“Publikasi Scopus harus bayar.” Anggapan ini muncul dalam sebagian percakapan tentang penelitian dan karier dosen. Ada pula yang menganggap bahwa selama penulis mampu membayar, naskah akan mudah diterima. Pandangan semacam ini dapat membuat kerja penelitian dinilai dari tagihan penerbit, sementara proses ilmiah di baliknya luput dari perhatian.
Anggapan tersebut perlu diluruskan. Publikasi di jurnal terindeks Scopus tidak selalu berbayar. Pada jurnal yang menjalankan standar etika, kemampuan membayar juga tidak boleh menentukan penerimaan naskah. Indeksasi, biaya penerbitan, dan penilaian naskah merupakan tiga hal yang berbeda.
Persoalan ini turut dibahas oleh M. Shabri Abd Majid dalam opini berjudul “Penjajahan Publikasi: Dosen Bayar, Reviewer Kerja, Publisher Kaya” yang terbit di Serambinews pada 25 September 2026. Artikel tersebut menyoroti beban biaya dan ketimpangan dalam penerbitan. Penulis juga menjelaskan bahwa tersedia jurnal tanpa biaya dan pembayaran tidak berarti membeli kelulusan. Penjelasan ini penting dipertahankan ketika kita membicarakan hubungan antara uang dan publikasi ilmiah.
Scopus dan biaya publikasi
Scopus merupakan pangkalan data abstrak dan sitasi yang menghimpun literatur ilmiah dari berbagai penerbit. Peneliti mengirimkan naskah kepada jurnal, lalu editor dan penelaah sejawat atau reviewer menilai kelayakannya. Scopus menyeleksi jurnal untuk dimasukkan ke dalam pangkalan datanya melalui Content Selection and Advisory Board (CSAB), yang melibatkan pakar dari berbagai bidang.
Karena itu, istilah “bayar Scopus” dapat menyesatkan. Biaya publikasi yang dikenakan kepada penulis mengikuti kebijakan jurnal dan model penerbitannya, bukan semata-mata karena jurnal tersebut terindeks Scopus.
Kebijakan Elsevier memberikan salah satu contoh. Pada jurnal hibrida, yang menyediakan pilihan akses terbuka dan berlangganan, penulis dapat memilih jalur berlangganan tanpa biaya publikasi. Pembaca umumnya mengakses artikel melalui langganan pribadi atau institusi. Penulis tetap perlu memeriksa ketentuan jurnal tujuan karena pilihan penerbitan dan jenis biayanya dapat berbeda.
Pilihan lain adalah Diamond Open Access, yaitu model penerbitan yang tidak memungut biaya dari penulis maupun pembaca. Pengelolaannya dibiayai melalui dukungan institusi, organisasi, atau sumber pendanaan lainnya. Model ini menunjukkan bahwa akses terbuka juga dapat diselenggarakan tanpa membebankan biaya kepada penulis.
Keterangan “terindeks Scopus” sendiri tidak menjelaskan apakah penulis harus membayar. Informasi itu harus dicari dalam kebijakan biaya jurnal.
Pembayaran tidak boleh menentukan penerimaan naskah
Biaya penerbitan pada jurnal akses terbuka sering disebut article processing charge (APC). Biaya ini mendukung penerbitan artikel yang dapat dibaca tanpa langganan dan dapat ditanggung oleh penulis, institusi, atau penyandang dana.
Pembayaran APC tidak menjamin naskah diterima. Pedoman bersama COPE, DOAJ, OASPA, dan WAME menegaskan bahwa biaya penulis maupun status pembebasan biaya tidak boleh memengaruhi keputusan editorial. Informasi biaya harus disampaikan secara jelas sejak awal, dan jurnal tidak boleh menjamin penerimaan naskah sebelum penilaian dilakukan.
Jurnal berbayar yang menjalankan proses editorial secara bertanggung jawab harus mendasarkan keputusan pada kelayakan ilmiah naskah. Jika penerimaan dijanjikan hanya karena penulis bersedia membayar, praktik tersebut bertentangan dengan standar etika penerbitan.
Karena itu, adanya APC saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa sebuah artikel diterima karena uang. Tuduhan semacam itu membutuhkan bukti tentang proses pengambilan keputusan. Yang perlu diperiksa adalah dasar keputusan editorial dan kredibilitas penelaahannya.
Mutu naskah tetap harus diperiksa
Naskah penelitian harus menjelaskan masalah yang diteliti, metode yang digunakan, hasil yang diperoleh, dan dasar penarikan kesimpulan. Reviewer dapat mempertanyakan kecukupan sampel, ketepatan analisis, mutu instrumen, atau kesesuaian kesimpulan dengan data. Editor kemudian mempertimbangkan penilaian tersebut, ruang lingkup jurnal, dan standar ilmiah yang berlaku.
Dalam penelitian kesehatan, misalnya, hubungan antara dua variabel belum tentu menunjukkan sebab-akibat. Jika data hanya mendukung adanya hubungan, kesimpulan tidak boleh menyatakan bahwa satu faktor pasti menyebabkan faktor lain. Permintaan memperbaiki kesimpulan semacam ini bertujuan mencegah pembaca menggunakan temuan melampaui kekuatan buktinya.
Revisi memang dapat melelahkan. Komentar yang berbeda juga dapat membingungkan. Di sinilah editor perlu menentukan prioritas perbaikan dan menyelaraskan saran yang bertentangan. Penulis dapat menyampaikan alasan ilmiah ketika tidak menyetujui suatu saran. Proses ini membutuhkan dialog yang berlandaskan bukti, bukan sekadar kepatuhan terhadap seluruh permintaan reviewer.
Scopus mensyaratkan jurnal yang dipertimbangkan untuk indeksasi memiliki konten yang ditelaah sejawat serta penjelasan terbuka mengenai prosesnya. Seleksi jurnal dan penelaahan naskah merupakan upaya menjaga mutu. Meski demikian, keduanya tidak menjamin setiap artikel bebas dari kesalahan. Pembaca tetap perlu memeriksa metode, data, dan batas kesimpulannya.
Biaya publikasi perlu dinilai manfaatnya
Pertanyaan tentang kewajaran biaya tetap sah. Tarif perlu dijelaskan, layanan perlu diperiksa, dan penggunaan dana penelitian harus dipertanggungjawabkan. Akan tetapi, adanya biaya publikasi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pengeluaran tersebut sia-sia.
Penerbitan melibatkan pengelolaan naskah, penyiapan artikel, sistem digital, distribusi, dan pengarsipan. Pengelola jurnal perlu memastikan artikel dapat ditemukan serta menyediakan mekanisme koreksi ketika muncul kesalahan. Pedoman penerbitan bersama COPE dan organisasi mitranya mencakup pengarsipan jangka panjang serta kebijakan koreksi dan pencabutan artikel.
Menurut saya, pengeluaran publikasi perlu dinilai berdasarkan kewajaran harga, mutu layanan, kebutuhan akses, dan manfaat penyebaran hasil penelitian. Peneliti dan institusi perlu membandingkan pilihan. Jurnal yang sesuai dan menyediakan jalur tanpa biaya layak dipertimbangkan. Jika akses terbuka diperlukan dan biayanya wajar, pembiayaannya dapat menjadi bagian dari upaya memperluas akses terhadap pengetahuan.
Manfaat tersebut juga membutuhkan langkah setelah artikel terbit. Dalam keperawatan, misalnya, temuan tentang kesehatan jiwa remaja atau dukungan keluarga perlu disampaikan dalam bentuk yang dapat dipahami tenaga kesehatan dan pembuat kebijakan. Publikasi memungkinkan temuan diperiksa dan dikembangkan, sedangkan pemanfaatannya membutuhkan upaya mempertemukan hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat.
Menjaga penilaian yang adil
Kritik terhadap biaya penerbitan perlu berjalan bersama penghargaan terhadap usaha menghasilkan penelitian yang baik. Menganggap artikel berbayar pasti dibeli dapat meremehkan kerja peneliti tanpa dasar yang cukup. Sebaliknya, menganggap artikel terindeks pasti bermutu tanpa membaca isinya juga mengabaikan tanggung jawab menilai bukti.
Deklarasi San Francisco tentang Penilaian Penelitian, yang dikenal sebagai DORA, mendorong penilaian berdasarkan substansi karya. Metrik jurnal, seperti Journal Impact Factor, tidak seharusnya digunakan sebagai pengganti penilaian mutu artikel individual atau kontribusi peneliti.
Perguruan tinggi perlu mendukung dosen dalam melakukan penelitian, memilih jurnal, menanggapi reviewer, dan menyampaikan hasilnya kepada masyarakat. Penilaian karya harus memperhatikan pertanyaan penelitian, ketepatan metode, integritas data, dan manfaat temuan.
Biaya publikasi dapat dipersoalkan, layanan penerbit dapat dievaluasi, dan kebijakan penilaian dosen dapat diperbaiki. Namun, keberadaan tagihan bukan bukti bahwa penerimaan artikel telah dibeli. Karya ilmiah layak dinilai dari isi dan proses yang melahirkannya. Di situlah pembicaraan tentang Scopus seharusnya berpijak.
Penulis: Dr. Ns. Rika Sarfika, S.Kep., M.Kep. (Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Andalas)
