Setiap harinya, manusia mengonsumsi beragam sumber pangan untuk bertahan hidup, bahkan sekadar memenuhi tuntutan gaya hidup modern. Di meja makan, batas antara produk pertanian segar dan pangan olahan sering kali kabur. Namun, di balik ketersediaan pangan yang melimpah, tersimpan sebuah ironi besar yang menjadi tantangan nyata bagi bangsa ini yaitu mengapa petani kita, sang garda terdepan kedaulatan pangan, justru tetap terjerat dalam lingkaran kemiskinan?
Data yang dirilis oleh Badan Pangan Nasional memproyeksikan konsumsi beras nasional pada tahun 2025 sebesar 31,19 juta ton. Angka ini secara teoritis telah tertutupi oleh over-produksi nasional yang mencapai 34,71 juta ton. Terdapat surplus sebesar 3,52 juta ton. Namun, angka-angka statistik yang menggembirakan di atas kertas ini berbanding terbalik dengan realitas di pematang sawah. Kelebihan produksi tidak serta-merta mengerek kesejahteraan petani. Ada mata rantai yang terputus antara angka kecukupan pangan nasional dan isi dompet mereka yang menanamnya.
Labirin Panjang Rantai Pasok penyebab Margin yang Hilang di Jalan
Mari kita lihat sebuah fenomena yang sangat sederhana, harga segelas kopi di kedai modern atau warkop kekinian berkisar antara Rp30.000 hingga ratusan ribu rupiah. Padahal, segelas minuman tersebut hanya menghabiskan beberapa gram biji kopi. Demikian pula dengan cabai, meski harganya sempat meroket hingga setara dengan harga daging sapi per kilogram, kesejahteraan petani cabai tidak lantas naik secara signifikan. Mengapa? Jawabannya terletak pada "Rantai Pasok" (Supply Chain) yang terlampau panjang dan tidak efisien.
Produk pertanian melewati jalur yang berliku sebelum sampai di atas meja makan konsumen. Setiap titik singgah dalam rantai ini,mulai dari tengkulak tingkat desa, pengumpul besar, distributor, hingga pengecer mengambil margin keuntungan. Sialnya, porsi keuntungan terkecil justru sering kali jatuh ke tangan petani, sementara risiko kegagalan terbesar berada di pundak mereka.
Panjangnya rantai pasok tidak hanya menggerus keuntungan petani, tetapi juga menurunkan kualitas produk. Komoditas pertanian, terutama hortikultura seperti sayur-mayur, memiliki sifat perishable atau mudah rusak. Setiap jam yang terbuang dalam transportasi yang tidak memadai (tanpa sistem cold chain atau rantai dingin) akan memicu penurunan kualitas akibat perubahan atmosfer penyimpanan. Bayangkan seikat bayam yang harus menempuh perjalanan panjang tanpa peralatan pendukung. Ketika sampai di supermarket, mungkin sudah kehilangan kesegarannya, sehingga jatuh ke segmentasi pasar kelas bawah dengan harga yang jauh lebih murah. Di sinilah desain ulang sistem logistik menjadi harga mati. Semakin sederhana jalur distribusi, semakin cepat produk sampai ke tangan konsumen dengan kualitas yang terjaga.
Ketimpangan Informasi dan Tantangan Agronomis
Masalah kedua adalah asimetri informasi. Petani kita umumnya memiliki akses yang sangat rendah terhadap informasi kebutuhan pasar secara real-time maupun prediksi permintaan di masa depan. Mereka sering kali menanam apa yang tetangga mereka tanam, yang berujung pada panen raya serentak dan jatuhnya harga pasar.
Kondisi ini diperparah lagi oleh pergeseran iklim global. Pemanasan global bukan lagi isu lingkungan semata, melainkan ancaman agronomis yang nyata. Perubahan pola hujan dan suhu ekstrem mengubah pola tanam konvensional yang selama ini menjadi pegangan petani. Tanpa bimbingan teknologi dan data, petani bertaruh dengan alam yang kini kian sulit diprediksi.
Bioteknologi Modern Sebagai Senjata Peningkatan Kualitas
Di sinilah peran akademisi dan teknologi harus masuk lebih dalam. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan metode tradisional jika ingin bersaing di pasar global. Bioteknologi modern menawarkan solusi yang cukup ideal melalui pengembangan varietas benih yang tidak hanya tahan hama, tetapi juga adaptif terhadap perubahan iklim. Banyak metode rekayasa dan editing genome tanaman yang sudah established dapat diterapkan, namun membutuhkan biaya investasi yang relatif besar.
Bayangkan saja jika kita mampu memperpanjang masa simpan tomat atau bayam dari 3 hari menjadi 7 hari bahkan lebih tanpa pendinginan ekstrem, maka posisi tawar petani meningkat drastis. Mereka tidak lagi terburu-buru menjual hasil panen dengan harga "asalkan laku" kepada tengkulak karena takut barang membusuk di gudang. Sebagai contoh tomat Flavr Savr yang merupakan produk transgenik yang memang telah dipasarkan pada Mei 1994 di pasar Amerika Serikat yang memiliki umur simpan yang panjang. Inilah yang memberikan kesempatan kedaulatan waktu bagi petani.
Transformasi Digital guna Mendesain Pasar Online Produk Pertanian
Selain bioteknologi pada bagian hulu produksi, kita memerlukan revolusi digital di hilir. Pemanfaatan e-commerce dalam skala pemasaran produk pertanian adalah kunci untuk memotong rantai pasok yang gemuk dan panjang. Namun, desain pasar online pertanian tidak bisa disamakan dengan berjualan pakaian atau barang elektronik yang memang prakteknya lima tahun kebelakang memang sangat masif. Kesiapan konsumen untuk berbelanja produk segar secara daring menuntut sistem logistik yang presisi.
