Coba ingat kembali: kapan terakhir kali Anda menyaksikan sebuah unggahan membelah linimasa menjadi dua kubu yang saling serang? Mungkin kemarin. Mungkin beberapa jam lalu. Polanya selalu terasa familiar, sebuah video beredar, judul yang provokatif, dan dalam dua jam kolom komentar sudah penuh sesak. Sebagian besar bukan berisi pertanyaan, melainkan vonis. Belum ada klarifikasi, belum ada investigasi, tetapi ribuan orang sudah menentukan siapa penjahatnya. Yang menarik bukan hanya betapa cepatnya ini terjadi, tapi juga betapa wajarnya semua ini terasa. Tidak ada yang merasa sedang melakukan sesuatu yang salah. Semua orang merasa sedang berada di sisi yang benar.

Berdasarkan riset yang saya lakukan di Sumatera Barat tentang kontroversi digital, identitas, dan respons publik, saya menemukan bahwa masalahnya bukan semata-mata teknologi. Ada sesuatu yang bekerja jauh di bawah permukaan: nilai-nilai kolektif yang membuat orang merasa sedang membela sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pendapat pribadi. Kita sering berpikir bahwa media sosial adalah ruang pertukaran informasi. Kenyataannya, hampir tidak ada perdebatan digital yang berhenti di level fakta. Yang diperdebatkan bukan hanya apa yang terjadi, melainkan siapa kita dan apa yang kita pertahankan.

Ambil contoh kasus Babiambo pada 2022-sebuah usaha kuliner di Jakarta yang pada saat isu beredar notabene sudah bangkrut- menjual rendang babi dan memicu gelombang kemarahan di media sosial. Secara logis, ini adalah soal pilihan konsumsi dan penamaan produk. Tetapi di mata ribuan komentator, penggunaan kata "rendang" dalam konteks tersebut dibaca sebagai serangan terhadap identitas Minangkabau - terhadap harga diri kolektif, terhadap batas kepantasan budaya yang selama ini dianggap tidak perlu dinegosiasikan. Pertanyaannya bukan lagi: apakah produk ini layak jual? Pertanyaannya menjadi: apakah Anda membela budaya kami atau tidak? Begitu pertanyaan bergeser ke sana, tidak ada lagi tempat bagi yang ragu-ragu. Diam pun dibaca sebagai sikap.

Bayangkan: pagi hari, Anda baru bangun dan membuka ponsel. Hal pertama yang Anda lihat adalah sebuah unggahan tentang konflik, dan komentar pertama yang terbaca berbunyi, "Ini keterlaluan, harus diproses hukum!" - diikuti ratusan komentar bernada serupa. Apakah Anda akan membaca unggahan itu dengan pikiran yang jernih? Hampir tidak mungkin. Ratusan suara yang marah menarik Anda ke dalam arus emosi yang sama sebelum Anda sempat menilai sendiri. Bukan karena Anda lemah. Bukan karena Anda mudah dimanipulasi. Tapi karena otak manusia memang bekerja seperti itu - kita membaca konteks sosial sebelum kita membaca fakta.

Ini bukan kelemahan karakter. Ini adalah emotional contagion - emosi yang tidak hanya tersebar, tapi menular. Ketika seseorang melihat ratusan komentar bernada marah, ia cenderung membaca peristiwa yang sama melalui lensa kemarahan itu. Penilaian moral terbentuk secara kolektif, jauh sebelum sempat terbentuk secara individual. Dan begitu emosi itu sudah terbentuk, sangat sulit untuk mundur karena mundur terasa seperti mengkhianati pihak yang sudah Anda bela.

Yang memperparah situasi adalah struktur media sosial itu sendiri. Kita tidak berinteraksi dengan semua orang secara setara, algoritma menampilkan konten dari akun yang sering kita engage, yang dalam banyak kasus adalah orang-orang dengan pandangan serupa. Di dalam gelembung ini, keyakinan tertentu terus diperkuat hingga tampak sebagai kebenaran universal yang tidak perlu dipertanyakan. Pendapat yang berbeda tidak hanya terasa salah, ia terasa asing, mengancam, mencurigakan. Ruang diskusi perlahan berubah menjadi ruang konfirmasi.

Akibatnya bisa serius. Dalam banyak kasus yang viral, penilaian publik terbentuk berjam-jam bahkan berhari-hari sebelum ada verifikasi resmi. Kita tahu bagaimana beberapa kasus berakhir: korban yang akhirnya terbukti tidak bersalah, tetapi reputasinya sudah hancur oleh pengadilan media sosial yang bergerak tanpa rem. Nama seseorang bisa menjadi tagar sebelum ia bahkan tahu bahwa ia sedang diadili. Komentar, unggahan ulang, dan tagar yang trending menciptakan tekanan yang luar biasa terhadap cara media meliput sebuah isu, terhadap keputusan pejabat, bahkan terhadap aparat penegak hukum. Dalam beberapa kasus, tekanan itu menghasilkan keadilan yang lebih cepat. Dalam kasus lain, ia menghasilkan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki.

Yang paling mengkhawatirkan bukan sekadar cepatnya orang marah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah sempitnya ruang untuk berpikir dan berdiskusi. Ketika ribuan orang sudah tiba pada kesimpulan yang sama, siapa pun yang mencoba mengajukan pertanyaan apakah kita yakin dengan faktanya?langsung dicurigai berpihak pada yang salah. Kehati-hatian dibaca sebagai pembelaan. Permintaan verifikasi dianggap ketiadaan nurani, netralitas menjadi bukan hanya sulit, tapi berbahaya untuk dijaga.

Tapi ada yang perlu dipahami sebelum kita terlalu cepat menghakimi mereka yang ikut dalam arus itu: orang yang bereaksi keras di media sosial, dalam banyak kasus, tidak sedang bertindak irasional. Mereka merasa sedang melakukan hal yang benar, melindungi nilai yang mereka anggap penting, menunjukkan solidaritas kepada komunitas yang mereka cintai, memperlihatkan bahwa mereka bukan bagian dari ketidakadilan yang sedang berlangsung. Kemarahan mereka, dalam banyak kasus, berakar pada sesuatu yang nyata. Yang jadi masalah bukan niatnya - melainkan lingkungan digitalnya sendiri: bergerak sangat cepat, menyederhanakan yang kompleks, dan memaksa semua orang untuk segera memilih pihak. Isu yang memiliki banyak lapisan - ekonomi, budaya, hukum, psikologi sosial diringkas menjadi pilihan biner: pro atau kontra?

Media sosial memberi kita kemampuan untuk berkomentar dalam hitungan detik. Tapi kecepatan merespons tidak pernah setara dengan kedalaman memahami. Kita bisa mengirim pendapat sebelum kita selesai membaca artikel. Kita bisa membagikan video sebelum kita tahu konteks lengkapnya. Dan begitu kita sudah melakukannya begitu kita sudah memasang bendera di satu sisi sangat sulit untuk mengakui bahwa gambarannya mungkin lebih rumit dari yang kita kira.

Setiap kali sebuah isu mulai viral, ada satu tindakan sederhana yang semakin langka: menunda penghakiman. Bukan karena semua pendapat sama benarnya. Bukan karena ketidakadilan tidak nyata. Tapi karena realitas sosial hampir selalu jauh lebih rumit dari apa yang bisa ditampilkan dalam video tiga puluh detik atau tangkapan layar percakapan yang hilang konteksnya. Menunda bukan berarti tidak peduli. Menunda berarti memberi diri sendiri kesempatan untuk benar-benar memahami sebelum memutuskan.

Dalam era di mana kemarahan kolektif bergerak lebih cepat dari fakta, kemampuan untuk mempertahankan ruang refleksi untuk tetap bertanya sebelum menyimpulkan, mungkin adalah salah satu keterampilan demokratis paling berharga yang kita miliki saat ini. Bukan karena refleksi selalu menghasilkan jawaban yang lebih baik. Tapi karena tanpa refleksi, kita tidak sedang berpikir kita hanya ikut bergerak bersama arus. Dan ironisnya, itu adalah keterampilan yang tidak pernah diajarkan oleh satu pun platform media sosial yang kita gunakan setiap hari.

Penulis: Yayuk Lestari (Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas)