Pemanasan global sudah masuk ke kandang sapi perah kita. Ini bukan lagi prediksi masa depan, melainkan kenyataan yang setiap hari dialami peternak.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu rata-rata tahunan Indonesia naik sekitar 1,02°C selama periode 1981-2024. Di Padang Panjang, yang selama ini dianggap sejuk dan paling ideal untuk sapi perah di Sumatera Barat, suhu rata-rata naik dari 22,7°C pada 2020 menjadi 23,0°C pada 2024, sedangkan suhu maksimum melonjak dari 27,5°C menjadi 29,8°C hanya dalam empat tahun. Kenaikan dua derajat dalam waktu singkat adalah lompatan besar bagi ternak. Bagi manusia mungkin hanya terasa lebih gerah dan bisa diatasi dengan kipas, bagi sapi perah itu berarti tubuhnya harus bekerja keras setiap hari untuk bertahan hidup, bukan untuk berproduksi.

Posisi persusuan kita rapuh sejak awal. Menurut Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian dan BPS, populasi sapi perah nasional stagnan di kisaran ratusan ribu ekor dan terkonsentrasi di Jawa. Produksi susu segar dalam negeri baru memenuhi sekitar seperlima kebutuhan nasional, sisanya hampir empat perlima harus ditutup dengan impor dalam bentuk skim, bubuk, dan susu olahan lain. Produktivitas per ekor masih rendah dan sangat beragam antar daerah. Konsumsi terus tumbuh jauh lebih cepat daripada produksi. Jika faktor iklim tidak dimasukkan dalam strategi, program ambisius penambahan populasi dan perluasan peternakan ke dataran rendah hanya akan memindahkan masalah dari satu lokasi ke lokasi lain yang lebih panas.

Mengapa sapi perah begitu rentan? Sapi Friesian Holstein yang mendominasi populasi di Indonesia pada dasarnya adalah sapi iklim sedang. Ia nyaman pada suhu belasan hingga pertengahan dua puluhan dengan kelembapan rendah. Untuk menghasilkan susu, tubuhnya sudah menghasilkan panas metabolik yang besar dari fermentasi pakan di rumen dan dari proses sintesis susu itu sendiri. Ketika udara luar panas dan lembap, panas dari dalam tubuh sulit dibuang keluar. Pendinginan alami melalui penguapan napas dan keringat menjadi tidak efektif. Energi yang seharusnya menjadi susu akhirnya terpaksa dipakai untuk mendinginkan tubuh.

Riset kami di Sumatera Barat membuktikan bahwa dataran tinggi pun tidak lagi aman. Selama ini ada anggapan dataran tinggi pasti sejuk sehingga sapi pasti nyaman. Anggapan itu keliru. Sapi di dataran rendah mengalami tekanan panas sejak pagi hari dan berlangsung sepanjang hari. Sapi di dataran tinggi memang lebih sejuk pada malam hingga pagi hari, tetapi mengalami tekanan panas yang nyata dan berkepanjangan pada siang hingga sore hari. Kandang yang terasa sejuk pada pagi hari ternyata menyimpan panas pada siang hari. Akibatnya kesenjangan produksi sangat lebar: produksi susu di dataran rendah jauh lebih rendah dibanding dataran tinggi, dan kualitas seperti kadar lemak dan protein ikut menurun. Peternak di kedua lokasi sama-sama mengeluh susu tidak stabil terutama pada musim panas.

Ada satu hal yang sering luput, yakni panas hari ini menekan susu esok hari. Dampak panas tidak berhenti saat matahari terbenam. Ketika sapi kepanasan pada siang hari, nafsu makannya turun, keseimbangan hormonnya terganggu, dan metabolismenya berubah. Kondisi itu tidak langsung pulih pada malam hari. Peternak sering heran mengapa susu pagi tetap rendah padahal udara pagi terasa sejuk. Jawabannya sederhana: sapinya masih membayar panas kemarin. Inilah efek terbawa yang membuat penilaian hanya berdasarkan rata-rata harian menjadi menipu. Rata-rata terlihat normal, padahal di dalamnya ada jam-jam kritis yang merusak.

