Dalam interaksi sosial sehari-hari, kita sering menyaksikan fenomena menarik: seseorang yang tiba-tiba bersikap defensif, marah, atau merasa diserang padahal tidak ada satu orang pun yang sedang menunjuk hidungnya. Di dalam kajian psikologi, fenomena ini kerap dikaitkan dengan guilt complex—suatu kondisi di mana rasa bersalah yang terpendam di alam bawah sadar memicu timbulnya rasa curiga dan prasangka berlebihan terhadap lingkungan sekitar.

Ketika nurani seseorang tidak tenang akibat perbuatan masa lalu yang belum dituntaskan, setiap ucapan, sindiran, atau bahkan percakapan acak orang lain akan dengan mudah ditangkap sebagai peluru yang diarahkan kepadanya.

Kisah seseorang yang menyimpan beban kesalahan masa lalu ini memberikan cermin yang sangat jernih bagi kita semua.

Seseorang pernah melakukan kesalahan yang terhitung sepele namun mencerminkan cacat moral. Suatu hari Jumat, usai salat di masjid, ia menukar sandalnya yang kusam dan kotor dengan sandal milik jemaah lain yang jauh lebih bagus dan bersih. Begitu imam mengucapkan salam, ia tidak berzikir melainkan langsung bergegas keluar selagi jemaah lain masih berdoa dan melaksanakan salat sunah. Dengan begitu, ia punya cukup waktu untuk memilih sandal yang bagus dan pas di kakinya tanpa terlihat orang lain.

Waktu berlalu, tetapi beban moral itu secara tidak sadar terus membuntutinya.

Di kesempatan lain, ia sedang duduk menunggu bus di sebuah halte. Tidak lama kemudian, seseorang datang dan duduk di ujung bangku yang lain. Lalu muncul orang ketiga, teman dari orang kedua. Tanpa basa-basi, orang ketiga langsung menegur temannya dengan nada tinggi, “Kamu itu bodoh! Kenapa kemarin mengambil sandal jemaah di masjid? Satu masjid jadi ribut! Pemilik sandal itu anak yatim, dia harus menabung lama baru bisa beli sandal bagus. Sekarang malah kamu yang pakai!”

Orang kedua menjawab dengan tenang dan tanpa rasa dosa, “Sandal orang yang hilang, kenapa kamu yang malah marah-marah?”

Anehnya, orang pertama—yang sama sekali tidak kenal dengan kedua orang tersebut—justru merasa tersinggung luar biasa. Seolah-olah kata “bodoh” dan tuduhan itu ditujukan tepat ke mukanya. Dalam hatinya ia membatin dengan gusar, “Mereka ini pasti sedang menyindir saya.” Ia hampir saja berdiri menegur dan mengajak berkelahi, namun niat itu diurungkan karena khawatir jika terjadi adu fisik dan ia kalah.

Ketakutan akan sindiran ini terus membayangi pikirannya hingga ke lingkungan kerja. Suatu hari di kantor, ia tidak sengaja mendengar dua orang rekan sejawatnya sedang berbincang di koridor mengenai transparansi anggaran operasional dan pentingnya kejujuran dalam mencatat kuitansi perjalanan dinas. Padahal, kedua rekannya hanya sedang mendiskusikan materi sosialisasi regulasi baru dari bagian keuangan. Namun, lagi-lagi hatinya mendidih. Ia merasa rekan-rekannya sedang membicarakan kebiasaan kecilnya yang suka merekayasa laporan transaksi. Sepanjang hari, ia bersikap dingin dan enggan menegur rekan-rekannya tersebut.

Puncak dari prasangka ini terjadi ketika ia menghadiri acara pengajian rutin di masjid kompleksnya. Kebetulan penceramah hari itu adalah teman masa kecilnya sewaktu sekolah dasar—seorang Ustadz yang sejak dulu dikenal bertabiat baik dan kini sering diundang mengisi ceramah di mana-mana. Topik yang dibawakan hari itu adalah tentang bahaya mengambil hak orang lain, mulai dari praktik korupsi hingga kecurangan-kecurangan kecil di tengah masyarakat.

Ketika menjelaskan tentang bahaya korupsi dan manipulasi hak orang lain, penceramah menerangkan dengan penyampaian yang sangat memikat, lengkap dengan contoh-contoh nyata yang diselingi humor renyah. Gelak tawa jemaah kerap pecah mendengar anekdot sang Ustadz.

Hampir semua jemaah tertawa dan menikmati ceramah tersebut, kecuali dirinya. Mukanya memerah, dadanya sesak, dan matanya menatap tajam ke arah mimbar. Ia merasa teman masa kecilnya itu sengaja menggunakan panggung ceramah untuk melempar sindiran kepadanya, terlebih karena secara ekonomi hidupnya jauh lebih berkecukupan dibanding sang Ustadz.

Setelah acara selesai, banyak jemaah bersalaman menyampaikan apresiasi kepada penceramah. “Ceramahnya bagus dan nendang banget, Ustadz. Sangat mencerahkan,” ujar beberapa jemaah dengan senyum tulus.

Namun ketika gilirannya tiba, ia mendekat dan bersalaman dengan cengkeraman kaku. Sambil berbisik di telinga temannya, ia berkata dengan suara dingin, “Ceramah Ustadz sangat tendensius! Sebagai orang yang paham agama, seharusnya Ustadz lebih banyak berbicara tentang cara ibadah yang baik dan mengajak orang yang belum shalat supaya mau shalat. Kalau sekali lagi Ustadz menyinggung saya di depan umum, berarti kita sudah berhadap-hadapan!”

Senyum ceria penceramah seketika pudar berubah menjadi heran dan cemas. Padahal, sang penceramah hanya mengangkat topik fenomena sosial yang umum terjadi di tengah masyarakat, sama sekali tanpa niat membicarakan apalagi menyerang pribadi teman masa kecilnya itu.

Rasa tersindir yang berlebihan sejatinya bukanlah masalah pesan yang disampaikan oleh orang lain, melainkan masalah pemaknaan di dalam diri kita sendiri. Ketika hati seseorang bersih, kritik maupun ceramah tentang kebaikan akan diterima sebagai sarana introspeksi yang menyejukkan. Namun ketika nurani tertutup oleh rasa bersalah yang tidak diakui, pesan kebaikan seluas apa pun akan selalu ditafsirkan sebagai ancaman.

Sering kali, suara yang paling keras menuduh orang lain menyindir atau menyerang kita bukanlah suara dari luar, melainkan bisikan dari rasa bersalah kita sendiri yang belum selesai diakui dan dimaafkan.

Ilustrasi AI tentang Perjalanan Rasa Bersalah: Dari tindakan mengambil sandal jemaah di masjid, merasa dituduh saat mendengar percakapan acak di halte, hingga mendengarkan ceramah agama dengan hati yang panas. Puncaknya bermuara pada bisikan ancaman di telinga sang penceramah—sebuah potret visual bagaimana nurani yang tidak tenang mengubah pesan kebaikan menjadi ancaman dan prasangka.

Penulis: Prof. Mas Mera (Guru Besar Teknik Sipil Universitas Andalas)