orang asli Kochi yang sebelumnya pernah pergi ke Indonesia, dan juga sudah pernah kursus bahasa Indonesia selama tiga tahun. Dialah orang yang memperlihatkan sisi lain Kochi yang indah, yang sebelumnya tidak pernah kami bayangkan.

Minggunya dilalui dengan penuh makna, dari tour kampus yang membuat kami terkagum-kagum dengan teknologi dan inovasi yang mereka ciptakan dalam bidang keperawatan. Viciting home care, bertemu dengan kakek-kakek dan nenek-nenek yang masih bersemangat menjalankan aktivitas fisik walau sudah di usia senja. 

Belajar bahasa Jepang selama tiga jam setiap minggunya, bersama dengan sensei yang luar biasa sabar dan excited sekali dengan budaya Indonesia. Karna kami banyak bercerita mengenai indonesia pada beliau, dan terlihat pula bahwa kami sangat tertarik dengan Kochi, maka kami diberikan beberapa buku mengenai tempat wisata di Kochi, dan juga mengenai kebudayaan nya. 

Keindahan Chikurin-Ji tample dan juga pesona pantai katsurahama yang mengingatkan kampung halaman saya. Memang, laut benar-benar bisa mengobati kerinduan. Tutur kata yang sopan, sikap yang santun dan ramah, sepertinya sudah membudaya di Jepang. 

Minggu keduanya di Kochi, saat yang ditunggu datang, akhirnya ia memiliki kesempatan untuk mengikuti praktikum bersama mereka. Dengan settingan lab yang sama persis dengan settingan rumah sakit, dan juga fasilitas yang sangat memadai. Praktek mobilisasi, ambulasi, dan phisical asssessment kami lakoni. 

“Yaa, walau itu sudah menjadi pelajaran ulangan untuk kami, namun sensasi yang dirasakan begitu berbeda dengan settingan, fasilitas, dan praktek dari terapeutik communication yang sangat kentara diantara perawat dan pasien, semua itu menjadi satu hal yang “keren” dimata kami,”tuturnya.

Disamping itu ia juga berkesempatan mengunjungi pusat kesehatan di Kochi yaitu Kochi Health Science Center yang sebenarnya dekat sekali dari asramanya. Ditemani oleh Kohara sensei yang selalu ceria dan Miyabayashi-san, kami berdua diajak berkeliling. Satu hal yang kami sadari ketika di sana, rumah sakit nya tidak berbau sama sekali, dan yang pasti bersih. Konsep rumah sakit mereka adalah relaxing, sehingga di lobby kami selalu mendengarkan musik klasik. 

Selain itu, ia juga mengunjungi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Kochi, bercengkrama menggunakan bahasa Indonesia, menemukan orang yang sama-sama menggunakan jilbab, dan pastinya, makan makanan Indonesia.

Di penghujung minggu, kami berkesempatan untuk belajar salah satu budaya jepang yang terkenal Yaitu japanese tea culture di Kochi castle. Dalam acara ini kami diajarkan bagaimana menyeduh serbuk teh hijau, menuang dan gaya meminum ala orang jepang. 

“Agak ribet memang, jika dibandingkan dengan cara orang indonesia menyeduh teh, toh cuman tinggal celup lalu di tambah gula, diaduk dan siap diminum,” ujarnya.

Namun itu lah budaya mereka yang sampai saat ini masih mereka pertahankan. Tidak hanya itu, kami pun berkesempatan pergi mengunjungi Tosa, dan menikmati laut yang tenang dari ketinggian yang  ditemani ice cream dan suasana yang tenang  dan alami.

Banyak hal yang kami lalui di minggu ke tiga di Kochi, salah satunya pergi ke daerah sakawa yang memiliki spot tradisional Jepang. Berkunjung ke salah satu rumah tradisional jepang, yang dahulu nya adalah tempat pembuatan sake. Mengunjungi temple yang merupakan tempat terbaik untuk menyaksikan momiji di musim gugur. Namun sayang nya ketika kami disana, dedaunan itu masih hijau kekuningan, karena waktu itu masih di awal musim gugur.

Selain perasaan bahagia ia juga merasakan risih sebagai minoritas muncul. Hal itu ia raswakan ketika berjalan sendirian yang selalu di perhatikan, beberapa teman bahkan bertanya “ apakah itu (jilbab) tidak panas?”, “ kenapa tidak bisa memakan babi?”, “ kenapa boleh makan sapi?” (ini dikarenakan ada salah satu rekan dari Nepal yang beragama hindu, kemudian temannya yang dari China bertanya seperti itu) ada pertanyaan yang langsung dapat jawabnya dan ada juga yang disenyuminnya karna nantinya takut salah memberikan jawaban. 

Namun ia berpikir bahwa itu memang adalah konsekuensi baginya karna berada di negara yang sangat jarang sekali muslim, bahkan di Kochi jumlah muslim dapat dihitung dengan jari banyaknya. 

Di minggu keempatnya yang juga minggu terakhir waktu terasa berlalu begitu cepat, entah karna memang menyenangkan atau sangat menikmati waktu – waktu selama di Kochi. Setiap hari  selalu bermakna, ada hal yang baru, menarik dan unik yang ia temukan di kota kecil itu. Tibalah saat nya ia mengadakan exchange party, yang dipelopori oleh mahasiswa Indonesia yang melanjutkan pendidikan Disana. 

Ia Dengan Bangga Mempresentasikan Universitas Andalas dan juga budaya minangkabau yang terbukti berhasil membuat mereka berdecak kagum akan rendang, musik saluang, dan juga songket yang ia kenakan. 

Bangga rasanya karena tak menyangka apresiasi yang diberikan akan sebesar itu. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan mahasiswa UGM yang juga melaksanakan program yang sama dengannya. 

Ia juga berkesempatan mengikuti culture experience tour dan juga mengunjungi beberapa museum bersama dengan 3 rekan dari fakultas budaya University of Kochi. Culture experience yang dipandu oleh noel sensei merupakan orang Belgia namun menjadi dosen di fakultas budaya University of Kochi. 

“Mengunjungi Samurai Recident, mencoba makan hidangan jepang dengan gaya tradisional jepang,”ujarnya.

Disinilah ia diberi tahu bahwa menikmati makanan Jepang itu tidak hanya dari rasa nya yang masih alami tanpa pengawet dan juga segar, namun juga dengan melihatnya (keindahan teknik plating nya). 

Dilanjutkan dengan mengunjungi museum of history, disini noel sensei sangat banyak menjelaskan tentang zaman Edo. Perjalanan ini  ditutup dengan belajar membuat garam.

Berkesempatan mengikuti kelas budaya dalam satu hari penuh bersama teman-teman dari Jepang,Taiwan, dan China. Kami berdiskusi mengenai budaya dari masing-masing negara dan juga mengenalkan bahasa masing-masing. 

Satu pertanyaan yang ia terima, apakah di Indonesia bahasa inggris merupakan bahasa kedua? dan ia langsung menjawab bahwa di Indonesia tidak ada bahasa kedua di Indonesia kami hanya memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan, dan bahasa inggris kami pelajari untuk beberapa kepentingan.

Ia juga diminta untuk mempresentasikan materi mengenai wanita indonesia dengan tema women issue in Indonesia di faculty of social welfare. Seminggu sebelum hari presentasi kami mengadakan pertemuan terlebih dahulu dengan sensei untuk mendiskusikan materi apa saja yang akan di presentasikan. 

Kemudian ia memberikannya beberapa pertanyaan yang menurut beliau adalah perbedaan yang kentara antara Indonesia dan Jepang yaitu, Why in Indonesian woman hold a higher position than Japan in politics and in business or public offices? Factor of woman high position? Gender gap index in 2016 Indonesia rank 88, Japan rank 101”.

Di penghujung minggu terakhir ini ia habiskan dengan menikmati kochi bagian utara. Ia menikmati musim gugur di Kochi yang dikelilingi oleh pohon yang sudah memerah dan menguning udara yang segar juga melengkapi perjalan kali ini. 

Ia juga membuat kerajinan gerabah yang sebenarnya juga ada di Indonesia yang ditemani dengan buah khas musim gugur yaitu kaki dan secangkir teh hangat bercengkrama dengan sensei sembari mempersiapkan alat dan bahan pembuatan gerabah.

Tibalah hari terakhirnya dalam program ini sedih memang, dengan begitu banyaknya kenangan yang dilalui. Satu harapan yang pasti, bahwa ia punya harapan yang besar untuk kembali ke negara itu, dan semoga dapat menimba ilmu di sana.

Walaupun cerita ini sangat singkat untuk mendeskripsikan waktu sebulan yang indah dan penuh makna, namun baginya bersyukur dan berterima kasih kepada tuhan yang telah memberikannya kesempatan serta tak lupa juga pada orang-orang yang sudah memberikan dukungan pada saya termasuk pihak UPT Layanan Internasional UNAND yang luar biasa sekali. 

Walau ini hanya segelintir cerita, Ia berharap dapat memotivasi orang-orang yang membaca nya dan change their mind bahwa suatu hal yang tidak mungkin bagi seorang manusia bisa saja mungkin menurut tuhan. maka jangan patah semangat sebelum mencoba nya. Setidaknya,  jika belum berkesempatan, kita bisa mengukur kemampuan, just be positive to your self. ? 

 

 

 

 

 

 

Read 1002 times