Bengaluru – Minggu lalu udara di Bengaluru, India, terasa hangat, namun diskusi di dalam ruangan Taj Yeshwantpur jauh lebih hangat. Penulis hadir di sana bersama delegasi dari berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Latin, Eropa, hingga Afrika, untuk satu tujuan yang sama: merebut kembali kendali atas ilmu pengetahuan. Penulis diundang sebagai dosen di Universitas Andalas dan juga sebagai Managing Editor di DOAJ.
Dalam ajang 3rd Global Summit on Diamond Open Access (2-6 Februari 2026) tersebut, satu kenyataan pahit terungkap jelas: sistem publikasi ilmiah global sedang tidak baik-baik saja. Selama puluhan tahun, akademisi terjebak dalam dua pilihan sulit. Pilihan pertama, mempublikasikan riset di balik tembok berbayar (paywall) yang membuat ilmu hanya bisa dibaca oleh kampus-kampus kaya. Pilihan kedua, membuka akses bacaan (Open Access) namun dengan membebankan biaya selangit kepada penulis (Article Processing Charges atau APC) yang angkanya bisa mencapai puluhan juta rupiah per artikel.
Di Bengaluru, semua delegasi membicarakan jalan ketiga: Diamond Open Access. Sebuah model di mana pembaca tidak membayar untuk membaca, dan penulis tidak membayar untuk menulis. Ini bukan utopia. Ini adalah gerakan global untuk menjadikan sains sebagai “barang” publik (public good), bukan komoditas dagang. Gerakan ini merupakan turunan dari amanat UNESCO terkait Open Science. Perwakilan UNESCO juga hadir pada acara. Bersama-sama dengan delegasi lainnya, UNESCO menyampaikan apa saja yang sudah dikerjakan di seluruh bagian dunia terkait dengan diamond open-access.
Bukan Sekadar "Gratis", Tapi "Berdaulat"
Banyak yang salah kaprah mengira Diamond Open Access hanya soal "jurnal gratisan". Padahal, esensinya jauh lebih dalam. Ini adalah tentang kedaulatan infrastruktur. Dalam sesi-sesi pleno, delegasi dari Meksiko menegaskan bahwa akses terhadap sains adalah hak asasi manusia yang dijamin konstitusi. Delegasi Prancis memaparkan bagaimana negara mengalihkan anggaran langganan jurnal komersial untuk membiayai server publik. Pesannya jelas: jika infrastruktur publikasi dimiliki oleh komunitas (universitas, asosiasi profesi), kita tidak perlu tunduk pada aturan main korporasi global yang mengejar profit.
Definisi standar dan karakteristik utama dari Diamond Open Access (Diamond OA) dapat dirangkum sebagai berikut: Pertama, Bebas Biaya (Tanpa APC). Karakteristik paling mendasar dari Diamond OA adalah tidak adanya biaya, baik untuk pembaca maupun penulis. Model ini digambarkan sebagai "bebas biaya untuk penulis dan bebas untuk dibaca". Secara spesifik, model ini tidak membebankan Article Processing Charges (APC) kepada penulis. Hal ini membedakannya dari model Gold OA yang sering kali masih membebankan biaya publikasi yang tinggi.
Kedua, Kepemilikan dan Tata Kelola Komunitas Diamond OA didefinisikan sebagai penerbitan yang dipimpin oleh komunitas (community-led publishing). Model ini umumnya dimiliki dan dikelola oleh institusi akademik, universitas, atau masyarakat ilmiah, bukan oleh penerbit komersial. Infrastruktur ini sering disebut sebagai infrastruktur "non-komersial" yang dikendalikan oleh institusi akademik untuk menjaga kedaulatan ilmiah (scientific sovereignty).
Ketiga, Enam Kriteria Operasional Sumber dari European Diamond Capacity Hub (EDCH) merinci definisi ini ke dalam enam kriteria operasional agar sebuah jurnal dapat dikategorikan sebagai Diamond OA; CO (Community Owned): Dimiliki oleh komunitas; OA (Open Access): Akses terbuka dengan lisensi terbuka. SJ (Scholarly Journal): Merupakan jurnal ilmiah. NF (No Fees): Tidak ada biaya (tanpa APC); PID (Persistent Identification): Menggunakan pengenal persisten (seperti DOI); AA (Open to All Authors): Terbuka untuk semua penulis.
Keempat, Pengetahuan sebagai Barang Publik Diamond OA dipandang sebagai komitmen terhadap penciptaan pengetahuan yang setara dan partisipatif, di mana pengetahuan diperlakukan sebagai barang publik (public good). Model ini juga menekankan pada kesetaraan (equity) dan bibliodiversity (keragaman bibliografi), termasuk dukungan terhadap multilingualisme (penggunaan berbagai bahasa). Secara ringkas, Diamond Open Access adalah model penerbitan ilmiah yang bebas biaya (tanpa APC), non-komersial, dan dimiliki serta dikelola oleh komunitas akademik demi kepentingan publik.
Dilema Bidang Teknik: Antara Kecepatan dan Kualitas
Sebagai seorang akademisi di Fakultas Teknik Universitas Andalas, penulis mendapat kehormatan berbicara pada dua buah sesi, sesi pertama adalah Thematic Track C yang membahas masa depan publikasi di bidang Engineering & Physical Sciences.
Tantangan di bidang teknik unik. Teknologi bergerak secepat kilat. Jika kita menunggu proses peer review tradisional yang memakan waktu berbulan-bulan, sebuah riset tentang AI atau material maju mungkin sudah usang saat terbit. Namun, jika kita asal menerbitkan tanpa saringan, kualitas sains akan hancur. Di forum tersebut, penulis menawarkan dua solusi; Pertama, Adopsi Model "Overlay Journal": Kita tidak perlu lagi mempertentangkan "kecepatan preprint" dengan "kualitas jurnal". Solusinya adalah menggabungkan keduanya. Peneliti teknik sebaiknya mengunggah draf awal di repositori terbuka (seperti arXiv atau Zenodo) agar ilmu segera tersebar. Kemudian, jurnal Diamond berperan sebagai lapisan sertifikasi (certification layer) yang melakukan peer review atas naskah tersebut tanpa perlu lagi mengurusi hosting yang mahal. Ini hemat biaya dan cepat.
Kedua, Micropublications untuk Era AI: Di era Artificial Intelligence, menulis narasi berlembar-lembar sering kali tidak efisien. Penulis mendorong pengakuan terhadap Micropublications, publikasi unit kecil seperti dataset terverifikasi atau satu set kode program, sebagai output ilmiah yang sah. Ini mencegah "kelelahan data" dan membiarkan inovasi dikutip secara formal lebih cepat.
Infrastruktur yang Terlupakan: Manusia
Namun, teknologi secanggih apa pun akan runtuh jika pondasinya rapuh. Dalam sesi Workshop 6, penulis menyampaikan otokritik, yang di rangkum dari pengalaman memakai "dua topi": sebagai Ketua Pusat Pengembangan Jurnal dan Seminar di Universitas Andalas, dan sebagai Managing Editor di DOAJ (Directory of Open Access Journals).
Ancaman terbesar bagi keberlanjutan jurnal di Indonesia bukanlah kurangnya server atau software OJS, melainkan kelelahan pengelola (editor burnout) dan kesenjangan kompetensi (skills gap). Di Universitas Andalas, dan di ribuan kampus lain di Indonesia, jurnal Diamond Open Access sering kali dijalankan oleh dosen yang sudah terbebani tugas tridarma atau dibantu oleh mahasiswa paruh waktu. Situasi ini menciptakan kerentanan yang fatal: masalah regenerasi. Ketika seorang mahasiswa yang sudah terampil mengelola jurnal lulus, atau dosen yang berdedikasi mendapatkan promosi jabatan struktural, "memori institusional" jurnal tersebut sering kali ikut pergi meninggalkan ruangan bersama mereka. Banyak jurnal di Indonesia "mati suri" bukan karena universitas berhenti menyediakan server, tetapi karena "otaknya" pergi dan tidak ada yang siap menggantikannya.
Kita harus berhenti memperlakukan pengelolaan jurnal sekadar sebagai tugas administratif tambahan. Di PPJS Universitas Andalas, paradigma ini mulai dirubah dengan menjadikan pengelolaan jurnal sebagai sebuah "kurikulum". Kami menjalankan pelatihan, mulai dari etika publikasi hingga manajemen metadata, untuk menciptakan regenerasi editor junior yang siap menggantikan seniornya. Memandu komponen yang perlu diperkuat dalam memenuhi syarat pengindeks dan peringkat akreditasi jurnal. Masyarakat ilmiah harus berfungsi layaknya sebuah Sekolah; “jika Anda tidak memiliki rencana suksesi, Anda tidak memiliki jurnal yang berkelanjutan”.
Banyak jurnal yang gagal menembus indeksasi internasional bukan karena mutu artikelnya buruk, tapi karena masalah teknis yang "tak terlihat": lisensi hak cipta yang bertabrakan, metadata yang berantakan, atau tautan preservasi digital yang mati. Ini bukan masalah uang; ini masalah kompetensi. Kenyataan pahit lain adalah "sukarelawan bukanlah sebuah strategi". Kita memiliki komunitas pengelola jurnal seperti Relawan Jurnal Indonesia (RJI), namun kita tidak bisa membangun infrastruktur pengetahuan global hanya dengan bermodalkan niat baik dan secangkir kopi gratis. Manusia memiliki keluarga, karir, dan tagihan yang harus dibayar. Jika pekerjaan berat seorang editor Diamond OA terus-menerus tidak terlihat dan tidak dihargai, mereka akan berhenti.
Ini adalah pelajaran penting bagi masyarakat ilmiah global: Anda harus berfungsi sebagai Serikat (Union). Kita perlu menyampaikan kepada universitas dan pemerintah untuk mengakui bahwa "Editor Jurnal" adalah sebuah profesi profesional, bukan sekadar hobi di waktu luang. Jika kita menghargai usaha manusianya, maka manusianya akan bertahan. Dari sudut pandang DOAJ, hampir setiap hari, penulis melihat aplikasi jurnal dari Asia Tenggara, dan sering kali terasa berat ketika harus menolak aplikasi sebuah jurnal. Penulis menolak mereka karena kurangnya kompetensi teknis.
Ini bukan masalah kekurangan dana; ini adalah kesenjangan keterampilan (skills gap). Banyak institusi sibuk membeli alat (tools) canggih tetapi lupa melatih arsiteknya. Anggaran masyarakat ilmiah sebaiknya tidak hanya habis untuk biaya sewa server, tetapi harus dialokasikan untuk hibah pelatihan. Kirim editor untuk belajar tentang etika COPE (Committee on Publication Ethics) atau memahami lisensi Creative Commons.
Oleh karena itu, penulis menyerukan agar Asosiasi Ilmiah (Scholarly Societies) di Indonesia mengubah fungsinya. Asosiasi tidak boleh hanya menjadi "EO – Event Organizer". Asosiasi perlu bertransformasi menjadi: Pertama, Sekolah: Dana asosiasi perlu dialokasikan untuk hibah pelatihan (training grants). Editor disekolahkan tentang etika publikasi (COPE) dan standar metadata global. Kedua, Serikat (Union): Mengadvokasi agar pekerjaan mengelola jurnal diakui sebagai kinerja profesional yang dihargai angka kreditnya, bukan sekadar kerja sukarela di waktu sisa. Ketiga, Mentor, memecah isolasi para editor tunggal yang sering kali bekerja sendirian di prodi masing-masing.
Sebuah Langkah Konkret: Daftar Kurasi
Kritik tanpa solusi hanyalah keluhan. Untuk membuktikan bahwa publikasi berkualitas tanpa biaya itu ada, penulis telah menyusun sebuah daftar kurasi. Daftar ini berisi jurnal-jurnal bidang teknik yang terindeks DOAJ dan menerapkan model Diamond (Tanpa APC).
Penulis mengundang rekan-rekan dosen dan mahasiswa untuk memanfaatkannya. Jangan biarkan kendala biaya menghalangi diseminasi ide brilian Anda. Daftar tersebut dapat diakses publik di sini: https://ikhwan-arief.github.io/doa_journals/diamond_oa_engineering.html.
Perjalanan di Bengaluru ditutup dengan sebuah kabar dengan tanggung jawab besar. Forum secara aklamasi memutuskan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah 4th Global Summit on Diamond
Open Access pada Tahun 2027.
Dunia melihat Indonesia. Dengan ribuan jurnal yang dikelola komunitas, kita adalah raksasa Open Access. Penunjukan ini adalah momentum emas bagi Universitas Andalas dan seluruh perguruan tinggi di tanah air untuk berbenah. Tahun 2027 nanti, kita tidak boleh lagi hanya menjadi konsumen atau penonton dalam ekosistem sains global. Kita harus siap memimpin, menunjukkan pada dunia bahwa pengetahuan bisa, dan seharusnya, menjadi milik semua umat manusia.
Penulis: Ikhwan Arief, MSc (Dosen Fakultas Teknik Universitas Andalas & Managing Editor DOAJ)

