The global race to reduce carbon emissions is at a critical moment as land becomes scarce, leading to conflicts over its use. Floating Photovoltaic (FPV) systems, which utilise lakes and coastal waters for solar energy, offer a potential solution to these land-use issues. However, a review presented at the ICOEE conference highlights that the main challenge for floating solar panels is not engineering but rather social acceptance within communities. Achieving clean energy is essential, but it should also support the Sustainable Development Goals (SDGs) equitably for all.
Ruangan Convention Hall Hotel Pangeran Pekanbaru malam itu terasa begitu hidup. Cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit memancarkan sinar kekuningan yang hangat, menerangi ruangan yang telah dipenuhi ratusan tamu. Kursi-kursi tersusun rapi menghadap panggung utama. Di bagian depan telah disiapkan beberapa sofa untuk para narasumber, sebuah podium lengkap dengan mikrofon berdiri di sisi kanan, sementara layar besar di belakang panggung menampilkan tema kegiatan, "3rd Employer Meeting Universitas Andalas: Bersama Membangun Bangsa Menuju Daya Saing Global." Pemandangan itu memberi kesan bahwa malam tersebut bukan sekadar acara seremonial, tetapi sebuah pertemuan penting untuk mendengar dan saling belajar.
Bahasa adalah jembatan bagi manusia untuk memahami alam. Namun, dalam dunia astronomi, jembatan ini sering kali justru menyesatkan. Ada sebuah ironi di mana istilah-istilah yang kita gunakan sehari-hari justru bertolak belakang dengan realitas fisika yang terjadi di atas cakrawala. Sebagai seorang akademisi yang terbiasa bekerja dengan data presisi, saya merasa penting untuk meluruskan distorsi bahasa ini agar publik tidak terus terjebak dalam pemahaman yang romantis, namun keliru secara sains.
Jika saja bumi ini datar, mungkin hidup kita jauh lebih sederhana. Kita bisa menetapkan satu waktu global yang seragam, tanpa perlu pusing memikirkan perbedaan zona waktu atau rotasi planet. Namun, realitasnya, Allāh ﷻ menciptakan bumi dalam bentuk sferis—bulat. Konsekuensi dari bentuk geometris ini sangat mutlak: waktu matahari terbit dan terbenam akan selalu berbeda di setiap garis bujur. Ini bukan sekadar teori, melainkan hukum alam yang presisi dan tak terelakkan.
Pukul 05:44 WIB, di sebuah sudut di Nanggalo, waktu seolah berhenti sejenak. Dalam apa yang sering saya sebut secara seloroh sebagai Nanggalo State Time (NST), saya berdiri di halaman rumah dengan sebuah gawai sederhana—yang sering kita labeli "HP C1na"—mengarahkan lensa ke ufuk timur. Di sana, di ketinggian 53°49', seiris cahaya melengkung indah di penghujung fajar. Bagi mata awam, itu mungkin hanya "bulan sabit". Namun, bagi nalar yang terbiasa membaca data, lengkungan itu adalah sebuah pesan penting tentang keteraturan alam semesta (Sunnatullāh) yang sering kali kita salah pahami.