Pekanbaru (UNAND) – Universitas Andalas (UNAND) kembali memperkuat kolaborasi dengan dunia kerja melalui penyelenggaraan 3rd Employer Meeting yang digelar di Hotel Pangeran Pekanbaru, Jumat (24/7). Kegiatan ini dihadiri lebih dari 200 alumni UNAND dari berbagai sektor profesi, mulai dari industri, pemerintahan, kesehatan, pendidikan, jasa keuangan, dunia usaha, hingga organisasi profesi.
Forum tersebut menjadi wadah strategis untuk memperkuat hubungan antara perguruan tinggi, alumni, dan para pengguna lulusan (employer) dalam menghasilkan lulusan yang semakin adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja sekaligus mendorong lahirnya wirausahawan dan inovator yang mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah maupun nasional.
Rektor UNAND Efa Yonnedi, Ph. D menegaskan bahwa Employer Meeting merupakan sarana penting untuk menyelaraskan kurikulum, kompetensi lulusan, riset, dan inovasi dengan perkembangan industri serta kebutuhan masyarakat.
"Keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari peringkat akademik, tetapi juga dari kualitas lulusan yang mampu memperoleh pekerjaan, menciptakan lapangan kerja, serta menghadirkan manfaat nyata melalui riset dan inovasi," ujarnya.
Ia menyampaikan, sekitar 76 persen lulusan UNAND telah memperoleh pekerjaan dalam waktu kurang dari enam bulan setelah lulus, sebagai indikator meningkatnya daya saing lulusan di dunia kerja.
Ia menambahkan bahwa alumni memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara kampus dengan dunia profesional. Menurutnya, berbagai masukan dari alumni akan menjadi dasar penyusunan program nyata, seperti magang, rekrutmen lulusan, penelitian kolaboratif, pengembangan kurikulum, mentoring, hingga pemberian beasiswa.
Sementara itu, Ketua Program EQUITY, Dr. Eng. Muhammad Makky, S.T.P., M.Si., menjelaskan bahwa Employer Meeting merupakan bagian dari transformasi institusi agar jejaring alumni dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Dalam sesi diskusi, berbagai pemangku kepentingan, seperti APINDO, OJK, Universitas Riau, KADIN Riau, serta pelaku industri dan organisasi profesi memberikan sejumlah rekomendasi. Di antaranya peningkatan kemampuan bahasa Inggris, komunikasi, kepemimpinan, literasi digital, penguatan koordinasi alumni, pembaruan kurikulum, perluasan program magang, pengembangan riset bersama, hingga peluang beasiswa bagi mahasiswa asal Riau.
Melalui forum ini, UNAND menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kemitraan dengan alumni, pemerintah, dunia usaha, dan industri. Sinergi tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga menjadi pemimpin, inovator, serta pencipta lapangan kerja yang berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan di Sumatera Barat, Riau, dan Indonesia.(*)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik
