“Di tengah gempuran perdagangan digital dan kemudahan belanja dari layar gawai, toko ritel fisik sebenarnya masih memegang satu senjata rahasia yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh dunia maya: pengalaman sensorik langsung”.
Read more: Harmoni Sensorik: Seni Menyapa Lima Indra di Ruang Ritel
Pernahkah Anda menulis keluhan di media sosial setelah membeli barang yang rusak atau pelayanan yang mengecewakan? Awalnya marah. Lalu setelah semua ditumpahkan; produknya buruk, petugasnya lambat, dan perusahaan seolah-olah tidak peduli; konsumen lainpun ikut menyahut tanda setuju. Ada yang mengalami nasib serupa. Ada pula yang menawarkan jalan keluar.
Hari ini, 1 Oktober adalah Hari Lansia Internasional (International Day of Older Persons). Sekilas, peringatan ini mungkin terasa seperti sebuah seremoni tahunan, ada ucapan selamat, seminar kesehatan, pemeriksaan gratis, atau kegiatan sosial bersama para lanjut usia. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, Hari Lansia sesungguhnya bukan hanya tentang mereka yang sudah tua. Hari Lansia menajdi pengingat bagi kita semua tentang masa depan diri sendiri.
Read more: Memaknai Hari Lansia untuk Persiapan Kesehatan Masa Depan
Coba ingat, kapan terakhir kali kamu buka TikTok cuma untuk cari hiburan, tapi yang muncul justru video politisi joget diiringi sound lagi viral, atau konten “a day in my life” yang terasa dekat dan personal? Kalau pernah, kamu tidak sendirian. For You Page generasi muda hari ini pelan-pelan berubah jadi salah satu ruang kampanye politik paling efektif, meski jarang terasa seperti kampanye.
Read more: Politik 15 Detik: Ketika Algoritma Mengubah Gen Z dan Alpha Jadi Target, Bukan Pemilih
Bagi Anda pencinta rendang dan ayam pop, kalimat "Bila Anda puas beritahu teman, bila tidak puas beritahu kami" pasti sudah tidak asing lagi. Slogan yang kerap terpampang di dinding Rumah Makan Padang ini sering kali dianggap sebagai pemanis ruangan belaka. Namun, jika dibedah menggunakan kacamata bisnis modern, sebaris kalimat tersebut sebenarnya adalah strategi pemasaran tingkat tinggi yang menggabungkan dua teori besar, yaitu Word of Mouth (getok tular) dan Service Recovery (pemulihan layanan). Bagaimana sebuah warung tradisional bisa menerapkan konsep manajemen yang biasa diajarkan di program Magister Bisnis ini dengan begitu apik?
Read more: Pelajaran Marketing dari Dinding Rumah Makan Padang