Coba pikirkan pertanyaan sederhana ini: siapa sebenarnya yang datang berkunjung ke kota Anda, dan apa yang sebenarnya mereka cari? Pertanyaan ini terdengar remeh, tapi jawabannya menentukan arah sebuah kota membangun identitasnya untuk bertahun-tahun ke depan. Sayangnya, di banyak daerah termasuk beberapa kota di Sumatera Barat, pariwisata masih dianggap sebagai urusan fisik semata. Bangun objek wisata, percantik ruang publik, pasang papan penanda besar-besar, lalu tunggu wisatawan berdatangan. Padahal identitas kota tidak lahir dari beton dan cat tembok. Ia lahir dari cerita: bagaimana sebuah tempat bicara tentang dirinya sendiri, dan siapa yang benar-benar mau mendengarkan.
Seorang pemimpin dapat berbicara hampir satu jam tentang berbagai capaian, kebijakan, dan harapan bagi masyarakat. Namun, di era media sosial, keseluruhan pidato itu dapat dikalahkan oleh satu kalimat yang dianggap janggal, kontroversial, atau tidak sesuai dengan pengalaman publik.
Perkembangan kecerdasan buatan sedang mengubah cara orang berinteraksi dengan layanan digital. Selama bertahun-tahun, perguruan tinggi membangun berbagai aplikasi untuk kebutuhan yang berbeda. Mahasiswa membuka sistem akademik untuk melihat jadwal dan nilai. Dosen membuka aplikasi penelitian untuk memeriksa proposal atau laporan. Tenaga Kependidikan menggunakan aplikasi lain untuk kepegawaian, remunerasi, keuangan, dan administrasi. Masyarakat umum juga harus berpindah dari satu halaman ke halaman lain untuk mencari program studi, jadwal penerimaan, informasi penelitian, atau layanan universitas.
Read more: Perguruan Tinggi sebagai AI-Accessible Digital Service
Seorang mahasiswa kini dapat menghasilkan esai 1.500 kata dalam beberapa menit. Ia dapat meminta kecerdasan buatan (AI) merangkum jurnal, menjelaskan teori yang sulit, menerjemahkan artikel ilmiah, bahkan membantu menyusun argumen. Tugas yang dahulu membutuhkan berjam-jam membaca dan menulis kini dapat diselesaikan jauh lebih cepat.
Read more: Apakah AI Membuat Mahasiswa Lebih Produktif atau Lebih Malas Berpikir?
Kabut asap sering dipandang secara sederhana, hutan terbakar, asap mengepul, udara menjadi keruh, lalu masyarakat diminta memakai masker. Cara pandang seperti ini sebenarnya terlalu sederhana untuk menggambarkan persoalan kesehatan yang sedang terjadi.
Read more: Menakar Bahaya Kesehatan Kabut Asap: Ketika Api yang Jauh Tetap ‘Membakar’ Paru-Paru Kita