Dalam beberapa tahun terakhir, satu kata semakin sering terdengar dalam percakapan dosen di berbagai kampus di Indonesia, yaitu kata Scopus. Kata ini muncul di ruang dosen, seminar penelitian, hingga grup WhatsApp akademik. Bagi sebagian dosen, Scopus dipandang sebagai simbol prestise akademik. Bagi yang lain, ia terasa seperti beban administratif yang harus dikejar demi kenaikan jabatan.

Namun di balik popularitasnya, Scopus juga dikelilingi oleh berbagai kesalahpahaman. Tidak sedikit dosen yang memandang publikasi Scopus sebagai sesuatu yang mahal, sulit ditembus tanpa koneksi, bahkan mustahil tanpa “orang dalam”. Cara pandang seperti ini bukan hanya keliru, tetapi juga berpotensi menjerumuskan sebagian akademisi pada praktik yang tidak sehat dalam dunia publikasi ilmiah.

Pengalaman ini sangat terasa ketika saya memfasilitasi berbagai pelatihan penulisan artikel ilmiah dan mendampingi dosen menyiapkan manuskrip internasional. Dalam hampir setiap pelatihan, selalu muncul pertanyaan yang sama. “Kalau mau tembus Scopus, berapa biayanya?”

“Apakah harus punya koneksi dengan editor jurnal?”

Ada pula yang bertanya dengan nada setengah putus asa, “Jurnal mana yang cepat terbit dan APC-nya tidak terlalu mahal?” Bahkan tidak sedikit yang beranggapan bahwa jurnal berbayar pasti lebih mudah ditembus dibandingkan jurnal yang tidak mengenakan biaya publikasi. Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya mencerminkan satu hal: masih kuatnya mitos tentang publikasi Scopus di kalangan akademisi kita. Padahal faktanya jauh berbeda.

Scopus sendiri bukanlah jurnal, melainkan sebuah pangkalan data literatur ilmiah yang mengindeks ribuan jurnal akademik dari seluruh dunia. Basis data ini dikelola oleh Elsevier dan banyak digunakan secara global untuk memetakan publikasi ilmiah, kolaborasi penelitian, serta dampak sitasi berbagai disiplin ilmu. Saat ini Scopus mencakup lebih dari 28.000 jurnal aktif dari berbagai penerbit dan bidang ilmu.

Jarang disadari adalah bahwa sebagian besar jurnal Scopus tidak mengenakan biaya publikasi. Banyak dosen beranggapan bahwa publikasi Scopus selalu identik dengan article processing charge (APC) yang mahal. Faktanya, berbagai kajian tentang model penerbitan akademik menunjukkan bahwa sekitar 80 persen jurnal ilmiah masih menggunakan model tanpa biaya publikasi, sementara sekitar 20 persen menggunakan model open access berbayar. Artinya, publikasi internasional tidak selalu identik dengan biaya mahal.

Kesalahpahaman lain yang sering muncul adalah anggapan bahwa hanya dosen senior atau profesor yang dapat menembus jurnal internasional bereputasi. Dalam berbagai konferensi internasional, tidak jarang ditemukan artikel yang ditulis oleh mahasiswa sebagai penulis pertama. Selama penelitian yang dilakukan memiliki kontribusi ilmiah yang jelas dan ditulis secara sistematis, peluang publikasi tetap terbuka.

Mitos berikutnya berkaitan dengan lamanya proses review. Banyak dosen percaya bahwa proses review jurnal internasional selalu berlangsung sangat lama, bahkan bertahun-tahun. Kenyataannya, banyak jurnal bereputasi memiliki waktu review yang relatif wajar, sekitar tiga hingga enam bulan, terutama jika manuskrip yang dikirimkan sudah disiapkan dengan baik sejak awal. Masalah sebenarnya bukan terletak pada lamanya proses review, tetapi pada kualitas manuskrip yang dikirimkan. Artikel yang memiliki struktur yang jelas, metodologi yang kuat, dan kontribusi ilmiah yang relevan biasanya akan diproses lebih cepat dibandingkan manuskrip yang masih lemah secara konseptual.

Kesalahpahaman lain yang juga sering muncul adalah anggapan bahwa publikasi Scopus harus menggunakan bahasa Inggris setingkat penutur asli. Banyak dosen merasa minder karena merasa kemampuan bahasa Inggrisnya belum sempurna. Padahal yang dibutuhkan dalam artikel ilmiah bukanlah bahasa yang puitis, tetapi bahasa akademik yang jelas, logis, dan sistematis. Banyak penulis dari negara non-Inggris berhasil mempublikasikan artikelnya di jurnal internasional karena kekuatan argumentasi ilmiahnya, bukan karena kesempurnaan tata bahasa.

Di sisi lain, tekanan untuk mengejar publikasi internasional juga memunculkan fenomena yang perlu diwaspadai. Dalam literatur akademik global, tekanan tersebut dikenal dengan istilah publish or perish, yaitu kondisi ketika akademisi merasa harus terus mempublikasikan karya ilmiah untuk mempertahankan karier akademiknya. Tekanan semacam ini dapat mendorong sebagian peneliti mencari jalan pintas, termasuk mengirim artikel ke jurnal predator yang tidak menjalankan proses peer review secara benar.

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul pula fenomena lain yang cukup mengkhawatirkan, yaitu munculnya broker atau perantara publikasi ilmiah. Melalui berbagai platform digital, tidak jarang beredar tawaran jasa yang menjanjikan artikel dapat “tembus Scopus” dalam waktu singkat dengan biaya tertentu. Bahkan ada yang secara terang-terangan menawarkan layanan mulai dari penulisan artikel hingga jaminan penerimaan di jurnal tertentu. Praktik semacam ini bukan hanya menyesatkan, tetapi juga berpotensi merusak integritas akademik dan mengabaikan proses evaluasi ilmiah yang semestinya menjadi fondasi publikasi akademik.

Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi sangat penting. Kampus tidak cukup hanya menargetkan jumlah publikasi internasional, tetapi juga perlu membangun. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan penulisan akademik yang sistematis, pendampingan riset bagi dosen muda, serta penguatan kolaborasi penelitian lintas institusi dan lintas negara. Lingkungan akademik yang mendorong diskusi ilmiah, kritik konstruktif, dan integritas penelitian akan menciptaan ekosistem yang mendukung lahirnya penelitian berkualitas.

Pada akhirnya, publikasi Scopus bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti atau dimitoskan. Ia hanyalah salah satu pintu untuk membawa penelitian kita ke panggung ilmiah dunia. Yang dibutuhkan bukan koneksi, bukan jalan pintas, dan bukan biaya mahal. Yang dibutuhkan adalah penelitian yang jujur, gagasan ilmiah yang kuat, dan komitmen untuk menjaga integritas akademik. Jika cara pandang ini mulai tumbuh di kalangan dosen Indonesia, maka publikasi internasional tidak lagi menjadi beban administratif. Ia akan menjadi konsekuensi alami dari tradisi riset yang sehat dan bermakna. Dan ketika itu terjadi, pertanyaan yang sering terdengar di ruang dosen tidak lagi. “Berapa biaya publikasi Scopus?”. Melainkan berubah menjadi pertanyaan yang jauh lebih penting: “Pengetahuan baru apa yang telah kita sumbangkan kepada dunia melalui penelitian kita?”

Penulis: Dr. Ns. Rika Sarfika, S.Kep., M.Kep (Dosen Ilmu Keperawatan, Fakultas Keperawatan Universitas Andalas)