Padang (UNAND) – Universitas Andalas (UNAND) menutup rangkaian Wisuda Periode III Tahun 2026 dengan meluluskan sebanyak 1.389 lulusan selama dua hari pelaksanaan di Auditorium Kampus Limau Manis. Namun, di balik prosesi akademik tersebut, tersimpan pesan yang jauh lebih penting dari sekadar penyerahan ijazah: lulusan perguruan tinggi kini dituntut mampu menjadi manusia yang berpikir kritis, berkarakter, dan adaptif di tengah percepatan perkembangan artificial intelligence (AI) serta meningkatnya ketidakpastian global.

Pada hari kedua pelaksanaan wisuda, Minggu (12/7), sebanyak 712 lulusan dikukuhkan sehingga total wisudawan pada Periode III Tahun 2026 mencapai 1.389 orang. Para lulusan berasal dari Sekolah Pascasarjana, Fakultas Teknologi Informasi, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Farmasi, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Momentum tersebut juga menjadi tonggak penting bagi FISIP yang untuk pertama kalinya meluluskan doktor dari Program Studi Kebijakan Publik dan Program Studi Sosiologi.

Rektor UNAND Efa Yonnedi, Ph.D., mengajak para lulusan melihat wisuda bukan sebagai akhir perjalanan belajar, melainkan awal memasuki dunia yang berubah sangat cepat. Ia membagikan pengalaman mengikuti Google Leaders Series di Singapura bersama para pimpinan perguruan tinggi kawasan Asia Pasifik yang membahas masa depan pendidikan tinggi di era AI.

Dari forum tersebut, Rektor membawa satu gagasan penting, yakni konsep human in the loop, yang menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan utama dalam pemanfaatan kecerdasan buatan.

"AI boleh membantu. AI boleh menjadi co-pilot. Tapi pilotnya adalah saudara-saudara sendiri," ujarnya.

Menurut Rektor, kemajuan AI telah mengubah cara manusia memperoleh informasi. Namun, keunggulan lulusan perguruan tinggi tidak diukur dari kemampuan mendapatkan jawaban dalam hitungan detik, melainkan dari kemampuan memahami persoalan, berpikir kritis, menghasilkan gagasan kreatif, membangun komunikasi, dan berkolaborasi.

"Anda tidak diwisuda hari ini karena bisa mendapat jawaban dengan cepat. Anda diwisuda karena telah belajar berpikir. Berpikir kritis, berpikir kreatif, mampu berkomunikasi, dan mampu berkolaborasi adalah modal untuk tetap kompetitif di era AI dan robot," katanya.

Ia menjelaskan, tantangan yang dihadapi lulusan saat ini semakin kompleks. Mengacu pada Global Risks Report 2026 yang diterbitkan World Economic Forum, risiko terbesar dunia kini bergeser dari persoalan bencana alam menjadi konfrontasi geoekonomi, disinformasi, polarisasi sosial, hingga meningkatnya dampak perkembangan AI. Kondisi tersebut menuntut lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan beradaptasi, integritas, dan ketangguhan dalam mengambil keputusan di tengah perubahan yang berlangsung cepat.

"Dunia kerja tidak lagi mencari lulusan yang sekadar pintar. Dunia mencari lulusan yang tangguh, yang mampu membedakan informasi benar dari yang salah, serta mampu beradaptasi di tengah ketidakpastian yang kini menjadi keniscayaan," tegasnya.

Rektor turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh wisudawan, khususnya mereka yang menjadi sarjana pertama di keluarganya. Ia menyebut keberhasilan tersebut bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga membuka sejarah baru bagi keluarga dan generasi berikutnya.

Mengakhiri sambutannya, Rektor mengajak seluruh alumni UNAND untuk terus menjadi pembelajar sepanjang hayat, menjaga integritas, serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Di zaman AI sekalipun, manusia tetap membutuhkan nilai-nilai kemanusiaan, kejujuran, dan kebijaksanaan. Jadilah lulusan yang berilmu, beradab, tangguh menghadapi ketidakpastian, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi bangsa," pesannya.(*)

Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik