Padang (UNAND) – Penelitian yang dilakukan dosen Departemen Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Universitas Andalas (UNAND) Dr. Ir. Roni Pazla, S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng, mengungkap potensi dua komoditas lokal Indonesia, yakni gambir (Uncaria gambir) dan buah mangrove (Sonneratia alba), sebagai bahan aditif pakan alami yang mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan protein pada ternak ruminansia sekaligus menekan emisi gas metana.
Ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba mengandalkan mikroorganisme di dalam rumen untuk mencerna hijauan dan pakan berserat. Namun, proses fermentasi di dalam rumen kerap menyebabkan protein pakan terurai terlalu cepat menjadi amonia, sehingga sebagian nitrogen terbuang. Fermentasi juga menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap hilangnya energi pakan serta emisi gas rumah kaca.
Melalui uji laboratorium menggunakan cairan rumen (in vitro), penelitian ini mengevaluasi kombinasi ekstrak gambir dan buah mangrove sebagai sumber tanin alami. “Tanin diketahui mampu melindungi protein agar tidak cepat terdegradasi di rumen serta memengaruhi aktivitas mikroorganisme penghasil metana apabila diberikan pada dosis yang tepat,” ungkapnya pada Kamis (30/7).
Penelitian menguji sembilan kombinasi perlakuan dengan tiga tingkat ekstrak gambir (0%; 0,75%; dan 1,5%) serta tiga tingkat ekstrak buah mangrove (0%; 0,75%; dan 1,5%). Pakan dasar yang digunakan terdiri atas jerami padi amoniasi, Indigofera zollingeriana, jagung, dedak, ampas tahu, dan mineral.
Hasil penelitian menunjukkan kombinasi 0,75% ekstrak gambir dan 1,5% ekstrak buah mangrove memberikan respons terbaik. Perlakuan tersebut mampu menurunkan pembentukan amonia hingga 17,92 persen, meningkatkan kecernaan protein sekitar 6,88 persen, serta menekan produksi gas metana hingga 47,58 persen dibandingkan perlakuan tanpa penambahan ekstrak.
Menariknya, penurunan metana tidak mengganggu kondisi fermentasi di dalam rumen. Tingkat keasaman rumen tetap berada pada kisaran normal dan proses pencernaan berlangsung stabil, sehingga efisiensi pemanfaatan nutrien tetap terjaga.
Menurutnya, temuan ini menunjukkan bahwa sumber daya hayati lokal Indonesia memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai inovasi pakan ternak yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa hasil penelitian masih berada pada tahap laboratorium sehingga belum dapat langsung diterapkan di lapangan. Pengujian lebih lanjut pada ternak hidup diperlukan untuk memastikan efektivitas, keamanan penggunaan jangka panjang, serta dampaknya terhadap produktivitas ternak.
Penelitian ini menjadi landasan ilmiah penting dalam pengembangan pakan berbasis bahan lokal. Dengan kekayaan hayati yang dimiliki Indonesia, pemanfaatan gambir dan buah mangrove berpotensi mendukung kemandirian pakan nasional sekaligus menjadi salah satu strategi alami dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan.
This research is funded by the Indonesian Endowment Fund for Education (LPDP) on behalf of the Indonesian Ministry of Higher Education, Science, and Technology and managed under the EQUITY Program (Contract No. 4304/B3/DT.03.08/2025).(*)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik
