Ketahanan pangan sering dibahas lewat dua kata kunci: produksi dan distribusi. Namun ada fondasi yang kerap luput dari percakapan publik, yaitu reproduksi ternak. Ketika inovasi laboratorium menghasilkan sperma berkualitas, kandanglah yang menentukan apakah kualitas itu benar-benar berubah menjadi kebuntingan dan kelahiran, dua output yang pada akhirnya menentukan pasokan pangan.
Kebutuhan protein hewani di Indonesia cenderung meningkat seiring pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi, dan meningkatnya tuntutan gizi masyarakat. Namun, peningkatan kebutuhan ini tidak selalu diikuti kemampuan produksi domestik yang memadai dan stabil, terutama pada komoditas tertentu. Dampaknya sederhana tapi nyata: pasokan mudah berfluktuasi, harga mudah bergejolak, dan akses masyarakat terhadap protein hewani menjadi tidak merata. Karena itu, penguatan produksi domestik tetap relevan bukan hanya untuk menambah output, tetapi juga untuk menjaga keterjangkauan harga, kestabilan pasokan, dan ketahanan pangan berbasis protein hewani.
Dalam konteks ini, Program Makan Bergizi Gratis memperkuat alasan mengapa perbaikan dari sisi hulu peternakan harus dipercepat. Program gizi berskala nasional membuat kebutuhan pangan bergizi menjadi lebih terencana dan konsisten, termasuk sumber protein hewani seperti telur, susu, dan daging. Ketika permintaan harus dipenuhi secara rutin, tantangannya bukan hanya “ada atau tidak”, tetapi pasokan yang berkelanjutan, dan itu sangat ditentukan oleh performa produksi di hulu.
Di sinilah letak masalah yang sering tidak disadari: meningkatkan produksi bukan sekadar “menambah jumlah ternak” secara cepat. Pada ruminansia, pertumbuhan populasi berjalan lambat karena sifat biologisnya, masa bunting panjang, interval beranak bisa melebar, dan keberhasilan kebuntingan sangat dipengaruhi pakan, kesehatan, dan manajemen. Dengan kata lain, reproduksi adalah mesin pertumbuhan populasi. Jika mesin ini tidak efisien, target produksi akan sulit dikejar meski program penambahan populasi terus dilakukan.
Karena itu, teknologi reproduksi perlu dilihat sebagai strategi inti, bukan pelengkap. Inseminasi buatan (IB), evaluasi kualitas sperma, penyimpanan sperma melalui pendinginan/pembekuan, serta seleksi genetik adalah contoh teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas dan mempercepat perbaikan genetik. Namun, keberhasilan teknologi reproduksi tidak ditentukan oleh satu sisi saja. Inovasi di laboratorium memastikan sperma dan prosedur evaluasi maupun penyimpanan tetap berkualitas. Sementara itu, disiplin di kandang, deteksi birahi, ketepatan waktu IB, manajemen pakan, kesehatan, serta pencatatan, menentukan apakah kualitas tersebut benar-benar berubah menjadi kebuntingan dan kelahiran. Ketika salah satu sisi lemah, hasil akhirnya tetap rendah.
Banyak kegagalan reproduksi di lapangan terjadi bukan karena teknologinya salah, tetapi karena pelaksanaannya belum konsisten: deteksi birahi kurang tepat, waktu inseminasi meleset, penanganan sperma tidak sesuai prosedur, atau induk berada dalam kondisi nutrisi dan kesehatan yang tidak optimal. Pada kondisi seperti ini, masa tanpa kebuntingan menjadi panjang, kebuntingan tertunda, dan produktivitas menurun. Akhirnya, populasi sulit tumbuh dan produksi stagnan.
Berbicara tentang sperma dan keberhasilan inseminasi buatan, kita juga tidak bisa melepasnya dari peran Balai Inseminasi Buatan sebagai penyedia input reproduksi yang terstandar. Di hulu, lembaga ini berperan menjaga mutu: seleksi pejantan, produksi sperma, evaluasi kualitas, hingga penyimpanan dan distribusi. Balai inseminasi buatan berada di simpul hulu–hilir: memastikan mutu sperma di tingkat produksi sekaligus menjembatani distribusinya sampai ke layanan di lapangan. Namun, sperma bermutu hanya akan berdampak jika kualitasnya terjaga sampai titik pelayanan dan diikuti manajemen lapang yang disiplin. Karena itu, penguatan balai inseminasi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas petugas, rantai dingin yang konsisten, dan pendampingan reproduksi di tingkat peternak.
