Padang (UNAND) – Upaya memperkuat kolaborasi pendidikan tinggi antara Indonesia dan Malaysia kembali menguat melalui kunjungan delegasi pendidikan Malaysia yang berlangsung di Takana Rumah Makan Padang, Sabtu (2/5). Kegiatan ini dihadiri perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia, Education Malaysia Global Services (EMGS), serta 14 universitas Malaysia, bersama pimpinan perguruan tinggi di Kota Padang.

Perwakilan EMGS, Megat Muhammad Samsul bersama robongan, menegaskan bahwa Indonesia merupakan mitra strategis bagi Malaysia dalam pengembangan pendidikan tinggi. Ia menyebutkan, lebih dari 100 ribu alumni Indonesia telah menempuh pendidikan di Malaysia, mencerminkan kuatnya hubungan kedua negara di sektor ini.

EMGS sendiri merupakan lembaga di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia yang berperan sebagai jembatan kerja sama antara universitas Malaysia dengan institusi luar negeri. Selain itu, EMGS juga diberi mandat oleh kabinet untuk mengelola dan mempercepat proses visa pelajar internasional, yang dapat diselesaikan dalam waktu 2 hingga 5 hari kerja.

“Dari sekitar 400 universitas di Malaysia, hanya lebih dari 300 yang diizinkan menerima mahasiswa internasional, setelah melalui proses seleksi ketat terkait fasilitas dan kualitas program,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa Malaysia tidak menjadikan peringkat sebagai indikator utama, melainkan lebih pada kualitas dan perkembangan mahasiswa. “Kami tidak ingin MoU hanya banyak di atas kertas, tetapi implementasinya minim. Yang terpenting adalah dampak nyata dari kerja sama,” tambahnya.

Saat ini, jumlah mahasiswa internasional di Malaysia mencapai sekitar 160 ribu orang, dengan mahasiswa asal China sebagai yang terbanyak. Berbagai program seperti short course, pelatihan, hingga skema co-funding juga terus dikembangkan untuk memperluas akses pendidikan lintas negara.

Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Padang, Fadly Amran, menyampaikan komitmennya untuk mendorong generasi muda Kota Padang menempuh pendidikan di luar negeri melalui program beasiswa. Menurutnya, kualitas mahasiswa Padang telah mampu bersaing di perguruan tinggi terbaik dalam negeri, sehingga perlu diperluas ke level global.

“Kami ingin membuka peluang lebih besar bagi anak-anak terbaik Kota Padang untuk berkuliah di luar negeri, termasuk melalui skema double degree dan co-funding,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya mekanisme seleksi dan kuota yang jelas agar program ini berjalan akuntabel, terutama dalam penggunaan anggaran pemerintah daerah.

Senada dengan itu, Rektor Efa Yonnedi, Ph.D., menyampaikan bahwa UNAND telah memiliki hampir 30 kerja sama dengan universitas dan industri di Malaysia. Bentuk kolaborasi tersebut meliputi riset bersama, visiting professor, hingga kerja sama fakultas, termasuk dengan University of Malaya pada bidang kedokteran.

“Kerja sama yang sudah terjalin ini tentu bisa kita tingkatkan lagi, tidak hanya antaruniversitas, tetapi juga melibatkan pemerintah daerah dan mitra internasional sebagai showcase penguatan pendidikan tinggi,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya penguatan poros ASEAN dalam internasionalisasi pendidikan. Menurutnya, kedekatan geografis menjadi peluang besar untuk mendorong mobilitas mahasiswa yang lebih intens di kawasan.

Beberapa skema yang didorong antara lain joint degree, double degree, credit earning selama satu semester hingga satu tahun, program internship, serta Kuliah Kerja Nyata (KKN) internasional. “Program-program ini sebenarnya sudah berjalan, tinggal bagaimana kita memperkuat implementasi dan meningkatkan kualitasnya,” tambahnya.

Melalui pertemuan ini, diharapkan kolaborasi antara UNAND, pemerintah daerah, dan institusi pendidikan Malaysia dapat semakin erat, sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak peluang pendidikan internasional bagi mahasiswa, khususnya di Sumatera Barat.(*)

Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik