“Kampus yang baik memang bukan menghilangkan semua tekanan karena tantangan dibutuhkan untuk melatih daya juang, namun pendidik di kampus harus mampu membedakan antara tantangan yang mendewasakan dan tekanan yang menghancurkan. Sebab tugas pendidikan bukan sekadar melahirkan lulusan yang cerdas, melainkan manusia yang tangguh tanpa kehilangan kesehatan jiwa dan kemanusiaannya.”
Sebagai pendidik dan juga pernah dipercaya mengemban amanah bidang kemahasiswaan, serta sebagai dokter klinisi di klinik universitas, saya semakin menyadari bahwa persoalan mahasiswa tidak pernah sesederhana nilai akademik semata. Masalah yang mereka hadapi bukan hanya ketidak hadiran yang banyak, tugas yang terlambat, atau prestasi akademik yang tiba-tiba merosot.
Burnout dan Akar Kerapuhan
Di balik perubahan perilaku seorang mahasiswa sering terdapat cerita yang tidak terlihat, ada konflik dengan keluarga, tuntutan untuk segera berhasil, persoalan ekonomi, hubungan sosial yang bermasalah, kecemasan terhadap masa depan, atau perasaan bahwa dirinya tidak boleh gagal.
Saya beberapa kali berhadapan dengan mahasiswa yang dari luar tampak baik-baik saja. Mereka datang ke kelas, mengikuti praktikum, mengerjakan tugas, bahkan masih mampu bercanda bersama teman-temannya. Namun ketika berbicara secara pribadi, barulah terlihat bahwa mereka sebenarnya sedang berada di ambang kelelahan atau di batas tipis kerapuhan.
Ada yang menangis diam-diam setelah mendapatkan nilai yang sebenarnya masih cukup baik namun ketakutan bekal itu tidak cukup untuk dipertanggungjawabkan di depan orang tua yang penuh tuntutan. Ada yang terpuruk dengan berbagai himpitan masalah keluarga atau tekanan lainnya. Bahkan ada yang berfikir dan yang sudah mencoba mengakhiri hidupnya. Ini dapat ditemukan di setiap fakultas dan bidang ilmu.
Dalam pengalaman saya mendampingi mahasiswa, salah satu hal yang paling sulit adalah mengenali mahasiswa yang sedang mengalami masalah tetapi tidak memperlihatkannya. Mahasiswa yang menangis di hadapan dosen mungkin lebih mudah dikenali daripada mahasiswa yang selalu tersenyum. Mahasiswa yang secara terbuka mengatakan dirinya tidak sanggup mungkin justru lebih mudah dibantu daripada mahasiswa yang terus berkata, “Saya tidak apa-apa, Dok.”
“Kadang orang yang paling terluka bisa terlihat yang paling tidak apa-apa.”
Ada mahasiswa yang tetap datang ke kelas ketika pikirannya sedang kacau. Ada yang tetap mengerjakan tugas meskipun hampir tidak tidur. Ada yang tetap tersenyum di depan teman-temannya karena tidak ingin dianggap lemah. Ada yang bahkan menjadi semakin aktif karena kesibukan membuatnya tidak perlu berhadapan dengan persoalan yang sebenarnya sedang ia rasakan.
Pada titik tertentu, ketangguhan dapat berubah menjadi mekanisme bertahan. Mahasiswa seperti ini sering mendapatkan pujian: “Kamu hebat.” “Kamu kuat.” “Kamu selalu bisa mengatasi semuanya.” Pujian tersebut pada awalnya mungkin terasa menyenangkan. Namun lama-kelamaan identitas sebagai orang yang kuat dapat menjadi beban. Ia merasa tidak mempunyai izin untuk mengatakan bahwa dirinya Lelah, sebab ketika selama ini semua orang mengenalnya sebagai pribadi yang mampu mengatasi masalah, mengakui ketidakmampuan terasa seperti kehilangan identitas. Ia takut mendengarkan kata-kata “Jadi mahasiswa kok cengeng.”
Di lingkungan pendidikan kesehatan, persoalan ini terasa semakin paradoksal. Mahasiswa belajar tentang tubuh manusia, penyakit, kesehatan mental, dan tentang penderitaan pasien. Mereka dilatih untuk mengenali tanda-tanda penyakit pada orang lain. Namun dalam proses pendidikan yang panjang dan kompetitif, mereka kadang lupa menerapkan pengetahuan yang sama kepada dirinya sendiri.
“Sebuah paradoks bagi mahasiswa kesehatan; Mereka belajar mendiagnosis dan mengerti tubuh orang lain tetapi tidak pernah benar-benar mengerti dan belajar memahami tentang diri mereka sendiri.”
Mereka mampu mengatakan kepada pasien bahwa istirahat penting, tetapi merasa dirinya tidak berhak beristirahat karena hidup dalam persaingan konstan dan tuntutan keluarga yang tidak ringan. Mereka dapat memahami bahwa seseorang yang mengalami kecemasan membutuhkan pertolongan, tetapi ketika kecemasan itu muncul pada dirinya sendiri, mereka menganggapnya sebagai kelemahan. Mereka dapat memberikan nasihat kepada pasien yang sedang tertekan, tetapi merasa malu ketika dirinya sendiri membutuhkan pertolongan, hingga mereka tampil seolah semuanya baik-baik saja.
Di sinilah burnout menjadi persoalan yang lebih serius daripada sekadar “mahasiswa sedang banyak tugas”. Burnout merupakan keadaan kelelahan yang muncul ketika tuntutan yang berlangsung terus-menerus melampaui sumber daya yang dimiliki seseorang untuk menghadapinya. Ketika tekanan berlangsung terlalu lama tanpa pemulihan yang memadai, seseorang dapat mengalami kelelahan emosional, kehilangan motivasi, menjadi sinis terhadap kegiatan yang sebelumnya bermakna, dan akhirnya mengalami penurunan fungsi.
Masalahnya, mahasiswa sering hidup dalam budaya yang menganggap kelelahan sebagai tanda keberhasilan. Semakin sibuk dianggap semakin produktif. Semakin sedikit tidur dianggap semakin rajin. Semakin banyak kegiatan dianggap semakin hebat. Bahkan kalimat seperti “kalau mau sukses memang harus berjuang” kadang digunakan untuk membenarkan kondisi ketika seseorang sudah tidak lagi mampu membedakan antara perjuangan dan penghancuran diri.
Seharusnya, perjuangan membutuhkan energi, dan burnout terjadi ketika energi itu terus dikeluarkan tanpa kesempatan yang cukup untuk dipulihkan. Karena itu, mahasiswa yang mengalami burnout tidak selalu membutuhkan nasihat untuk “lebih kuat”. Kadang yang mereka butuhkan terlebih dahulu adalah seseorang yang bersedia bertanya, “Kamu sebenarnya sedang menghadapi apa?” lalu benar-benar mendengarkan jawabannya.
Orang yang mengalami burnout pada tahap awal tidak membutuhkan nasehat dan wejangan yang panjang. Mahasiswa, siapapun, dan bahkan kita yang sedang terpuruk justru lebih ingin didengar. Mendengarkan keluhan dan memvalidasi tanpa harus membenarkan akan dirasakan sebagai bentuk dukungan. Inilah yang mungkin hilang dalam sistem pendidikan kita.
Di sisi lain, tidak semua persoalan burnout akibat proses pendidikan atau kepada orang tua. Ada pula persoalan yang berasal dari kapasitas psikologis individu. Setiap mahasiswa memasuki perguruan tinggi dengan latar belakang yang berbeda, dengan pola asuh, pengalaman hidup, kemampuan mengelola emosi, keterampilan memecahkan masalah, pengalaman menghadapi kegagalan, serta tingkat toleransi terhadap frustasi.
“Warisan kerapuhan masa lalu dapat menjadi bom waktu dan meledak ketika harapan tak terpenuhi yang mereka anggap sebagai tekanan mematikan.”
Saya menemukan bahwa sebagian mahasiswa memang memiliki daya tahan yang belum berkembang dengan baik. Sedikit kegagalan terasa seperti kehancuran. Kritik dianggap sebagai penolakan terhadap diri. Nilai yang tidak sesuai harapan dianggap sebagai bukti bahwa dirinya bodoh. Kesulitan menghadapi satu mata kuliah dapat berkembang menjadi keyakinan bahwa dirinya tidak mampu menyelesaikan pendidikan. Ini sangat mudah terlihat pada generasi mahasiswa kita saat ini.
Akan tetapi mengatakan seorang mahasiswa “rapuh” tidak boleh menjadi alasan untuk menghakiminya. Kerapuhan bukan selalu bawaan yang permanen. Daya tahan psikologis dapat dibentuk dan dilatih. Seseorang dapat belajar menghadapi frustasi, menerima kegagalan, mengatur waktu, meminta bantuan, menyelesaikan masalah secara bertahap, dan memahami bahwa sebuah kegagalan tidak identik dengan kegagalan dirinya sebagai manusia.
Peran Pendidik dan Institusi
Lalu bagaimana kita pendidik di perguruan tinggi dan juga perguruan tinggi sebagai institusi dapat berperan dalam mengurangi dampak burnout tersebut. Perguruan tinggi bukan hanya tempat untuk menambah pengetahuan tetapi juga merupakan ruang untuk belajar menjadi manusia dewasa.
“Ketangguhan mahasiswa tidak lahir dari pengabaian; kedewasaan tidak tumbuh dari kemudahan. Keduanya dibentuk melalui tantangan yang disertai bimbingan, keteladanan, dan kepedulian.”
Pertama, kita pendidik mesti berperan dalam mengurangi risiko burnout dan beban psikologis mahasiswa. Respon sederhana terhadap pesan mahasiswa dalam jam kerja dapat menjadi bentuk kepedulian yang sangat berarti, begitu juga sebaliknya. Bagi dosen, empat pesan WhatsApp yang belum dibalas mungkin persoalan biasa tetapi bagi mahasiswa, hal tersebut mungkin menentukan kelanjutan studinya, ancaman drop out, atau kewajiban membayar UKT satu semester lagi.
Kadang kita dosen begitu mudah menyebut mahasiswa tidak beretika, tidak sabar, bahkan nyinyir ketika berulang kali menghubungi dosen. Padahal, mungkin sudah tiga hari pesannya tidak mendapatkan jawaban. Kita tentu memiliki kesibukan dan tanggung jawab lain. Namun, bukankah membimbing mahasiswa merupakan bagian utama dari dedikasi seorang pendidik? Jika mahasiswa dituntut memahami etika komunikasi, bukankah dosen juga harus menunjukkan etika pelayanan dan tanggung jawab profesional?
Kedua, kita seharusnya memperkuat peran sebagai Penasehat Akademik (PA) sebagai pendamping mahasiswa dalam proses pendidikannya. Dosen PA juga mesti menjadi media pendengar dan wadah “ventilasi” ketika mahasiswa mendapatkan kesulitan.
Mahasiswa perlu mendapatkan dukungan meskipun dukungan tidak sama dengan selalu mempermudah urusan mereka. Terlalu banyak melindungi mahasiswa dari kesulitan juga dapat membuat mereka tidak pernah belajar menghadapi kesulitan. Mahasiswa harus mempunyai wadah untuk bisa berbagi, mencurahkan masalahnya dan memahami kesulitannya, hingga dapat mendiskusikan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapinya itu. Disinilah salah satu peran PA menjadi krusial, bukan sekedar persetujuan dan tanda tangan rencana studi semester depan.
Ketiga, perlunya optimalisasi sistem layanan konseling yang mudah diakses bagi mahasiswa. Layanan yang ada di tingkat universitas harus inline dengan sistem yang ada di tingkat fakultas bahkan hingga ke tingkat program studi.
Institusi tidak dapat atau tidak dibenarkan diskriminasi dalam penerimaan mahasiswa berdasarkan kerentanan psikologis, namun yang dapat dilakukan adalah bimbingan terhadap kebutuhan hak-hak pembelajaran mahasiswa. Oleh karena itu, pemetaan kerentanan mahasiswa baik melalui fakultas atau laporan dosen PA menjadi penting. Selanjutnya, disediakan layanan konseling berupa pendampingan mahasiswa berisiko dan evaluasi berkala.
Penulis: Prof. dr. Hardisman, Dr. PH (Profesor Kedokteran Keluarga dan Komunitas, FK-UNAND)