Kita memerlukan platform yang mampu menghubungkan kelompok tani secara langsung dengan konsumen akhir atau industri pengolahan. Dengan platform ini, petani bisa mendapatkan harga yang lebih adil, sementara konsumen mendapatkan produk yang lebih segar dengan harga yang kompetitif karena hilangnya biaya-biaya perantara yang tidak perlu. Dilemanya, mungkin saja system ini akan mematikan beberapa lapangan kerja akibat peringkasan rantai pasok. Seperti halnya pada kasus tiktok shop beberapa tahun belakangan yang memang penjual dan pembeli berinteraksi tanpa batas sehingga mengganggu sistem pasar konvensional.
Arsitektur Sistem Informasi sebagai desain Algoritma di Atas Lahan
Beralih ke sektor tengah dan hilir, masalah utama rantai pasok adalah kurangnya informasi mengenai data pertanian. Selama ini, petani menanam berdasarkan intuisi atau tren musim lalu. Di sinilah peran Sistem Informasi Pertanian terintegrasi. Kita perlu membangun platform yang mengadopsi Big Data Analytics and Machine Learning serta Business Intelligence untuk memprediksi fluktuasi harga di pasar induk. Sehingga semuanya terpetakan dengan sangat baik.
Bayangkan jika seandainya ada sebuah aplikasi yang mampu memberikan notifikasi kepada petani di Padang: "Jangan menanam cabai musim ini, karena prediksi panen raya di Jawa Tengah akan membanjiri pasar dalam 60 hari ke depan. Disarankan beralih ke bawang merah". Selain itu, desain pasar online pertanian harus mencakup sistem traceability (ketertelusuran) berbasis rantai pasok. Dengan rantai pasok, setiap karpet telur atau karung beras memiliki identitas digital yang mencatat asal lahan, tanggal panen, hingga penggunaan pupuk. Konsumen perkotaan saat ini sangat peduli pada aspek kesehatan dan etika produksi. Produk yang memiliki Sejarah digital yang jelas dapat dijual dengan harga premium. Ini adalah cara sistem informasi memberikan nilai tambah yang nyata bagi pendapatan petani, sekaligus memangkas peran spekulan yang sering mempermainkan informasi harga. Hal yang utama dalam pendesainan ini ialah terintegrasinya semua data yang berkaitan dengan pertanian.
Integrasi Logistik Pintar sebagai Jembatan Digital-Fisik
Sistem informasi tidak akan berguna jika tidak dibarengi dengan logistik fisik yang cerdas. Kita harus mendorong model Smart Warehouse di tingkat kecamatan yang dikelola oleh koperasi atau BUMDes. Gudang ini harus terhubung secara real-time ke platform e-commerce. Ketika petani memasukkan data hasil panen ke system dan konsumen mencari kebutuhan produk pertanian, algoritma akan langsung mencarikan konsumen terdekat (restoran, hotel, atau konsorsium rumah tangga) untuk meminimalkan jejak karbon dan biaya angkut.
Pendekatan ini mengubah paradigma distribusi dari "mendorong produk ke pasar" menjadi "menarik produk berdasarkan permintaan". Dengan skema Just in Time yang diadopsi dari industri manufaktur, kehilangan hasil panen yang selama ini mencapai 30-40% di Indonesia bisa ditekan hingga di bawah 10% saja.
Menembus Dinding Pola Pikir dari Buruh Tani Menjadi Agropreneur
Pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya, mulai dari subsidi pupuk hingga pengerahan tenaga penyuluh pertanian lapangan (PPL). Perguruan tinggi pun rutin melakukan pengabdian masyarakat untuk mengedukasi kelompok tani. Namun, mengapa hasilnya belum maksimal?
Mungkin masalahnya ada pada pola pikir atau mindset. Sebagian besar petani kita masih terjebak dalam pola pikir instan, yaitu berfokus hanya pada penjualan hasil panen secepat mungkin tanpa memikirkan nilai tambah guna peningkatan nilai jual atau strategi pemasaran. Mereka melihat diri mereka sebagai buruh di tanah sendiri, bukan sebagai pengusaha pertanian atau agropreneur.
Mengubah pola pikir ini memerlukan pendekatan sistemis. Petani perlu diberikan literasi keuangan dan teknologi informasi agar mampu memanfaatkan fasilitas yang ada. Pendidikan tinggi pertanian, seperti yang kami lakukan di Universitas Andalas, khususnya Fakultas Pertanian terus berusaha menyuntikkan kebaruan informasi yang relevan agar kelompok tani tidak tertinggal oleh zaman.
Sinergi Menuju Kesejahteraan
Menghapus kemiskinan petani bukan hanya tugas satu pihak. Ini adalah kerja kolaboratif antara pemerintah dalam penyediaan infrastruktur, akademisi dalam pengembangan bioteknologi dan sistem informasi, serta petani itu sendiri dalam mengadopsi pola pikir modern.
Surplus 3,52 juta ton beras seharusnya menjadi modal kekuatan, bukan sekadar angka di atas kertas. Dengan memperpendek rantai pasok melalui digitalisasi dan meningkatkan kualitas hasil tani melalui bioteknologi, kita bisa memastikan bahwa setiap bulir peluh petani terbayar dengan harga yang layak. Sudah saatnya petani kita tidak hanya "memberi makan" bangsa, tetapi juga mampu "memberi makan" keluarganya dengan layak.
Penulis: Muhammad Fadli, Ph.D dan Rahmatika Pratama Santi, M.T. (Dosen Departemen Agronomi dan Dosen Departemen Sistem Informasi UNAND)

