Pada Rabu, 7 Oktober 2026, sekitar pukul 15.00 WIB, saat pasang perbani (neap tide) baru saja naik sekitar 20 centimeter, sebuah kapal nelayan jenis PS atau yang akrab disapa kapal pompong bertolak dari Talao (laguna) Mandiangin. Kapal kayu berukuran panjang 11 meter, lebar 2,5 meter, 3 GT, mesin 33 PK dengan kapasitas tampung 4,5 hingga 5 ton tersebut membawa harapan tiga nyawa nelayan: Erdi Sikumbang (58) sebagai nakhoda, serta dua awaknya, Tuyung (45) dan Eldi (50). Kapal tersebut merupakan aset penghidupan milik Muziril (70), seorang sesepuh nelayan setempat.
Dalam kondisi normal, para nelayan Mandiangin akan memilih keluar melaut melalui Sungai Batang Mandiangin. Namun, pilihan ideal itu kini tinggal kenangan. Alur alami sungai tersebut telah mengalami pendangkalan parah akibat akumulasi sedimentasi lumpur yang diduga kuat berasal dari aktivitas pembukaan dan pengelolaan perkebunan kelapa sawit di daerah hulu sungai. Nelayan juga memiliki opsi rute alternatif melalui sudetan sepanjang kurang lebih 2 kilometer menuju Muara Bingung untuk menembus laut lepas. Sayangnya, sore itu laut sedang tidak dalam kondisi pasang purnama. Pasang perbani membuat celah sudetan menjadi sangat sempit dan terlalu dangkal untuk dilalui oleh badan kapal pompong.
Tanpa pilihan lain yang aman, kapal terpaksa berbelok menelusuri cabang Batang Masang menuju Muara Siayuah. Muara Siayuah merupakan satu dari tiga muara utama sistem Batang Masang, selain Muara Katiagan di Jorong Katiagan dan Muara Masang di Jorong Masang. Secara teknis hidrolika, kondisi Muara Siayuah sudah sangat kritis dan memprihatinkan akibat sedimentasi limbah lumpur kebun sawit dan transpor sedimen menyusur pantai (longshore sediment transport). Sebenarnya, rute ini sangat berisiko dan tidak layak dilalui oleh navigasi pelayaran nelayan. Namun bagi nelayan Mandiangin, menerobos bahaya adalah satu-satunya cara agar dapur di rumah tetap ngebul.
Kapal pompong tersebut akhirnya berhasil menembus keganasan muara dan melaju mengarungi Samudra Hindia. Sekitar pukul 17.30 WIB, kapal tiba di lokasi penangkapan ikan. Sebanyak 45 set jaring dibentangkan ke dalam lautan. Proses pengangkatan jaring dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dan selesai dua jam kemudian. Dengan membawa muatan hasil tangkapan, kapal memutar haluan untuk pulang dan tiba kembali di mulut Muara Siayuah sekitar pukul 22.40 WIB dalam situasi malam yang pekat karena muara tersebut dilengkapi mercu suar.
Di mulut muara, sebuah drama kemanusiaan terjadi. Sebuah kapal nelayan lain terlihat sudah lebih dulu kandas di atas dangkalan pasir akibat kedalaman alur yang tidak memadai. Didorong oleh rasa solidaritas antar-penangkap ikan yang kental, Erdi Sikumbang mengarahkan kapal pompongnya mendekat untuk memberikan pertolongan. Naas, niat baik tersebut berujung petaka. Kapal pompong milik Muziril justru ikut terjebak di atas beting pasir yang dangkal.
Dihantam gelombang muara, kapal mulai oleng tak terkendali. Air laut dengan cepat membilas dan memasuki lambung kapal hingga akhirnya karam sepenuhnya. Melihat kejadian tersebut, sekitar 20 kapal nelayan lain dari Talao Mandiangin segera datang memberikan bantuan darurat. Secara gotong-royong, mereka berusaha menarik kapal yang tenggelam tersebut menuju Talao hingga pukul 04.00 WIB dini hari. Namun musibah tak dapat ditolak; badan kapal pompong yang terseret benturan pasir dan hempasan gelombang akhirnya pecah dan hancur berkeping-keping. Total kerugian material ditaksir mencapai Rp30 juta—sebuah angka yang sangat besar bagi keluarga nelayan kecil.
Akar Masalah Ekologis dan Aksesibilitas Nelayan
Tragedi yang menimpa Erdi Sikumbang dan Muziril bukanlah musibah alam murni, melainkan dampak kumulatif dari degradasi lingkungan dan pembiaran infrastruktur pesisir. Masyarakat nelayan di pesisir Sumatera Barat bukanlah kelompok masyarakat yang kaya raya. Dari hari ke hari, volume tangkapan mereka kian merosot drastis. Limbah dari perkebunan dan alih fungsi lahan di hulu tidak hanya menyumbang sedimen pendangkalan, tetapi juga merusak ekosistem pesisir sehingga kawanan ikan kian menjauh ke tengah lautan.
Untuk menyesuaikan diri dengan perubahan ekosistem ini, nelayan sebenarnya membutuhkan armada kapal yang lebih besar, seperti kapal bagan, agar mampu berlayar lebih jauh dan beroperasi di malam hari. Namun, jangankan mengoperasikan kapal bagan yang berukuran besar, kapal pompong yang berukuran lebih kecil pun kini harus berjuang mati-matian hanya untuk bisa menembus muara. Terisolasi dari akses laut lepas akibat pendangkalan muara sama saja dengan mematikan urat nadi perekonomian masyarakat pesisir Mandiangin secara perlahan.
Solusi Rekayasa Pantai: Pembangunan Jetty dan Swakelola
Secara keilmuan Hidrolika Sungai dan Rekayasa Pantai, permasalahan pendangkalan di Muara Siayuah dapat diselesaikan secara permanen melalui intervensi rekayasa struktur pantai. Salah satu solusi teknis yang paling efektif adalah penataan alur muara dengan pembangunan struktur bangunan pelindung muara atau jetty. Jetty berfungsi untuk mengarahkan aliran air sungai agar memiliki kecepatan yang cukup untuk membilas sedimen (flushing capacity) sekaligus menahan masuknya sedimen pasir dari transpor sejajar pantai.
Sebagai akademisi yang mendalami bidang Hidrolika Sungai dan Rekayasa Pantai di Universitas Andalas, penulis telah berulang kali menyampaikan aspirasi serta kaji teknis ini kepada Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Provinsi Sumatera Barat, yang memegang kewenangan administratif dan teknis atas pengelolaan Wilayah Sungai (WS) Batang Masang. Penulis secara tegas mengusulkan agar Muara Siayuah segera dibuka dan distabilkan alurnya melalui pembangunan bangunan pelindung jetty.
Bahkan, guna meringankan beban anggaran daerah dan mempercepat proses perencanaan, penulis telah menyatakan kesiapan secara terbuka untuk hadir bertindak sebagai tenaga ahli pendamping. Dinas SDABK Provinsi Sumatera Barat dapat melakukan pola swakelola perencanaan teknis, sementara penulis beserta tim kepakaran dari perguruan tinggi siap mendedikasikan waktu, pikiran, dan keahlian demi keselamatan serta kesejahteraan para nelayan. Namun sangat disayangkan, hingga saat ini belum ada langkah konkret atau respon nyata dari pihak pemegang kebijakan.
Memanggil Hadirnya Negara di Pesisir Sumatera Barat
Pilihan sikap pasif dari instansi terkait memberikan kesan mendalam bahwa negara belum hadir dalam menjamin keselamatan kerja dan keberlangsungan hidup nelayan Mandiangin. Selama ini, para nelayan memang telah terbiasa bertarung melawan ganasnya alam dan sulitnya ekonomi dalam kesenyapan, tanpa banyak menuntut. Ketidakhadiran negara mungkin tidak begitu terasa ketika mereka masih bisa melaut walau dengan bersusah payah.
Namun, ketika musibah seperti kapal karam, kehancuran armada, dan ancaman jiwa terus berulang di Muara Siayuah, kepada siapa lagi rakyat kecil ini harus meminta pertolongan jika bukan kepada pemerintah yang memegang mandat anggaran dan kebijakan?
Kita berharap Gubernur Sumatera Barat beserta jajaran DPRD Provinsi Sumatera Barat dapat memberikan perhatian serius dan prioritas anggaran pada penanganan muara-muara kritis di pesisir barat, khususnya Muara Siayuah Batang Masang. Sinergi antara keahlian akademis perguruan tinggi dan kewenangan eksekutif-legislatif adalah kunci utama untuk mengakhiri penderitaan panjang nelayan Mandiangin. Jangan menunggu jatuh korban jiwa berikutnya baru kita berbenah.

Gambar 1. Kondisi fisik kapal pompong milik nelayan yang hancur dan karam di kawasan Talao Mandiangin setelah berhasil dievakuasi warga dari mulut Muara Siayuah, Pasaman Barat. (Dokumen Jorong Mandiangin/Alfian, 2026).

Gambar 2. Tangkapan citra satelit Google Earth yang memperlihatkan morfologi kawasan muara dan sistem jaringan hidrologi di Mandiangin, mencakup posisi Muara Siayuah (0° 05' 54.57'' LS; 99° 45' 24.07'' BT), Muara Bingung, Talao, Sungai Batang Mandiangin, Sungai Batang Masang, serta sudetan buatan yang menghubungkan Batang Mandiangin dengan Muara Bingung melintasi Batang Masang. (Sumber: Olahan Citra Google Earth, 2026).
Penulis: Prof. Mas Mera (Guru Besar Fakultas Teknik UNAND)
