Sebanyak 125 event terkurasi dari 38 provinsi digelar sepanjang 2026 melalui Karisma Event Nusantara (KEN), naik dari 110 event yang dikurasi Kementerian Pariwisata pada 2025. Seperti dilaporkan Antara dan Liputan6.com, dari 110 event tahun lalu, 98 di antaranya benar-benar terlaksana sepanjang tahun, menarik 10,8 juta pengunjung, melibatkan 15.400 pelaku UMKM, dan menyumbang perputaran ekonomi Rp17,01 triliun, seperti dikutip dari Bisnis.com dan RRI.co.id.
Tujuan utama KEN sesungguhnya jelas: menjadikan event daerah sebagai daya tarik yang mendatangkan wisatawan dari luar daerah, bukan sekadar keramaian musiman. Namun, dari seluruh angka besar itu, satu hal jarang muncul dalam laporan capaian, yaitu berapa dari jutaan pengunjung tersebut yang benar-benar wisatawan dari luar daerah, dan berapa yang sekadar warga setempat yang datang menonton acara di kotanya sendiri.
Perbedaan ini penting karena tujuan sebuah event pariwisata bukan hanya membuat kota ramai, melainkan mendatangkan orang yang sebelumnya tidak berencana datang, membuat mereka menginap, berbelanja, dan kembali lagi tahun berikutnya. Riset saya tentang pengelolaan event di salah satu kota wisata di Sumatera Barat menemukan pola yang mungkin juga terjadi di banyak daerah lain, yaitu mayoritas pengunjung event tahunan tetap berasal dari masyarakat setempat, sementara komposisi pengunjung dari luar daerah nyaris tidak pernah diukur maupun dievaluasi secara terbuka setelah acara selesai. Selama data semacam ini tidak dikumpulkan secara sengaja, klaim keberhasilan sebuah event sebagai daya tarik wisata sesungguhnya sulit dipertanggungjawabkan.
Pola pelaporan yang sama terlihat pada capaian KEN tahun berjalan. Hingga 30 Juni 2026, dari 125 event yang direncanakan, baru 39 yang terlaksana dan 28 di antaranya selesai dikaji dampaknya. Seperti dikutip dari Bisnis.com dan Kilas Sulawesi, hasil kajian itu disampaikan dalam bentuk 2,46 juta pengunjung, lebih dari 7.200 pelaku UMKM, dan perputaran ekonomi Rp196,97 miliar. Sekali lagi, seluruh pengunjung dihitung sebagai satu angka gabungan, tanpa membedakan wisatawan nusantara dari luar daerah, wisatawan mancanegara, dan warga lokal yang datang dari lingkungan sekitar lokasi acara.
Yogyakarta menjadi contoh yang lebih terang benderang soal kesenjangan antara keramaian dan keberhasilan menarik wisatawan. Seperti dikutip dari Kompas.com, total kunjungan ke Kota Yogyakarta pada 2025 mencapai 11 juta orang, tetapi wisatawan mancanegara hanya menyumbang 314 ribu di antaranya, dan rata-rata lama tinggal wisatawan tercatat 1,77 hari, masih di bawah target minimal dua hari yang ditetapkan pemerintah kota. Padahal, kota ini menyelenggarakan lebih dari 1.000 event setiap tahun. Pemerintah Kota Yogyakarta sendiri, seperti dikutip dari sumber yang sama, mengakui bahwa dari ribuan event tersebut, belum semuanya memiliki kualitas dan dampak yang optimal. Sebagai respons, Pemkot kini menata ulang penyelenggaraan event melalui orkestrasi lintas dinas, dengan menyiapkan sekitar 150 event wisata terpilih sepanjang 2026, alih-alih terus menumpuk jumlah acara tanpa arah yang jelas.
Contoh Yogyakarta menunjukkan bahwa jumlah event yang banyak dan pengunjung yang ramai tidak otomatis berarti kota tersebut berhasil menarik wisatawan baru. Jika sebagian besar pengunjung adalah warga kota itu sendiri atau wisatawan yang kebetulan sedang berada di sana, event tersebut lebih berfungsi sebagai hiburan warga daripada sebagai instrumen pariwisata yang mendatangkan kunjungan dan belanja baru dari luar.
Upaya serupa sedang berlangsung di Kota Padang. Sepanjang 2026, Dinas Pariwisata Kota Padang aktif mempromosikan sport tourism dan gastronomi sebagai jalur baru menarik wisatawan, mulai dari Blue Ocean Minang Run (BOM Run) 2026 yang melintasi Pantai Padang dan kawasan Kota Tua, Kahf Own the Way Run 2026, hingga Taste of Padang Experience dalam rangkaian Hari Jadi Kota Padang ke-357. Seperti dikutip dari Kongkrit.com, panitia BOM Run 2026 mencatat sekitar 1.900 tiket terjual, dengan mayoritas peserta berasal dari luar Kota Padang, bahkan luar Sumatera Barat. Data semacam ini justru menunjukkan arah yang tepat, karena penyelenggara mengetahui secara spesifik dari mana peserta berasal, bukan sekadar mengumumkan jumlah peserta secara keseluruhan seperti yang umum terjadi pada laporan event daerah lain.
Yang masih perlu dipastikan adalah apakah data asal peserta semacam itu terus dikumpulkan dan dievaluasi setelah setiap event Kota Padang selesai, atau berhenti sebagai catatan promosi menjelang acara. Program payung Jelajah Padang yang menaungi berbagai event ini punya peluang menjadi contoh yang lebih baik, jika Pemerintah Kota Padang konsisten memublikasikan berapa persen peserta atau pengunjung yang benar-benar wisatawan luar daerah pada setiap acara, lalu membandingkannya dari tahun ke tahun. Praktik semacam ini semestinya juga menjadi standar pada skala yang lebih besar, termasuk dalam laporan capaian Karisma Event Nusantara.
Persoalannya bukan karena pemerintah daerah tidak memiliki semangat menggelar acara. Banyak daerah justru sangat rajin mengadakan event. Masalahnya terletak pada cara keberhasilan event dipahami. Sebuah acara kerap dianggap berhasil ketika dapat dilaksanakan sesuai jadwal, anggaran terserap, dan laporan pertanggungjawaban selesai, bukan ketika benar-benar mendatangkan wisatawan baru dan membuat mereka ingin kembali.
Dalam pola seperti ini, perhatian panitia lebih banyak tersita untuk menentukan panggung, pengisi acara, sponsor, jadwal, dan kebutuhan teknis. Pertanyaan tentang siapa wisatawan yang ingin dijangkau, dari mana asal mereka, pengalaman apa yang mereka cari, dan alasan mereka untuk kembali pada tahun berikutnya sering ditempatkan di urutan terakhir, jika sempat dipikirkan sama sekali.
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, seperti dikutip dari Liputan6.com, menyebut city branding sebagai pekerjaan rumah pertama setiap kepala daerah, yang mencakup citra, cerita, dan cita-cita sebuah kota. Pernyataan itu tepat, tetapi pekerjaan rumah tersebut tidak selesai hanya dengan menambah jumlah festival atau menaikkan target jumlah event tahun berikutnya. City branding yang sesungguhnya berbicara tentang mengapa seorang wisatawan dari kota lain memilih datang ke daerah tertentu, bukan sekadar seberapa ramai sebuah acara di media sosial.
Tugas yang lebih sulit adalah membangun tata kelola event yang mampu memilah dan mendengar pengalaman wisatawan dari luar daerah secara spesifik, terpisah dari pengunjung lokal. Pemerintah daerah perlu berani menyatakan bahwa sebuah event belum berhasil menarik wisatawan sebagaimana yang diharapkan, alih-alih menutupinya dengan angka pengunjung total yang terlihat mengesankan di atas kertas.
Apabila 125 event dalam Karisma Event Nusantara 2026 ingin memberikan perubahan nyata bagi pariwisata daerah, ukuran keberhasilannya tidak boleh berhenti pada jumlah pengunjung dan perputaran uang selama festival berlangsung. Setiap event yang mengklaim diri sebagai daya tarik wisata perlu diawali dengan riset mengenai profil dan asal pengunjung yang ingin dijangkau, lalu dilanjutkan dengan evaluasi terbuka setelah acara selesai untuk mengetahui apakah wisatawan dari luar daerah benar-benar datang, dan apakah mereka punya alasan untuk kembali.
Tanpa proses itu, kota-kota di Indonesia mungkin akan semakin sering ramai, tetapi keramaian tersebut sebagian besar hanya perputaran warga di sekitar tempat acara sendiri. Event yang baik bukan hanya membuat sebuah kota ramai oleh warganya sendiri. Event yang baik membuat orang dari tempat lain merasa perlu datang, terhubung dengan kota tersebut, membawa pulang ceritanya, lalu memiliki alasan untuk kembali.
Penulis: Revi Marta (dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas)
