Padang (UNAND) – Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Andalas (UNAND), Prof. Ir. Mas Mera, M.T., Ph.D., menawarkan paradigma baru dalam pembangunan infrastruktur pelindung pantai yang menitikberatkan pada ketepatan pemilihan tipologi bangunan sesuai karakteristik bencana hidrometeorologi.
Prof. Mas Mera menegaskan bahwa kegagalan banyak bangunan pelindung pantai selama ini bukan semata-mata disebabkan oleh kualitas material atau kekuatan konstruksi, melainkan ketidaktepatan memilih tipe bangunan yang sesuai dengan karakteristik gelombang, arus, dan dinamika sedimen di lokasi.
"Bangunan yang kokoh belum tentu mampu melindungi wilayah pesisir jika tipologi yang digunakan tidak sesuai dengan mekanisme kerja alam," ungkapnya pada Senin (6/7).
Ia menjelaskan bahwa pendekatan yang tepat harus dimulai dengan memahami gaya dominan yang bekerja di suatu kawasan pantai, kemudian menentukan jenis bangunan pelindung yang paling sesuai agar mampu berfungsi secara optimal dalam mengurangi risiko abrasi maupun kerusakan akibat bencana hidrometeorologi.
Sebagai bukti penerapan konsep tersebut, Prof. Mas Mera memaparkan pengalaman rekayasa di Pantai Muaro Putuih, Kabupaten Agam. Melalui modifikasi bangunan groin konvensional menjadi T-Head Groin, struktur tersebut tidak lagi hanya berfungsi menangkap sedimen, tetapi juga mampu memecah gelombang sehingga terbentuk zona tenang yang memicu sedimentasi alami. Perubahan tersebut dinilai berhasil mengembalikan stabilitas pantai sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Pendekatan serupa juga diterapkan di kawasan Pantai Sasak, Pasaman Barat. Rekayasa penataan aliran Sungai Batang Ampu melalui pembangunan rubble mound dan pembentukan muara baru menghasilkan proses pendangkalan alami hanya dalam waktu sekitar empat bulan. Menurutnya, hasil tersebut menunjukkan bahwa rekayasa yang selaras dengan karakteristik alam dapat memulihkan fungsi kawasan pesisir secara lebih efektif.
Prof. Mas Mera turut membandingkan praktik pembangunan bangunan pelindung pantai di Vietnam dan Thailand. Pengalaman kedua negara tersebut menunjukkan bahwa ketepatan memilih tipologi bangunan sejak tahap perencanaan mampu menghasilkan perlindungan pantai yang lebih efektif dan berkelanjutan dibandingkan melakukan modifikasi setelah terjadi kerusakan.
Ia menawarkan tiga prinsip utama dalam pembangunan infrastruktur pelindung pantai, yakni identifikasi gaya dominan, kesesuaian tipologi bangunan, dan sinkronisasi kinerja struktur dengan karakteristik alam. Menurutnya, ketiga prinsip tersebut perlu menjadi dasar dalam setiap perencanaan infrastruktur pesisir agar mampu meningkatkan keselamatan masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan dan perekonomian kawasan pesisir. (*)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik
