Masa remaja sering kali digambarkan sebagai periode storm and stress, sebuah fase penuh gejolak emosi, luapan amarah, dan rasa cemas yang datang bertubi-tubi. Bagi seorang anak perempuan berusia remaja di fase ini, melangkah menuju kedewasaan rasanya seperti meniti tali tipis di atas jurang.
Read more: Mengembalikan Fungsi Rumah dan Sekolah sebagai Ruang Transisi Budaya
Ketika galodo menerjang Arosuka, Kabupaten Solok, pada Senin malam, 21 September 2026, perhatian tentu tertuju pada kawasan hilir: jalan yang tertutup material, fasilitas pemerintah yang terdampak, serta lumpur dan batu yang terbawa aliran. Namun untuk memahami mengapa bencana itu terjadi, pandangan harus diarahkan jauh ke atas—ke lereng atas Gunung Talang dan hulu Batang Laso.
Read more: Dari Lereng Talang ke Arosuka: Membaca Jejak Galodo dari Udara
Ada fenomena yang semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sosial kontemporer kini: tanda masih hadir, tetapi maknanya semakin sering tidak bekerja. Aturan tetap tertulis, larangan tetap dipasang, sumpah jabatan tetap diucapkan, gelar akademik tetap disandang, kode etik tetap disusun, dan berbagai slogan tentang integritas terus dikumandangkan. Akan tetapi, perilaku yang berlangsung tidak jarang justru bertentangan dengan semua tanda tersebut.
Read more: Fenomena Matinya Tanda: Ketika Roda Empat Jadi Roda Dua, Roda Dua Jadi Roda Empat
Selama beberapa dekade, kata virus hampir selalu identik dengan ancaman. Pandemi COVID-19 semakin menguatkan persepsi bahwa virus adalah musuh yang harus dihindari. Namun, ilmu pengetahuan terus menunjukkan bahwa dunia mikroorganisme jauh lebih kompleks daripada yang kita bayangkan. Tidak semua virus membawa malapetaka. Di balik kelompok virus yang menyebabkan penyakit pada manusia, hewan, atau tumbuhan, terdapat kelompok virus lain yang justru berpotensi memberikan manfaat besar. Salah satunya adalah mycovirus, yaitu virus yang menginfeksi jamur.
Kebijakan efisiensi Transfer ke Daerah (TKD) oleh Pemerintah Pusat merupakan tantangan berat yang harus dihadapi oleh seluruh Pemerintah Daerah (Pemda) di Indonesia. Kebijakan ini memaksa daerah untuk keluar dari zona nyaman, dimana sejak pelaksanaan otonomi daerah postur APBD mayoritas daerah sangat bergantung pada kucuran dana pusat, mulai dari Dana Alokasi Umum (DAU) hingga Dana Alokasi Khusus (DAK). Ketika keran dana pusat ini diperketat, pertanyaannya adalah: bagaimana daerah dapat terus menggerakkan roda pembangunan tanpa harus mengorbankan kesejahteraan masyarakat?