Jakarta (UNAND) — Rektor Universitas Andalas (UNAND), Dr. Efa Yonnedi, SE, MPPM, Akt, menjadi panelis dalam Global South Dialogue: China–Indonesia Roundtable Forum di Jakarta, Senin (19/10). Forum ini mempertemukan kalangan pemerintah, akademisi, media, dan dunia usaha untuk membahas penguatan kerja sama Indonesia–Tiongkok serta pembangunan bersama negara-negara Global Selatan.

Rektor Efa Yonnedi menjadi narasumber pada Dialog Tematik I yang membahas prinsip konsultasi, kontribusi bersama, dan manfaat bersama dalam membangun hubungan Indonesia–Tiongkok. Sesi ini menempatkan kemitraan yang saling menguntungkan sebagai landasan untuk memperkuat hubungan pembangunan kedua negara.

Kehadiran Rektor UNAND membawa perspektif pendidikan tinggi dalam dialog lintas sektor tersebut. Di tengah pembahasan kerja sama ekonomi dan pembangunan, keterlibatan perguruan tinggi memberikan ruang bagi penguatan dimensi pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia dalam hubungan bilateral.

Rektor UNAND secara khusus mengangkat kerja sama pendidikan, pertukaran antarwarga, pengembangan talenta, serta kerja sama praktis melalui kerangka kemitraan Guijiang Workshop sebagai bidang kontribusi yang diharapkan dari UNAND. Penyelenggara juga menyoroti peran universitas dalam pendidikan tinggi, riset, dan kerja sama internasional, serta kepemimpinan Efa Yonnedi dalam memperkuat pertukaran akademik dan talenta Indonesia–Tiongkok.

Lingkup tersebut memperluas konteks hubungan kedua negara hingga pada penguatan kapasitas manusia dan hubungan antarmasyarakat. Bagi perguruan tinggi, forum ini menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif akademik dengan kebutuhan kebijakan publik dan dunia usaha dalam membangun kerja sama yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dialog Tematik I dipandu Guo Yanjun, profesor dari Universitas Urusan Luar Negeri Tiongkok. Selain Rektor UNAND, panel menghadirkan Adi Harsono dari Perhimpunan Alumni Indonesia yang Menempuh Pendidikan di Tiongkok (PERHATI), Kepala Perwakilan China Council for the Promotion of International Trade (CCPIT) di Indonesia Niu Liangliang, Jona Widhagdo Putri, serta Direktur Komunikasi Strategis dan Riset Gentala Institute Christine Susanna Tjhin.

Diselenggarakan oleh Global Times, forum tersebut diikuti lebih dari 150 peserta dari berbagai sektor di Indonesia dan Tiongkok. Pembahasan mencakup hubungan bilateral, penguatan kerja sama Tiongkok–ASEAN, serta pembangunan yang berpusat pada masyarakat.

Presiden sekaligus Pemimpin Redaksi Global Times Guan Kejiang menyoroti keterkaitan agenda modernisasi Tiongkok dengan Visi Indonesia Emas 2045. Ia berharap forum tersebut dapat memperluas ruang bagi suara Indonesia, Tiongkok, ASEAN, dan negara-negara Global Selatan dalam percakapan internasional.

Sementara itu, Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas, Maliki, menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berimbang. Menurutnya, investasi dan penguatan teknologi perlu berjalan bersama peningkatan kemampuan sumber daya manusia serta sistem perlindungan sosial agar pembangunan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain sesi yang menghadirkan Rektor UNAND, forum menggelar dua dialog tematik lainnya mengenai sinergi pembangunan Tiongkok–ASEAN dan pembangunan bersama untuk mendorong tatanan internasional yang lebih adil. Ketiga sesi tersebut menghubungkan agenda kerja sama antarnegara dengan kebutuhan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.(*)

Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik