Padang (UNAND) – Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK UNAND) menggelar Sidang Terbuka dan Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke-71 di Convention Hall UNAND, Senin (7/9). Momentum ini menjadi ajang refleksi perjalanan institusi sekaligus memperkuat komitmen dalam menghadapi transformasi pendidikan serta pelayanan kesehatan berbasis teknologi, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Dekan FK UNAND, Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp. Onk (K), FACS, FFSTEd., menyampaikan bahwa peringatan ini merupakan saat yang tepat untuk mengenang jasa para pendahulu, mengevaluasi capaian saat ini, serta merumuskan arah pengembangan di masa depan.
“Perjalanan panjang ini dimulai sejak 1955, hingga akhirnya diresmikan secara resmi oleh Wakil Presiden RI Pertama, Drs. Mohammad Hatta, pada 7 September 1955,” ujar Dr. Sukri.
Ia menambahkan, berawal dari keterbatasan, FK UNAND kini telah bertransformasi menjadi pusat pendidikan kesehatan terkemuka yang berkontribusi nyata bagi Indonesia, bahkan terus memperluas jejaring hingga ke tingkat internasional.
Saat ini, fakultas tersebut mengampu pendidikan di 28 departemen dan 32 program studi (prodi) mencakup 4 program sarjana, 3 profesi, 16 spesialis, 3 subspesialis, 4 magister, dan 2 doktor. Pada 2025, dibuka Prodi Profesi Psikolog. Selain itu, sejumlah prodi baru tengah disiapkan, seperti Spesialis Anak, Spesialis Bedah Anak, Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa, Spesialis BTKP, serta Kedokteran Hewan.
Saat ini, FK UNAND menjadi tempat menimba ilmu bagi 4.135 mahasiswa aktif. Sepanjang 2025, tercatat 945 lulusan berhasil disumpah dan diwisuda dari berbagai jenjang. Hingga kini, institusi ini telah melahirkan sedikitnya 12.703 alumni yang berkiprah di dalam maupun luar negeri. Dr. Sukri pun mengapresiasi dukungan berkelanjutan dari Ikatan Alumni (IKA FK UNAND). Pada 2025 saja, melalui Badan Amil Zakat Alumni, disalurkan bantuan senilai Rp341,95 juta untuk UKT dan program orang tua asuh bagi mahasiswa yang membutuhkan.
Terkait pengembangan institusi, ia menyoroti pentingnya pemenuhan SDM dosen dan tenaga kependidikan, penguatan sarana-prasarana, hingga evaluasi kurikulum yang adaptif.
“Tujuannya adalah melahirkan lulusan yang kompeten, berintegritas, empati, komunikatif, mampu bekerja dalam tim, berbasis bukti (evidence-based), dan adaptif terhadap teknologi,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor UNAND, Dr. Efa Yonnedi, S.E., MPPM., Akt., mendorong fakultas kedokteran tertua di Sumatra ini untuk membidik target lebih tinggi. Posisi sebagai fakultas kedokteran terbaik ke-9 di Indonesia menurutnya harus dijadikan pijakan untuk melompat lebih jauh.
“Tantangan kita bukan lagi sekadar bertahan di posisi 9 besar. Pertanyaannya, apakah kita siap membawa FK UNAND menembus jajaran Big 5 di Indonesia?” tutur Rektor optimis.
Efa menekankan pentingnya FK UNAND menjadi pusat inovasi kesehatan nasional tanpa mencabut akar nilai kemanusiaan. Menurutnya, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia medis harus berbanding lurus dengan penguatan rasa empati.
“Kita harus mendidik tenaga kesehatan yang mahir memanfaatkan teknologi canggih, namun tetap peka mendengarkan dan memahami kecemasan pasien serta keluarganya,” imbuhnya.
Rangkaian peringatan Dies Natalis ke-71 ini juga diisi dengan Orasi Ilmiah oleh Dr. dr. Bobby Indra Utama, Sp.OG Subsp. Urogin, RE, FISOG., bertajuk “Masa Depan Penatalaksanaan Disfungsi Dasar Panggul: Integrasi Kedokteran Regeneratif, Kedokteran Presisi, dan Kecerdasan Buatan.” Dalam orasinya, ia menggarisbawahi bahwa kesehatan perempuan mencakup fisik, mental, dan sosial merupakan pondasi utama mewujudkan kesetaraan pelayanan kesehatan universal.
Tak hanya itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH., MMB. (atau Prof. Dr. dr. Ana Rizaliani, M.Biomed., Sp.P(K)), turut memberikan kuliah umum bertema “Transformasi Kedokteran di Era Artificial Intelligence: Menjaga Nalar, Merawat Nurani.”
Melalui perayaan Dies Natalis ke-71 ini, FK UNAND menegaskan tekadnya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pelayanan kesehatan modern yang sarat teknologi, tanpa sedikit pun mengesampingkan nurani dan empati kemanusiaan. (nic)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik.
