Padang (UNAND) – Tanaman Tithonia diversifolia atau tithonia yang selama ini banyak tumbuh liar di tepi jalan, pematang sawah, lahan kosong, hingga area perkebunan ternyata memiliki potensi besar sebagai sumber pakan lokal bagi ternak ruminansia.
Hasil penelitian yang dilakukan dosen Departemen Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Universitas Andalas (UNAND), Dr. Ir. Roni Pazla, S.Pt., M.P., IPM., ASEAN Eng., menunjukkan bahwa pemanfaatan tithonia dalam formulasi ransum yang tepat mampu meningkatkan pemanfaatan nutrien, mendukung produksi susu kambing perah, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pakan konvensional.
Menurut Roni, biaya pakan masih menjadi tantangan utama dalam usaha peternakan ruminansia. Ketersediaan hijauan berkualitas sering berfluktuasi, terutama saat musim kemarau, sementara penggunaan konsentrat membutuhkan biaya yang relatif tinggi. Kondisi tersebut mendorong perlunya pemanfaatan sumber daya lokal yang mudah diperoleh, bernilai gizi tinggi, serta berkelanjutan.
"Tithonia merupakan tanaman yang tumbuh cepat, mudah dibudidayakan, dan memiliki kandungan protein kasar sekitar 19 hingga 25 persen. Kandungan ini menjadikannya salah satu hijauan yang potensial untuk mendukung kebutuhan nutrisi ternak," jelasnya pada Rabu (15/7).
Selain kaya protein, tithonia juga mengandung mineral dan asam amino esensial yang berperan penting dalam mendukung aktivitas mikroorganisme rumen. Mikroorganisme tersebut membantu proses pencernaan serat sehingga pakan dapat dimanfaatkan lebih efisien oleh ternak. Namun demikian, Dr. Roni menegaskan bahwa penggunaan tithonia tetap harus disesuaikan dengan formulasi ransum karena tanaman ini juga mengandung senyawa antinutrisi seperti tanin dan asam fitat yang dapat menurunkan daya cerna apabila diberikan secara berlebihan.
Melalui penelitian in vitro menggunakan cairan rumen, tim peneliti menemukan bahwa formulasi terbaik terdiri atas 50 persen rumput Pakchong, 40 persen tithonia, 9 persen konsentrat, dan 1 persen mineral. Komposisi tersebut menghasilkan tingkat kecernaan nutrien yang tinggi, menjaga keseimbangan fermentasi rumen, serta menghasilkan produksi gas metana yang lebih rendah dibandingkan formulasi lainnya. Sebaliknya, peningkatan penggunaan tithonia di atas 45 persen justru menyebabkan penurunan kecernaan dan efisiensi fermentasi.
Potensi tithonia juga dibuktikan melalui penelitian pada kambing perah Peranakan Etawa (PE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tithonia dalam ransum mampu meningkatkan konsumsi bahan kering, konsumsi protein, serta kadar lemak susu tanpa menurunkan produksi susu. Pada penelitian lanjutan yang mengombinasikan tithonia dengan bungkil inti sawit, konsentrat, dan daun katuk, produksi susu meningkat dari sekitar 859 mililiter menjadi lebih dari 1.061 mililiter per ekor per hari. Selain itu, kandungan asam amino esensial seperti lisin dan leusin pada susu juga mengalami peningkatan.

Roni menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas tersebut merupakan hasil formulasi ransum yang seimbang. Tithonia berfungsi sebagai sumber hijauan dan protein, sementara bahan pakan lain berkontribusi memenuhi kebutuhan energi serta senyawa bioaktif yang mendukung proses laktasi. Oleh karena itu, penerapannya di tingkat peternak perlu dilakukan secara bertahap dengan mencampurkan tithonia bersama hijauan dan sumber energi lainnya.
Melalui hasil penelitian ini, tithonia tidak lagi dipandang sebagai gulma, tetapi berpotensi menjadi sumber protein lokal yang mendukung efisiensi biaya pakan, meningkatkan produktivitas kambing perah, serta memperkuat kemandirian pakan bagi peternak.
This research is funded by the Indonesian Endowment Fund for Education (LPDP) on behalf of the Indonesian Ministry of Higher Education, Science and Technology and managed under the EQUITY Program (Contract No. 4304/B3/DT.03.08/2025).(*)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik
