Padang (UNAND) – Tim peneliti Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Andalas (UNAND) mengembangkan inovasi pangan fungsional berbahan dasar bengkuang berupa Modified Jicama Flour (MOJAF) atau tepung bengkuang termodifikasi yang berpotensi membantu pengendalian diabetes melitus.

Penelitian ini diketuai oleh Dr. Putra Santoso dengan anggota Dr. Rita Maliza dan Meisya Syifa Putri Ihsani dari Departemen Biologi FMIPA UNAND, bekerja sama dengan Chayon Goswami, Ph.D. dari Bangladesh Agricultural University.

Putra Santoso mengatakan, diabetes melitus menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia, termasuk di Indonesia. Menurutnya, jumlah penderitanya terus meningkat setiap tahun sehingga upaya pencegahan dan pengendalian tidak hanya bergantung pada obat-obatan kimiawi, tetapi juga membutuhkan alternatif berupa pangan fungsional yang efektif.

"Berangkat dari tantangan tersebut, kami mengembangkan Modified Jicama Flour (MOJAF), yaitu tepung bengkuang termodifikasi yang berpotensi menjadi pangan fungsional untuk membantu mengendalikan diabetes," ujar Putra Santoso pada Rabu (15/7).

Ia menjelaskan, MOJAF dikembangkan melalui kombinasi proses fermentasi menggunakan bakteri asam laktat dan perlakuan pemanasan serta pendinginan berulang (autoclaving-cooling). Teknik tersebut menghasilkan tepung dengan karakteristik yang lebih unggul dibandingkan tepung bengkuang biasa.

Hasil penelitian menunjukkan MOJAF memiliki warna yang lebih cerah, peningkatan kadar pati dan amilosa, serta penurunan kadar gula pereduksi hingga lebih dari 60 persen.

"Peningkatan amilosa dan penurunan gula pereduksi yang drastis pada MOJAF membuatnya cocok untuk pengidap diabetes," kata Dr. Putra Santoso.

Selain memiliki komposisi gizi yang lebih baik, MOJAF juga terbukti mampu mendukung pertumbuhan bakteri baik Lactobacillus plantarum. Keberadaan bakteri probiotik tersebut berperan dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan, meningkatkan sensitivitas insulin, serta membantu mengurangi peradangan yang sering menyertai diabetes.

"MOJAF tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi, tetapi juga berpotensi menjadi prebiotik, yaitu bahan pangan yang menjadi makanan bagi bakteri baik di usus sehingga mendukung kesehatan mikroba usus. Semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa kesehatan usus memiliki hubungan erat dengan pengendalian gula darah dan metabolisme tubuh secara keseluruhan," jelasnya.

Pada pengujian menggunakan hewan model diabetes di laboratorium, pemberian MOJAF sebanyak lima persen dalam pakan selama empat minggu mampu menurunkan kadar gula darah puasa hingga mendekati kisaran normal. Selain itu, hewan model yang memperoleh MOJAF juga menunjukkan peningkatan kinerja insulin serta perbaikan profil lemak darah melalui penurunan kadar kolesterol total dan trigliserida.

Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, Dr. Putra Santoso menegaskan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap pengujian laboratorium.

"MOJAF belum dapat diklaim aman dan efektif untuk digunakan langsung sebagai obat diabetes pada manusia. Langkah berikutnya adalah melakukan uji klinis untuk memastikan keamanan, dosis yang tepat, serta efektivitasnya pada berbagai kelompok masyarakat," tegasnya.

Ia menambahkan, apabila penelitian lanjutan berhasil membuktikan manfaatnya pada manusia, bukan tidak mungkin tepung bengkuang termodifikasi akan menjadi salah satu produk pangan fungsional unggulan Indonesia.

This research is funded by the Indonesian Endowment Fund for Education (LPDP) on behalf of the Indonesian Ministry of Higher Education, Science and Technology and managed under the EQUITY Program (Contract No. 4304/B3/DT.03.08/2025).(*)

Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik