Padang (UNAND) — Dunia akademik Indonesia masih dihadapkan pada sejumlah persoalan mendasar, khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas publikasi ilmiah di jurnal bereputasi internasional. Keterbatasan anggaran riset yang tidak sebanding dengan tingginya tuntutan publikasi kerap menempatkan dosen pada situasi dilematis.

Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas (UNAND), Prof. Dian Fiantis, menilai bahwa peningkatan jumlah publikasi ilmiah dosen Indonesia dalam beberapa tahun terakhir belum sepenuhnya diiringi dengan mutu yang memadai. “Tekanan administratif sering kali mendorong dosen memilih jurnal tidak bereputasi demi memenuhi kewajiban, bukan karena kualitas naskahnya siap bersaing secara global,” ujarnya pada Rabu (28/1).

Berdasarkan pengalamannya sebagai narasumber pelatihan penulisan artikel ilmiah yang diselenggarakan Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendikbudristek, Prof. Dian mengungkapkan sedikitnya ada empat persoalan utama yang kerap dihadapi dosen Indonesia dalam menulis artikel untuk jurnal internasional.

Pertama, minimnya unsur kebaruan riset. Sekitar 75 persen manuskrip peserta pelatihan dinilai masih mengangkat topik yang sudah usang atau kurang mendalam. “Riset harus menawarkan sudut pandang baru atau pendekatan inovatif. Tanpa kebaruan, naskah akan sulit diterima jurnal bereputasi,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya mengikuti perkembangan mutakhir (state of the art) melalui literatur internasional berkualitas serta mengangkat tema berbasis kearifan lokal Indonesia yang bernilai global.

Kedua, analisis dan penyajian data yang lemah. Kesalahan dalam pengumpulan, pengolahan, hingga interpretasi data masih sering ditemukan, termasuk ketidaksesuaian metode, minimnya penjelasan teknis, hingga pengabaian aspek etika penelitian terhadap objek riset.

Ketiga, keterbatasan kemampuan menulis ilmiah dalam bahasa Inggris. Prof. Dian menilai belum optimalnya pembekalan penulisan artikel jurnal di jenjang pascasarjana menjadi kendala tersendiri. Ia mencontohkan praktik baik di Universitas Andalas, di mana Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) bekerja sama dengan Pusat Bahasa UNAND untuk membantu penerjemahan naskah ilmiah dosen ke bahasa Inggris secara profesional dan gratis.

Keempat, rendahnya perhatian terhadap etika publikasi. Meski regulasi terkait integritas akademik telah tersedia, pelanggaran seperti pencantuman penulis tanpa kontribusi hingga manipulasi data masih terjadi. “Solusinya adalah pendidikan etika yang berkelanjutan, pendampingan intensif, serta pengawasan institusi yang kuat,” tegasnya.

Menurut Prof. Dian, Universitas Andalas terus berkomitmen mendorong budaya riset yang berintegritas dan berdaya saing global melalui penguatan kapasitas dosen, pendampingan publikasi, serta ekosistem akademik yang mendukung kualitas, bukan sekadar kuantitas.(*)

Selengkapnya juga bisa baca Empat Masalah yang Kerap Dihadapi Dosen Indonesia Ketika Menulis Artikel Ilmiah.

Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik