Padang (UNAND) – Tim peneliti Universitas Andalas mengembangkan inovasi pangan fungsional berbasis kombinasi tepung kacang lima (Phaseolus lunatus) dan tepung ikan patin sebagai upaya mendukung pemulihan gangguan pertumbuhan tulang akibat kekurangan protein. Penelitian ini menjadi bagian dari Program Riset Kolaborasi Indonesia–EQUITY World Class University 2025–2026 yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Tim peneliti terdiri atas Rita Maliza, Ph.D. dari Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Andalas, dr. Tofrizal, M.Biomed., Sp.PA. Subsp. K.A.(K), Ph.D., bersama Dr. Dwi Hilda Putri dari Universitas Negeri Padang dan apt. Lalu Muhammad Irham dari Universitas Ahmad Dahlan.
Ketua tim peneliti, Rita Maliza, Ph.D., menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari tingginya perhatian terhadap dampak kekurangan protein yang berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi tersebut tidak hanya menghambat pertumbuhan tubuh, tetapi juga mengganggu pembentukan tulang dan perkembangan lempeng pertumbuhan yang berperan penting dalam proses pertumbuhan tinggi badan.
"Melalui penelitian ini, kami ingin mengeksplorasi potensi dua bahan pangan lokal, yaitu kacang lima dan ikan patin, sebagai pangan fungsional yang dapat membantu memperbaiki gangguan pertumbuhan akibat defisiensi protein. Kacang lima memiliki kandungan protein nabati dan berbagai senyawa bioaktif, sedangkan ikan patin merupakan sumber protein hewani berkualitas tinggi dengan asam amino esensial yang dibutuhkan untuk pertumbuhan," ujar Rita pada Senin (20/7).

Penelitian dilakukan menggunakan tikus Wistar jantan yang terlebih dahulu diberikan diet rendah protein untuk membentuk model gangguan pertumbuhan. Selanjutnya, hewan uji memperoleh intervensi berupa kombinasi tepung kacang lima dan tepung ikan patin selama empat minggu.
Berdasarkan hasil penelitian, kombinasi kedua bahan tersebut mampu memperbaiki sejumlah indikator pertumbuhan tulang yang sebelumnya mengalami gangguan akibat kekurangan protein. Perbaikan terlihat pada struktur lempeng pertumbuhan serta peningkatan ketebalan tulang dibandingkan kelompok yang tidak mendapatkan intervensi.
Meski demikian, Rita menegaskan bahwa hasil penelitian ini masih berada pada tahap praklinis sehingga belum dapat langsung diterapkan pada manusia.
"Temuan ini memberikan dasar ilmiah yang menjanjikan, namun masih diperlukan penelitian lanjutan, termasuk uji klinis pada manusia, untuk memastikan keamanan, efektivitas, serta dosis yang tepat sebelum dapat direkomendasikan sebagai bagian dari strategi penanganan gangguan pertumbuhan, termasuk yang berkaitan dengan stunting," jelasnya.
Menurut Rita, pemanfaatan bahan pangan lokal juga menjadi salah satu keunggulan penelitian ini. Selain memiliki nilai gizi yang tinggi, kacang lima dan ikan patin relatif mudah diperoleh di Indonesia sehingga berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan fungsional yang terjangkau dan berkelanjutan.
Penelitian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui pengembangan inovasi pangan berbasis sumber daya lokal untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui upaya pencegahan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan protein, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi riset antarpeneliti dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
This research is funded by the Indonesian Endowment Fund for Education (LPDP) on behalf of the Indonesian Ministry of Higher Education, Science and Technology and was managed under the EQUITY Program, Contract No. 4304/B3/DT.03.08/2025.(*)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik
