Ketika galodo menerjang Arosuka, Kabupaten Solok, pada Senin malam, 21 September 2026, perhatian tentu tertuju pada kawasan hilir: jalan yang tertutup material, fasilitas pemerintah yang terdampak, serta lumpur dan batu yang terbawa aliran. Namun untuk memahami mengapa bencana itu terjadi, pandangan harus diarahkan jauh ke atas—ke lereng atas Gunung Talang dan hulu Batang Laso.

Hujan dengan intensitas tinggi mencapai 94 mm sehari telah mengguyur Kabupaten Solok sejak sore. Menurut laporan BPBD dan kepolisian, debit aliran kemudian meningkat dan longsoran terjadi di kawasan perbukitan sekitar hulu Batang Laso. Material longsoran selanjutnya terbawa menuju Arosuka dan mencapai Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok.

Rekaman vidio dari media sosial

Beberapa hari kemudian, rekaman drone dari kawasan hulu membuka bagian lain dari cerita tersebut. Di antara hutan yang masih tampak rapat terlihat dua jalur tanah terbuka berwarna merah kecokelatan. Salah satunya jauh lebih besar dan memanjang dari dekat punggungan ke arah bawah lereng. Di sebelahnya terdapat scar yang lebih sempit. Keduanya kemudian bertemu membentuk pola menyerupai huruf Y sebelum memasuki sebuah lembah sempit.

Bentuk Y ini penting. Ia menunjukkan bahwa material yang terlepas dari lereng tidak berhenti begitu saja di kaki longsoran. Scar tersebut mempunyai hubungan langsung dengan alur drainase. Tanah, batuan, pohon, dan bahan organik yang runtuh dapat segera memasuki saluran air dan selanjutnya bergerak menuju tempat yang lebih rendah.

Pada bagian video berikutnya, jejak berwarna cokelat kemerahan masih dapat diikuti sepanjang dasar lembah. Dengan demikian, lembah tidak hanya menjadi tempat mengalirnya air, tetapi juga koridor pengangkutan sedimen. Di sinilah longsor lereng dapat berkembang menjadi proses yang jauh lebih besar: longsoran menyediakan material, sedangkan air dan topografi lembah menyediakan media serta energi untuk membawanya ke hilir.

 

Gambar 1. Dua bekas longsoran pada lereng atas berhutan yang diduga menjadi salah satu sumber material galodo Arosuka. Kedua scar berkonvergensi membentuk pola menyerupai huruf Y dan langsung terhubung dengan lembah di bawahnya. Sumber: tangkapan layar video drone IB Hobbies, September 2026.

Citra Google Earth

Rekaman udara itu kemudian saya bandingkan dengan bentang alam Gunung Talang menggunakan Google Earth. Dari pencocokan awal morfologi, salah satu lokasi yang sesuai berada di sekitar 0°58′8,80″ LS dan 100°39′14,05″ BT.

Koordinat tersebut belum dapat disebut sebagai titik awal longsor yang telah terverifikasi. Untuk saat ini, posisinya lebih tepat diperlakukan sebagai kandidat kawasan sumber, karena penetapan titik yang pasti masih memerlukan pemeriksaan lapangan atau citra pascabencana beresolusi tinggi.

Namun yang lebih penting daripada koordinat tunggal tersebut adalah konfigurasi medan di sekitarnya. Tampilan Google Earth menunjukkan bentang alam yang teriris kuat oleh punggungan dan lembah. Alur-alur kecil dari bagian atas lereng berkonvergensi ke saluran yang semakin jelas ke arah bawah. Selanjutnya sistem lembah itu keluar dari relief pegunungan menuju kawasan yang lebih landai dan lebih intensif dimanfaatkan manusia. Pola topografinya konsisten dengan morfologi yang terlihat dalam video drone.

Gambar 2. Perspektif tiga dimensi Google Earth pada lereng Gunung Talang. Placemark pada sekitar 0°58′8,81″ LS dan 100°39′14,76″ BT menunjukkan kandidat kawasan sumber berdasarkan pencocokan awal morfologi dengan rekaman drone. Citra dasar Google Earth yang digunakan merupakan citra sebelum kejadian sehingga scar longsoran September 2026 belum terlihat.

Digital Elevation Model (DEM) G. Talang

Di sinilah Digital Elevation Model (DEM) memberi informasi yang tidak dapat diperoleh hanya dari video dan foto udara. DEM merepresentasikan ketinggian permukaan bumi secara digital. Dari data elevasi tersebut dapat diturunkan kemiringan lereng, arah aliran, akumulasi aliran, dan jaringan drainase. Dengan kata lain, DEM memungkinkan kita membaca bagaimana gravitasi dan relief mengarahkan perjalanan air serta material.

DEM Gunung Talang yang kami analisis mempunyai resolusi spasial sekitar 8 meter dan mencakup kawasan puncak Gunung Talang hingga Arosuka. Rentang elevasinya sekitar 148–2.585 meter di atas permukaan laut, memperlihatkan besarnya relief kawasan ini.

Analisis awal menunjukkan bahwa lereng Gunung Talang tersusun atas punggungan-punggungan curam yang dipisahkan oleh lembah sempit. Air dari lereng atas akan terkonsentrasi ke dalam lembah-lembah tersebut, lalu bergabung ke jaringan drainase yang lebih besar. Kondisi semacam ini menjadi sangat penting ketika suatu longsoran mempunyai koneksi langsung dengan saluran.

Berdasarkan interpretasi awal citra drone, Google Earth, dan topografi DEM, zona inisiasi longsoran diperkirakan berada pada lereng atas Gunung Talang, kemungkinan pada elevasi sekitar 2.000 m dpl. Elevasi pasti masih perlu dikonfirmasi melalui pencocokan posisi scar dengan DEM.

Jika material longsor jatuh pada lereng yang tidak terhubung dengan lembah, sebagian material mungkin berhenti setelah berpindah beberapa ratus meter. Situasinya berbeda apabila kaki longsoran langsung bermuara ke alur drainase. Material dapat bercampur dengan air hujan dan aliran permukaan, kemudian bergerak sebagai campuran air, tanah, pasir, batu, dan kayu melalui lembah yang curam. Sepanjang perjalanannya, erosi dasar dan tebing saluran juga dapat menambahkan material baru.  Volume material yang tiba di hilir tidak harus sama dengan volume longsoran awal di bagian hulu.

Gambar 3. Model elevasi digital kawasan Gunung Talang–Arosuka. Kandidat sumber longsoran berada pada lereng atas, kemudian terhubung dengan jaringan lembah menuju Batang Laso dan kawasan Arosuka. Peta DEM digunakan untuk menganalisis elevasi, kemiringan lereng, arah aliran dan konektivitas hulu–hilir.

Ada aspek lain yang menarik dari rekaman drone: scar besar tersebut berada di tengah kawasan yang secara visual masih berhutan rapat. Karena itu, menjelaskan galodo semata-mata sebagai akibat hilangnya hutan akan terlalu sederhana. Vegetasi memang berperan dalam stabilitas lereng dan tata air DAS, tetapi hanya salah satu bagian dari sistem yang lebih kompleks.

Gunung api seperti Talang dibangun oleh material vulkanik dari berbagai periode erupsi dan pelapukan. Abu, lapili, endapan piroklastik, serta material vulkanik lainnya dapat membentuk lapisan tanah dengan sifat fisik yang berbeda. Ketika hujan sangat intensif, air meresap ke dalam tanah. Bila terdapat lapisan yang lebih sulit meloloskan air, tekanan air pori dapat meningkat di atasnya. Massa tanah menjadi lebih berat sementara kekuatan gesernya menurun. Pada lereng yang cukup curam, kondisi tersebut dapat berakhir pada kegagalan lereng.

Akar tumbuhan memang memperkuat tanah dekat permukaan, tetapi keberadaan hutan tidak membuat lereng sepenuhnya kebal terhadap longsor. Oleh sebab itu, galodo Arosuka perlu dipahami melalui interaksi antara hujan, kemiringan lereng, material geologi-vulkanik, sifat tanah, kondisi hidrologi, konfigurasi lembah, dan penggunaan lahan dalam satu sistem DAS. Besarnya kontribusi masing-masing faktor belum dapat ditentukan tanpa analisis lanjutan.

Dari bukti yang tersedia sekarang, rangkaian proses yang layak diuji adalah:

”hujan intensif → kejenuhan material lereng → longsor pada lereng atas → material masuk ke alur drainase → bercampur dengan air → bergerak melalui lembah sempit → mengerosi dan mengangkut material tambahan → mencapai Batang Laso → keluar menuju bentang alam yang lebih landai di Arosuka”.

Rangkaian tersebut masih merupakan hipotesis geomorfologi berdasarkan interpretasi awal, bukan kesimpulan final tentang mekanisme galodo.

Satu kemungkinan lain juga belum dapat dipastikan: apakah material longsoran dan kayu sempat membendung saluran secara alami, menahan air dan sedimen untuk sementara, kemudian bendungan itu jebol. Mekanisme landslide dam–breach semacam ini dapat menghasilkan pelepasan air dan material secara mendadak. Namun rekaman yang tersedia belum cukup untuk menyatakan bahwa proses tersebut memang terjadi di Arosuka.

Rekaman Sentinel-2

Penginderaan jauh satelit digunakan untuk menelusuri kondisi kawasan sebelum dan sesudah galodo. Citra Sentinel-2 tanggal 15 Agustus 2026, sekitar lima minggu sebelum kejadian, memperlihatkan kondisi tutupan lahan pra-galodo di lereng Gunung Talang hingga kawasan Arosuka dan dapat digunakan sebagai citra referensi (baseline). Citra yang lebih dekat dengan kejadian, yaitu 19 September 2026, sebagian tertutup awan. Sementara itu, citra 24 September 2026, tiga hari setelah galodo, juga tertutup awan sehingga jejak longsoran dan perubahan koridor aliran pascabencana belum dapat dipetakan secara memadai. Kondisi ini membatasi analisis perubahan berbasis citra optik Sentinel-2, sehingga interpretasi sementara perlu memadukan citra pra-kejadian, DEM, Google Earth, dan rekaman drone pascabencana.

Keterbatasan ini lazim terjadi pada penginderaan jauh optik di wilayah tropis. Satelit dapat merekam lokasi pada waktu yang tepat, tetapi awan membuat permukaan bumi tidak terlihat. Dalam kasus Arosuka, keterbatasan Sentinel-2 sekaligus memperlihatkan mengapa berbagai sumber data perlu dipadukan: drone memperlihatkan detail scar dan jalur material, Google Earth memberi konteks bentang alam, sedangkan DEM menjelaskan relief serta konektivitas topografi dari hulu ke hilir.

Gambar 4. Kondisi kawasan Gunung Talang–Arosuka sebelum galodo berdasarkan citra Sentinel-2 tanggal 15 Agustus 2026. Citra ini digunakan sebagai kondisi referensi pra-kejadian untuk melihat tutupan lahan dan sistem lembah dari lereng Gunung Talang menuju Arosuka. Citra Sentinel-2 tanggal 24 September 2026 tertutup awan sehingga belum memungkinkan perbandingan optik pra–pascabencana secara memadai.

Galodo Arosuka akhirnya mengingatkan bahwa wilayah terdampak tidak selalu merupakan tempat proses bencana bermula. Jalan, jembatan, permukiman, dan perkantoran berada di hilir, sementara sumber sedimen dapat terletak beberapa kilometer di atasnya.

Untuk itu pemetaan bahaya seharusnya tidak berhenti pada batas wilayah yang pernah tergenang. Analisis juga perlu melihat lokasi lereng yang berpotensi gagal, hubungan longsoran dengan jaringan sungai, kemiringan jalur transportasi, bagian lembah yang menyempit, serta lokasi ketika aliran keluar dari pegunungan menuju daerah yang dihuni manusia.

Dalam geomorfologi, hubungan antara sumber material, jalur pengangkutan, dan tempat pengendapannya dikenal sebagai sediment connectivity. Rekaman hulu Gunung Talang memperlihatkan konsep itu dengan sangat nyata. Sebuah scar merah yang tampak terbatas di tengah hutan dapat mempunyai konsekuensi jauh di hilir ketika ia terhubung langsung dengan lembah curam dan jaringan sungai yang mengarah ke kawasan berpenduduk.