Ketika berbicara tentang peningkatan populasi ternak, perhatian publik biasanya tertuju pada ketersediaan indukan, kualitas pejantan, inseminasi buatan, pakan, dan manajemen pemeliharaan. Semua aspek tersebut memang penting. Namun, ada satu sumber daya biologis yang selama ini jarang dibicarakan, bahkan sering luput dari perhatian: ovarium sapi betina yang dipotong di rumah potong hewan atau RPH.
Read more: Potensi Limbah Ovarium RPH bagi Masa Depan Peternakan Indonesia
Sebuah insiden salah paham di salah satu restoran Padang paling ikonik di Jakarta beberapa waktu lalu memicu gelombang reaksi yang jauh melampaui urusan tagihan meja makan. Rumah Makan Pagi Sore cabang Pantai Indah Kapuk (PIK) menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf resmi setelah salah menuduh rombongan turis asal Malaysia belum membayar tagihan makan sebesar Rp 907.500 pada Rabu (13/5). Ramai disoroti perseteruan antara turis Malaysia dengan restoran Pagi Sore cabang PIK ini diawali dari tuduhan tak bayar makan oleh pihak manajemen rumah makan.
Read more: Gegara Tagihan Pagi Sore: Ketika Narasi ‘Serumpun’ Runtuh oleh Stereotip Kuno
Pemerintah Daerah Kabupaten Padang Pariaman baru saja menggelar Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) Serentak pada tanggal 27 Juni tahun 2026. Sebanyak 73 dari 103 nagari ikut ambil bagian. Di tengah riuh rendah kontestasi itu ada fenomena menarik untuk dibaca lebih dalam, yaitu respons pemilih terhadap kandidat yang berasal dari kalangan pemilik saluak (datuak), pemilik sorban (alim ulama) dan bundo kanduang (perempuan) ?
"Papan hasil lelang karet di Sembawa, Sumatera Selatan, menunjukkan harga penawaran tertinggi mencapai Rp21.289 per kilogram pada awal Juni 2026. Kenaikan harga yang terjadi sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik Timur Tengah mengingatkan pada pola siklus komoditas yang pernah dijelaskan dalam Benner Cycle. Bagi petani karet Indonesia, momentum ini dapat menjadi peluang emas untuk meningkatkan pendapatan dan memperkuat daya saing sektor perkebunan rakyat."
Read more: Benner Cycle, Konflik Timur Tengah, dan Peluang Emas Petani Karet
Coba ingat kembali: kapan terakhir kali Anda menyaksikan sebuah unggahan membelah linimasa menjadi dua kubu yang saling serang? Mungkin kemarin. Mungkin beberapa jam lalu. Polanya selalu terasa familiar, sebuah video beredar, judul yang provokatif, dan dalam dua jam kolom komentar sudah penuh sesak. Sebagian besar bukan berisi pertanyaan, melainkan vonis. Belum ada klarifikasi, belum ada investigasi, tetapi ribuan orang sudah menentukan siapa penjahatnya. Yang menarik bukan hanya betapa cepatnya ini terjadi, tapi juga betapa wajarnya semua ini terasa. Tidak ada yang merasa sedang melakukan sesuatu yang salah. Semua orang merasa sedang berada di sisi yang benar.