Padang (UNAND) – Keterbatasan fasilitas laboratorium masih menjadi tantangan dalam pembelajaran biologi di banyak sekolah menengah di Indonesia. Kondisi ini menyebabkan kegiatan praktikum yang seharusnya menjadi bagian penting dalam pembelajaran sains belum dapat dilaksanakan secara optimal, terutama di sekolah-sekolah yang berada di luar pusat kota.

Sebagai upaya mendukung pembelajaran biologi yang lebih aplikatif, Dosen Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Andalas, Dr. Rita Maliza, bersama Dr. M. Idris, menyusun buku panduan praktikum berjudul Biologi dan Bioteknologi Dasar: Dari Mikroskop hingga DNA.

Buku tersebut dirancang sebagai panduan praktikum yang dapat langsung digunakan oleh guru dan siswa di tingkat SMA. Berbeda dengan buku teks yang berfokus pada teori, buku ini menyajikan modul-modul praktikum yang disusun secara sistematis dan dapat diterapkan sesuai dengan kondisi fasilitas yang dimiliki sekolah.

Materi yang disajikan mencakup pengenalan alat laboratorium dasar, penggunaan mikroskop, pengamatan anatomi hewan, kultur jaringan tumbuhan sederhana, produksi microgreens melalui pengaturan cahaya, hingga praktikum isolasi DNA menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Rita Maliza menjelaskan bahwa buku tersebut disusun dengan pendekatan yang menekankan pengalaman belajar secara langsung. Menurutnya, pembelajaran biologi tidak cukup hanya dilakukan melalui hafalan konsep, tetapi perlu dilengkapi dengan kegiatan observasi dan eksperimen agar siswa dapat memahami proses ilmiah secara lebih utuh.

"Kami ingin menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas bukan berarti praktikum tidak dapat dilakukan. Banyak kegiatan praktikum dasar yang dapat disederhanakan menggunakan alat dan bahan yang mudah diperoleh, sehingga siswa tetap memiliki kesempatan untuk belajar melalui pengalaman langsung," ujarnya pada Sabtu (1/8).

Salah satu contoh yang ditampilkan dalam buku ini adalah praktikum isolasi DNA menggunakan buah stroberi, sabun pencuci piring, garam dapur, dan alkohol dingin. Melalui percobaan sederhana tersebut, siswa dapat mengamati endapan serabut putih yang mengandung DNA, sehingga konsep yang selama ini hanya dipelajari melalui buku dapat dipahami secara nyata.

Selain itu, buku ini juga memperkenalkan teknik kultur jaringan tumbuhan dalam bentuk yang lebih sederhana untuk keperluan pembelajaran. Praktikum tersebut dapat dilakukan menggunakan kotak kerja aseptik berbahan plastik transparan serta media yang memanfaatkan bahan-bahan yang relatif mudah diperoleh, seperti air kelapa dan sumber vitamin.

Setiap modul dalam buku dilengkapi dengan tujuan pembelajaran, daftar alat dan bahan, langkah kerja yang sistematis, serta pertanyaan diskusi. Penyusunan tersebut diharapkan dapat memudahkan guru dalam melaksanakan praktikum tanpa harus menyusun modul pembelajaran dari awal.

Menurut Rita, pengalaman melakukan praktikum memiliki peran penting dalam menumbuhkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap sains. Pengalaman mengamati sel melalui mikroskop atau melihat hasil isolasi DNA secara langsung dinilai lebih membekas dibandingkan sekadar mempelajari konsep melalui buku pelajaran.

Melalui penerbitan buku ini, tim penulis berharap semakin banyak sekolah dapat melaksanakan pembelajaran biologi berbasis praktikum meskipun dengan fasilitas yang terbatas. Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya pengalaman belajar yang lebih bermakna sekaligus meningkatkan minat generasi muda terhadap ilmu pengetahuan.(*)

Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik