Bayangkan seorang siswa menghadapi soal matematika yang sulit. Sebelum membuka buku atau bertanya kepada gurunya, ia terlebih dahulu membuka ChatGPT. Dalam hitungan detik, jawaban muncul lengkap dengan langkah penyelesaian. Ketika mendapat tugas menulis esai, ia kembali meminta bantuan AI. Sebuah tulisan yang rapi pun tersedia, bahkan dapat diperbaiki sesuai instruksi.
Sekilas, inilah gambaran pendidikan yang semakin efisien. Siswa belajar lebih cepat, informasi semakin mudah diperoleh, dan pekerjaan yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam beberapa menit. Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar: ketika AI semakin pintar, apa yang sesungguhnya harus dipelajari siswa ?
Pertanyaan ini bukan sekadar urusan teknologi. Ini menyangkut masa depan pendidikan Indonesia. Jika mesin semakin mampu menjawab pertanyaan, apakah sekolah masih cukup mengajarkan siswa untuk menemukan jawaban? Atau justru kita perlu mengubah orientasi pendidikan agar siswa mampu mengajukan pertanyaan yang tepat, menilai kebenaran jawaban, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab ? Menurut saya, di sinilah tantangan pendidikan kita hari ini.
Ketika informasi melimpah, kemampuan berpikir menjadi semakin penting
Selama bertahun-tahun, pendidikan sering menempatkan penguasaan materi sebagai ukuran keberhasilan belajar. Siswa yang mampu mengingat banyak rumus, menghafal definisi, dan menjawab soal dengan benar dianggap telah menguasai pelajaran. Cara tersebut tentu memiliki manfaat. Pengetahuan dasar tetap penting. Tidak mungkin seseorang berpikir kritis tanpa memiliki pengetahuan yang memadai.
Namun, dunia telah berubah. Informasi tidak lagi sulit diperoleh. Mesin pencari dan generative AI memungkinkan siswa mendapatkan penjelasan tentang hampir semua topik dalam waktu singkat. Persoalannya bukan lagi semata-mata bagaimana memperoleh informasi, melainkan bagaimana menentukan apakah informasi itu benar, relevan, dan layak digunakan.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 dari OECD memberikan gambaran penting tentang tantangan tersebut. Hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun mencapai setidaknya Level 2 dalam membaca, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 74 persen. Pada bidang matematika, proporsi siswa Indonesia yang mencapai tingkat kompetensi minimum tersebut sekitar 18 persen, sedangkan rata-rata OECD mencapai 69 persen.
Angka ini tidak berarti siswa Indonesia tidak mampu belajar. Namun, angka tersebut menjadi pengingat bahwa fondasi literasi dan numerasi masih perlu diperkuat. Sebab, kemampuan membaca secara kritis, memahami persoalan, dan menggunakan pengetahuan merupakan modal utama untuk menghadapi dunia yang semakin dipengaruhi AI. Ketika mesin semakin mudah menghasilkan jawaban, manusia harus semakin mampu menilai jawaban.
Bukan sekadar belajar menggunakan AI
Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah untuk menyiapkan peserta didik menghadapi perubahan tersebut. Sejak tahun ajaran 2025/2026, pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial mulai diterapkan sebagai mata pelajaran pilihan di sejumlah jenjang pendidikan, dengan pelaksanaan menyesuaikan kesiapan satuan pendidikan. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi digital, nalar logis, kreativitas, dan pemecahan masalah.
Pada 2025, program Koding dan Kecerdasan Artifisial dilaporkan telah menjangkau 97 persen wilayah Indonesia, mencakup 38 persen satuan pendidikan, dengan 53.023 guru terlatih. Pada 2026, pemerintah menargetkan perluasan implementasi Pembelajaran Mendalam hingga 50 persen satuan pendidikan, dengan target 100 persen pada 2028.
Langkah ini patut diapresiasi. Akan tetapi, kita perlu memastikan bahwa pembelajaran AI tidak berhenti pada kemampuan mengoperasikan aplikasi atau menyusun perintah yang tepat kepada chatbot. Siswa memang perlu memahami cara kerja dasar AI, manfaatnya, keterbatasannya, dan cara menggunakannya. Namun, mereka juga perlu memahami bahwa AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, memperlihatkan bias, atau memberikan jawaban meyakinkan tanpa dasar yang memadai.
UNESCO melalui AI Competency Framework for Students merumuskan 12 kompetensi dalam empat dimensi, yaitu pola pikir yang berpusat pada manusia, etika AI, teknik dan aplikasi AI, serta desain sistem AI. Kompetensi tersebut dikembangkan melalui tiga tingkat perkembangan: memahami, menerapkan, dan menciptakan. Pesannya jelas: siswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus tumbuh menjadi pengguna yang bertanggung jawab, penilai yang kritis, dan, sesuai kesiapan serta tahap perkembangannya, pencipta solusi berbasis teknologi.
Lima kemampuan yang harus dipelajari siswa
Lalu, apa yang seharusnya menjadi prioritas pendidikan ketika AI semakin pintar ?. Pertama, kemampuan berpikir kritis. Siswa harus terbiasa bertanya: dari mana informasi ini berasal ? Apakah buktinya cukup? Adakah penjelasan lain? Apakah kesimpulannya masuk akal ?. Ketika AI memberikan jawaban, siswa tidak boleh berhenti pada kalimat “AI mengatakan demikian”. Mereka harus memeriksa fakta, membandingkan sumber, dan mempertanggungjawabkan kesimpulannya.
Kedua, kemampuan memecahkan masalah. Pendidikan tidak cukup mengajarkan rumus, tetapi harus melatih siswa memahami persoalan dan memilih cara penyelesaian. Dalam pelajaran matematika, misalnya, siswa perlu menjelaskan mengapa suatu metode dipilih dan kapan metode tersebut tidak tepat digunakan. AI boleh membantu menghitung. Namun, siswa tetap perlu memahami persoalan yang sedang diselesaikan.
Ketiga, kreativitas dan kemampuan menciptakan sesuatu. AI dapat menghasilkan gambar, tulisan, rancangan, bahkan program komputer. Karena itu, pendidikan perlu memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan gagasan, bereksperimen, membuat prototipe, dan memperbaiki hasil karyanya. Ukuran keberhasilan bukan semata-mata seberapa bagus produk akhirnya, melainkan bagaimana siswa mengembangkan gagasan dan belajar dari prosesnya.
Keempat, literasi digital dan etika. Siswa perlu memahami privasi, keamanan data, hak cipta, bias algoritma, dan tanggung jawab atas konten yang dihasilkan AI. Mereka harus mengetahui bahwa sesuatu yang bisa dilakukan secara teknis belum tentu benar dilakukan secara etis.
Kelima, kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan oleh individu yang cerdas atau mesin yang cepat. Dunia nyata membutuhkan kemampuan mendengarkan, berdialog, bernegosiasi, bekerja dalam tim, dan memahami perbedaan. Empati, tanggung jawab, integritas, dan kepedulian terhadap sesama bukan pelengkap pendidikan. Justru nilai-nilai inilah yang menjaga agar kecerdasan digunakan untuk tujuan yang benar.
Apa yang harus berubah di ruang kelas ?
Perubahan tersebut tidak akan terjadi jika sekolah masih menggunakan pola pembelajaran yang sama, sementara hanya perangkatnya yang berubah. Guru perlu menggeser sebagian fokus dari penyampaian materi menuju perancangan pengalaman belajar. Misalnya, ketika siswa diminta membuat esai menggunakan AI, tugasnya tidak cukup mengumpulkan tulisan akhir. Mereka juga harus menunjukkan sumber rujukan, memeriksa fakta, menjelaskan bagian yang diubah, dan mempertahankan argumennya melalui diskusi.
Dengan cara ini, AI menjadi alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir. Penilaian juga perlu berkembang. Selain ujian tertulis, sekolah dapat menggunakan presentasi, demonstrasi, proyek, portofolio, dan refleksi. Siswa perlu diberi kesempatan menjelaskan bagaimana mereka sampai pada suatu kesimpulan, bukan hanya menunjukkan kesimpulan itu sendiri. Guru pun harus memperoleh pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan. Pemerintah menargetkan pelatihan Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial bagi sedikitnya 300.000 pendidik dan tenaga kependidikan dari 140.000 satuan pendidikan pada 2026.
Tetapi keberhasilan pelatihan tidak boleh hanya diukur dari jumlah peserta. Ukuran yang lebih penting adalah apakah praktik mengajar berubah dan apakah siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna. Semua itu harus dilakukan dengan mempertimbangkan kesenjangan akses. Sekolah yang memiliki internet stabil dan perangkat lengkap tentu menghadapi situasi berbeda dari sekolah yang masih terbatas fasilitasnya. Karena itu, transformasi AI harus berjalan bersama penguatan infrastruktur, peningkatan kompetensi guru, dan pemerataan kesempatan belajar.
Menyiapkan manusia, bukan sekadar pengguna teknologi
Pada akhirnya, pertanyaan “ketika AI makin pintar, apa yang harus dipelajari siswa?” membawa kita kembali kepada tujuan pendidikan. Kita tidak boleh mendidik anak hanya agar mampu mengikuti perkembangan teknologi. Kita harus mendidik mereka agar mampu memahami, mengarahkan, dan menggunakan teknologi untuk memperbaiki kehidupan. AI dapat membantu siswa menemukan informasi. Pendidikan harus mengajarkan mereka membedakan fakta dan opini. AI dapat menghasilkan banyak pilihan. Pendidikan harus melatih mereka mempertimbangkan konsekuensi.
AI dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Pendidikan harus memastikan mereka memahami tujuan dan tanggung jawab di balik pekerjaan tersebut. Karena itu, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa banyak teknologi yang masuk ke sekolah, melainkan oleh seberapa baik teknologi membantu manusia berkembang. Kita tentu ingin siswa Indonesia mahir menggunakan AI. Namun, lebih dari itu, kita ingin mereka memiliki keberanian untuk bertanya, ketekunan untuk memeriksa, kreativitas untuk menciptakan, dan integritas untuk bertanggung jawab.
Ketika AI makin pintar, tugas pendidikan bukan membuat siswa bersaing dengan mesin dalam menghasilkan jawaban. Tugas pendidikan adalah membentuk manusia yang mampu berpikir lebih jernih, bertindak lebih bijaksana, dan menggunakan kecerdasannya untuk kepentingan bersama. Sebab, masa depan bukan hanya milik mereka yang paling cepat menguasai teknologi, melainkan juga milik mereka yang paling bijak menggunakannya.
Penulis: Queen Hesti Ramadhamy (Departemen Teknik Elektro – Fakultas Teknik Universitas Andalas)
