Padang (UNAND) – Fakultas Peternakan (Faterna) Universitas Andalas (UNAND) menggelar seminar internasional bertema “Sustainable Poultry Development and Future Research: Integrating Science, Technology, and Policy for Global Food Security” sebagai upaya memperkuat kolaborasi global dalam pengembangan industri perunggasan berkelanjutan dan ketahanan pangan dunia.
Padang (UNAND) – Pijar Foundation menggelar kegiatan Townhall Muda University Roadshow Inklusi di Universitas Andalas dalam format Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Disabilitas dalam Pendidikan Tinggi: Dari Pengalaman Kampus ke Dialog Kebijakan.” Kegiatan ini menjadi ruang diskusi kolaboratif untuk mendorong terciptanya pendidikan tinggi yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.
Kepala Kebijakan Publik Pijar Foundation, Anthony Marwan, M.Sc., menyampaikan bahwa Pijar Foundation berkomitmen mendorong pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang lebih inklusif dan adaptif terhadap tantangan masa depan.
Ia menjelaskan bahwa Pijar Foundation memiliki tiga pilar utama, yakni mempersiapkan talenta yang future-ready, memfasilitasi inovasi dan kewirausahaan yang siap berkembang, serta mendorong transformasi proses kebijakan yang inklusif, kolaboratif, dan future-proof.
“Melalui Townhall Muda, kami ingin memastikan hadirnya platform dialog yang bijak dan inklusif. Townhall Muda merupakan gerakan yang mewadahi ASN dan generasi muda yang memiliki inisiatif untuk menghadirkan perubahan,” ujarnya.
Anthony juga mengajak mahasiswa Universitas Andalas untuk turut terlibat sebagai relawan (volunteer) dalam gerakan Townhall Muda guna memperluas dampak sosial di tengah masyarakat.
Sementara itu, Sekretaris Universitas Andalas, Aidinil Zetra, S.IP., M.A., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pendidikan tinggi masih menghadapi tantangan besar dalam pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas. Menurutnya, sejumlah kebijakan belum sepenuhnya memberikan kemudahan dan akses yang setara bagi kelompok disabilitas, termasuk dalam pemanfaatan teknologi pendidikan.
“Kita berharap persoalan ini menjadi perhatian bersama ke depan agar penyandang disabilitas dapat mengakses dan merasakan perkembangan teknologi secara setara,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa inklusi bukan sekadar bentuk belas kasihan, melainkan wujud keadilan yang harus diwujudkan bersama. Universitas Andalas, melalui Unit Layanan Disabilitas dan Kesetaraan (ULDK), berkomitmen menciptakan lingkungan kampus yang ramah dan inklusif bagi seluruh warga kampus, termasuk penyandang disabilitas.
Dalam diskusi FGD tersebut juga disampaikan pentingnya melibatkan penyandang disabilitas dalam proses penyusunan dan pengambilan kebijakan agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar responsif terhadap kebutuhan mereka.
Kepala Unit Layanan Disabilitas dan Kesetaraan Universitas Andalas, Rika Handayani, S.S., M.A., menjelaskan berbagai upaya yang harus dilakukan kampus dalam menyediakan fasilitas yang aksesibel bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Penyesuaian tersebut mencakup ruang belajar, akses toilet, hingga sarana pendukung lainnya guna menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman dan setara.
Dr. Aidinil Zetra, melalui kegiatan ini berharap berbagai persoalan mengenai hak terkhusus mahasiswa penyandang disabilitas dapat dipecahkan secara bertahap dan menyesuaikan dengan kebutuhan yang nampak di lapangan.
Humas, Protokolo, dana Layanan Informasi Publik
Padang (UNAND) – Universitas Andalas (UNAND) menggelar Wisuda II Tahun 2026 selama dua hari, 9–10 Mei 2026, di Auditorium Kampus Limau Manis. Sebanyak 1.321 wisudawan resmi dilepas dalam prosesi yang berlangsung khidmat dan penuh makna.
Padang (UNAND) – Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Andalas menyelenggarakan Summer Course 2026 yang mengangkat tema pengelolaan sumber daya alam dari perspektif sosial ekonomi untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan pembangunan pedesaan.
Padang (UNAND) – Di tengah ribuan toga yang memenuhi Auditorium Universitas Andalas (UNAND) pada Wisuda II tahun 2026, ada satu suara yang membuat suasana mendadak hening. Bukan karena pidato yang formal, melainkan karena kisah sederhana tentang perjuangan hidup yang terasa begitu dekat bagi banyak orang.