Padang (UNAND) — Popularitas kimpul di media sosial membuka peluang untuk mengenalkan kembali kekayaan pangan lokal Indonesia. Di balik tren kuliner yang mengundang tawa, umbi ini menyimpan potensi sebagai sumber pangan alternatif sekaligus bahan baku produk bernilai ekonomi.
Guru Besar Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Andalas (UNAND), Prof. Tuty Anggraini, S.T.P., M.P., Ph.D., menilai momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat diversifikasi pangan dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada beras.
Tren kimpul mencuat melalui konten kreator yang mengolah berbagai makanan dengan mengganti bahan utamanya menggunakan kimpul. Jargon “karena saya tidak punya bahannya, saya ganti kimpul” turut memantik rasa penasaran masyarakat terhadap potensi umbi lokal tersebut.
Menurut Prof. Tuty, kimpul dan beragam umbi lainnya merupakan sumber karbohidrat yang dapat memperkaya pilihan konsumsi masyarakat. Pemanfaatannya perlu disertai pemahaman mengenai jenis bahan, cara pengolahan, porsi, serta keseimbangan gizi.
Ia menyoroti kuatnya anggapan “belum makan kalau belum makan nasi” sebagai tantangan dalam pengenalan pangan alternatif. Karena itu, perubahan pola konsumsi dapat dilakukan secara bertahap melalui variasi menu harian.
Sebagai contoh, masyarakat dapat memilih ubi rebus untuk sarapan, nasi pada siang hari, serta olahan umbi lainnya pada malam hari. Variasi tersebut tetap perlu dilengkapi sumber protein, sayuran, dan buah.
Di Sumatera Barat, pengolahan umbi telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, antara lain melalui keripik singkong atau sanjai. Namun, potensinya masih terbuka luas untuk dikembangkan melalui inovasi produk dan teknologi pengolahan.
Prof. Tuty menjelaskan, pengolahan umbi menjadi tepung dapat memperpanjang umur simpan sekaligus memperluas penggunaannya sebagai bahan pangan. Langkah ini juga berpeluang meningkatkan nilai jual dibandingkan pemasaran dalam bentuk segar.
Pada tahap lebih lanjut, pati umbi dapat dikembangkan menjadi dekstrin, maltodekstrin, maupun bahan pembentuk edible film. Pengembangan lapisan berbasis pati tersebut masih memerlukan penelitian untuk memastikan karakteristik dan kesesuaiannya bagi berbagai kebutuhan.
Menurutnya, diversifikasi pangan membutuhkan keterlibatan masyarakat, peneliti, dan pelaku industri. Kebiasaan mengonsumsi pangan lokal perlu berjalan bersama pengembangan produk yang aman, menarik, dan memiliki pasar.
Dengan demikian, popularitas kimpul dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis potensi lokal.(SA)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik
