Padang (UNAND) - Peletakan batu pertama pembangunan Hunian Tetap (Huntap) bagi sepuluh Kepala Keluarga (KK) Kaum Suku Tanjung di Batu Busuak, Kota Padang, menjadi tonggak penting penanganan pascabencana di Sumatera Barat. Pembangunan ini tercatat sebagai Huntap pertama yang direalisasikan bagi korban bencana November lalu.
Tokoh masyarakat Batu Busuak, Dasrul, menyampaikan rasa syukur dan haru atas terealisasinya pembangunan Huntap tersebut. Ia mewakili Kaum Suku Tanjung yang rumah anak kemenakannya hancur diterjang banjir bandang. Menurutnya, kesepakatan kaum untuk menyediakan lahan menjadi wujud solidaritas dan kekuatan dalam menghadapi bencana.
“Prinsipnya lahan disediakan oleh kaum. Namun tentu kami tetap membutuhkan uluran tangan, arahan, serta pendampingan, terutama dari Pemerintah Kota Padang dan UNAND, baik untuk pembangunan fisik maupun penguatan ekonomi pascabencana,” ujarnya. Ke depan, kaum juga telah sepakat mengembangkan agrowisata budaya Talang sebagai upaya menghidupkan kembali perekonomian masyarakat.
Wali Kota Padang, Fadly Amran, mengapresiasi langkah niniak mamak Suku Tanjung yang menghibahkan tanah untuk kepentingan anak kemenakan terdampak bencana. “Ini merupakan salah satu yang pertama di Sumatera pascabencana. Kami berterima kasih kepada semua pihak, termasuk para donatur yang telah berkontribusi,” ungkapnya.
Selain di Kampung Talang, Pemerintah Kota Padang telah menyiapkan tiga lokasi alternatif Huntap, yakni Balai Gadang dengan total lahan 4,9 hektar, Lambung Bukit seluas sekitar 4,6 hektar, serta Simpang Haru seluas 5.000 meter persegi. Secara keseluruhan, lahan seluas 11–12 hektar ini diproyeksikan mampu menampung 600–700 unit rumah, melebihi kebutuhan awal sebanyak 543 unit.

Ia juga berharap dukungan UNAND melalui kajian ilmiah untuk menetapkan zona aman hunian pascabencana. Dengan dukungan data drone dari Bappenas dan analisis kekuatan aliran sungai pascabencana bersama balai dan kementerian terkait, penetapan zona merah dan relokasi diharapkan mampu menjamin keselamatan masyarakat.
Sementara itu, Wakil Rektor IV UNAND Prof. Henmaidi, menegaskan bahwa isu pascabencana tidak hanya berkaitan dengan fisik hunian, tetapi juga keberlanjutan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
“UNAND sejak malam pertama bencana telah menjadikan Masjid Nurul Ilmi sebagai lokasi evakuasi. Pada fase awal, UNAND mengerahkan sumber daya yang ada, sementara dukungan material juga datang dari para mitra,” jelasnya.
Apa yang dilakukan Kaum Suku Tanjung di Batu Busuak, lanjut Prof. Henmaidi, menjadi contoh kekuatan sosial yang patut diteladani.(*)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik

