Dalam kehidupan sehari-hari, kita berkomunikasi begitu sering hingga kadang melupakan satu hal sederhana yang sangat menentukan, yaitu waktu. Kita sibuk memikirkan apa yang akan disampaikan, bagaimana menyusun kalimat yang tepat, dan media apa yang akan digunakan. Namun, sering kali kita lupa mempertimbangkan kapan pesan itu dikirim. Padahal, dalam banyak situasi, waktu pengiriman pesan sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri.
Beberapa waktu lalu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyebut bahwa pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Indonesia terjadi karena pasokan batu bara terbatas. Pernyataan ini memperlihatkan adanya persoalan mendasar yang berkaitan dengan sistem kelistrikan kita yang sangat bergantung pada batu bara. Ketika pasokannya terganggu, ketersediaan energi listrik nasional ikut terganggu.
Read more: Keterbatasan Stok Batu Bara dan Urgensi Transisi Energi
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale merupakan salah satu teks budaya politik paling penting di Indonesia hari ini. Film ini tidak hanya berbicara tentang konflik agraria dan kerusakan ekologis di Papua, tetapi juga membongkar hubungan antara negara, kapitalisme, militerisme, dan masyarakat adat. Dalam perspektif kajian budaya (cultural studies), film ini dapat dibaca sebagai kritik terhadap cara pemerintah menjalankan pembangunan nasional dengan logika kolonial modern: tanah diambil atas nama negara, masyarakat adat dipinggirkan atas nama kemajuan, dan aparat keamanan dihadirkan untuk menjaga stabilitas investasi.
Sejak ledakan ChatGPT pada akhir 2022, kecerdasan buatan (AI) generatif telah mengubah wajah pendidikan tinggi dengan sangat cepat. AI kini bukan lagi sekadar fiksi masa depan, melainkan rutinitas harian. Mahasiswa era sekarang terbiasa mendelegasikan tugas akademik kepada mesin dalam hitungan detik—mulai dari mencari referensi, meracik kerangka esai, menulis kode program, hingga mengolah data riset. Di luar tembok kampus, dunia industri sedang bertransformasi drastis. Perusahaan tak lagi sekadar mencari sarjana yang jago di bidang akademiknya, tetapi mereka memburu talenta yang mampu bekerja berdampingan dengan teknologi AI. Fenomena ini sangat nyata; kepiawaian menggunakan AI kini menjadi nilai tambah premium dalam proses rekrutmen.
Read more: Ijazah Saja Tak Cukup: Mengapa 'AI Literacy' Kini Jadi Syarat Mutlak Lulusan Kampus
Pernahkah kita membenci seseorang atau kelompok hanya karena unggahan yang lewat di layar ponsel? Atau menilai penulis dari potongan kutipan yang viral di media sosial? Tanpa kita sadari, informasi yang hadir dalam hitungan detik dapat membentuk prasangka, memicu emosi, dan menuntun kita pada kesimpulan yang terburu-buru. Dalam situasi seperti ini, media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi, tetapi juga arena yang sangat kuat dalam membentuk opini publik, memperkuat stereotip, dan bahkan mempertajam perbedaan politik.
Read more: Literasi Digital untuk Menangkal Polarisasi Politik dalam Sastra