Di luar aspek teknis, reproduksi ternak juga sangat dipengaruhi faktor lingkungan dan manajemen. Stres panas, fluktuasi kualitas pakan, penyakit subklinis, dan manajemen kandang yang tidak konsisten dapat menurunkan performa reproduksi. Karena itu, peningkatan produksi harus dipandang sebagai sistem: teknologi reproduksi berjalan berdampingan dengan perbaikan pakan, kesehatan, dan manajemen kandang, termasuk aspek konsistensi mutu dan keamanan pangan, terutama ketika output-nya menjadi bagian dari program gizi berskala nasional.
Sinergi yang Dibutuhkan: Kampus, Pemerintah, dan Peternak
Perbaikan reproduksi ternak tidak akan optimal jika berjalan sendiri-sendiri. Ia membutuhkan sinergi yang jelas antara universitas, pemerintah, dan masyarakat/peternak.
Universitas, termasuk Universitas Andalas, memastikan ilmu dan inovasi dapat diterapkan melalui SOP yang sederhana, pelatihan bagi mahasiswa dan tenaga pendamping, serta pendampingan evaluasi program berbasis data. Pemerintah memastikan ekosistem terbentuk dan konsisten melalui layanan reproduksi yang merata, dukungan rantai dingin, penguatan kesehatan hewan, serta kebijakan pakan dan pendanaan yang berpihak pada produktivitas. Peternak menjadi kunci di hilir melalui manajemen kandang yang disiplin, pencatatan sederhana, dan partisipasi aktif dalam pendampingan. Ketika tiga pihak ini bergerak bersama, teknologi tidak berhenti sebagai program, tetapi berubah menjadi peningkatan kebuntingan, kelahiran, dan produktivitas yang nyata.
Langkahnya tidak harus rumit; yang dibutuhkan adalah konsistensi dan penguatan ekosistem.
Pertama, fokus pada efisiensi reproduksi sebagai “quick wins”: pelatihan deteksi birahi, ketepatan waktu inseminasi, pemeriksaan kebuntingan lebih dini, penanganan gangguan reproduksi secara terstruktur, serta pencatatan reproduksi yang rapi.
Kedua, perkuat kualitas input dan layanan reproduksi: sperma bermutu, prosedur penanganan yang benar, tenaga terlatih, standardisasi layanan, dan rantai dingin yang konsisten.
Ketiga, bangun ekosistem reproduksi berbasis data. Tanpa data, pengambilan keputusan menjadi tebakan. Dengan data, intervensi lebih tepat, evaluasi lebih objektif, dan penggunaan anggaran lebih akuntabel.
Ketahanan pangan tidak lahir dari satu kebijakan tunggal. Ia dibangun dari ratusan keputusan kecil yang konsisten, di kandang, di laboratorium, dan di ruang kelas. Karena itu, membicarakan reproduksi ternak sejatinya bukan isu “khusus akademisi”, melainkan isu publik: tentang keberlanjutan produksi, kesejahteraan peternak, dan ketersediaan pangan yang layak bagi masyarakat. Dan ketika program gizi nasional mendorong kebutuhan pangan bergizi dalam skala besar, penguatan hulu peternakan bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan.
Jika kita ingin ketahanan pangan yang kuat, maka kita perlu berani melihat fondasinya. Dan salah satu fondasi paling menentukan adalah reproduksi ternak yang sehat, efisien, dan terkelola secara ilmiah, dengan kerja bersama universitas, pemerintah, dan masyarakat. Saat universitas, pemerintah, dan peternak bergerak dalam satu irama, target gizi dan ketahanan pangan akan lebih realistis dicapai, bukan hanya di dokumen, tetapi di meja makan keluarga.
Penulis: Ananda, S.Si., M.Si. (Dosen dan Peneliti di Fakultas Peternakan Universitas Andalas)

