Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang tahun 2026 masih menjadi ancaman lingkungan di enam provinsi prioritas, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan (Gambar 1). Berdasarkan data Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan, hingga 14 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB terdeteksi sebanyak 294 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi, terbanyak di Kalimantan Tengah (130 titik), Sumatera Selatan (91 titik), dan Kalimantan Barat (59 titik).
Read more: Ketika Tanah Ikut Terbakar: Mengungkap Kerusakan Pasca-Karhutla
Cabai merupakan tanaman konsumsi harian masyarakat Indonesia. Di Sumatera Barat, cabai diolah menjadi berbagai hidangan, mulai dari rendang, gulai, dendeng balado, sambal lado, hingga beragam masakan rumah tangga dan makanan di rumah makan Padang yang menjadi pembentuk karakter kuliner di Minangkabau.
Read more: Virus Tanaman Cabai sebagai Alternatif Indikator Pencemaran Air
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan persoalan lingkungan yang berulang di Indonesia. Selain merusak vegetasi dan tanah, kebakaran menghasilkan aerosol yang dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer dari sumbernya. Kabut asap yang terbentuk tidak hanya mengganggu kesehatan dan transportasi, tetapi juga mengubah kondisi atmosfer yang menentukan ketersediaan cahaya matahari bagi tanaman.
Read more: Membaca Ancaman Kabut Asap terhadap Pertanian dari Satelit
Indonesia memiliki persoalan yang menarik sekaligus menantang. Kita memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, tetapi tidak selalu mampu mengubah keunggulan produksi menjadi keunggulan industri dan kesejahteraan masyarakat.
Read more: Dari Gambir untuk Indonesia: Membangun Ekonomi Bangsa melalui Kolaborasi Lintas Sektor
Banjir kembali melanda sejumlah kawasan Kota Padang pada 10 Oktober 2026. Perumahan Lumin Park di Lubuk Minturun dan Kampung Guo di Kecamatan Kuranji menjadi dua lokasi terdampak. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ancaman banjir di Padang bukan hanya persoalan hujan lebat, tetapi juga berkaitan dengan kondisi pegunungan, jaringan sungai, karakteristik tanah, dan dinamika sedimen.
Read more: Banjir Berulang di Padang: Ketika Air dan Sedimen dari Pegunungan Mencapai Permukiman