Mekanisme kerusakan itu bekerja berlapis dan saling menguatkan. Pertama, sapi secara naluriah mengurangi makan untuk menekan panas dari pencernaan. Niatnya baik untuk bertahan, tetapi akibatnya bahan baku susu berkurang drastis. Kedua, sisa energi yang ada dialihkan dari ambing ke sistem pendinginan tubuh: frekuensi napas meningkat menjadi cepat dan dangkal, denyut jantung meningkat, pembuluh darah melebar, dan keringat menguap. Semua proses itu butuh energi yang tidak sedikit. Ketiga, sistem hormon kacau. Hormon stres meningkat, hormon pengatur metabolisme menurun, dan hormon reproduksi berfluktuasi sehingga tanda birahi menjadi tidak jelas, sel telur berkualitas rendah, embrio muda mudah mati, dan perkawinan harus diulang berkali-kali. Masa kosong menjadi panjang dan kelahiran pedet tertunda. Keempat, ekosistem di dalam rumen terganggu. Mikroba pengurai serat yang peka panas menurun, pola fermentasi berubah, suasana rumen menjadi terlalu asam, dan risiko gangguan pencernaan meningkat. Inilah lingkaran setan yang lengkap: panas, makan turun, rumen asam, susu turun, kondisi tubuh turun, reproduksi gagal, dan pendapatan peternak ikut turun.

Temuan paling praktis di lapangan adalah kipas saja tidak cukup. Banyak peternak sudah berinvestasi kipas, tetapi keluhan tidak hilang. Penyebabnya adalah kelembapan udara di dalam kandang yang sangat tinggi, sering di atas tujuh puluh persen. Pada kondisi lembap, penguapan tidak berjalan sehingga panas tidak terbuang. Kipas hanya menggerakkan udara panas dan lembap dari satu sudut ke sudut lain. Tanpa atap yang memantulkan panas, tanpa aliran udara silang yang baik, dan tanpa bantuan pendinginan aktif, sapi tetap stres meski dipelihara di dataran tinggi.

Solusinya harus adaptif terhadap iklim, bukan sekadar tambah ekor. Pertama, benahi kandang tropis secara serius. Perbaiki orientasi bangunan, gunakan atap pemantul panas, buka ventilasi silang, sediakan naungan dan lantai berdrainase baik, serta tambahkan pendinginan aktif berupa pengabutan atau penyemprotan air yang dikombinasi kipas, terutama pada jam-jam terpanas siang hingga sore hari. Kandang sejuk adalah investasi, bukan biaya.

Kedua, selamatkan pakan dan air yang merupakan fondasi paling dasar. Beri pakan utama pada pagi dan sore yang sejuk agar sapi nyaman makan, jaga kualitas, kecernaan, dan keseimbangan ransum, serta pastikan air minum bersih selalu tersedia dalam jumlah cukup. Hal ini sejalan dengan penekanan Kementerian Pertanian bahwa produksi susu yang optimal tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul, tetapi oleh pakan berkualitas dan air minum bersih setiap hari, karena sebagian besar susu adalah air. Saat stres panas, sapi makan lebih sedikit dan kehilangan banyak cairan melalui napas dan keringat, sehingga dua kebutuhan dasar inilah yang pertama kali runtuh dan harus pertama kali diamankan.

Ketiga, jadikan pengamatan suhu dan kelembapan sebagai kebiasaan harian semudah mengecek harga pakan. Alat ukur digital murah sudah cukup bagi peternak rakyat untuk memutuskan kapan menyemprotkan air, kapan memberi pakan tambahan, dan kapan mengistirahatkan ternak di tempat teduh. Catatan panas kemarin dapat dipakai untuk mengantisipasi risiko penurunan susu hari ini. Inilah sistem peringatan dini versi peternak rakyat yang murah tetapi efektif.

Ke depan, inilah momentum untuk naik kelas menuju peternakan cerdas sederhana dan sistem terpadu. Sensor murah, pencatatan produksi melalui telepon genggam, dan peringatan dini panas memungkinkan peternak mengambil keputusan cepat berbasis data, bukan perasaan. Jika dipadukan dengan sistem terpadu sapi dan tanaman, limbah pertanian dapat menjadi pakan, sedangkan kotoran dapat menjadi pupuk organik dan biogas. Biaya produksi turun, ketersediaan pakan lebih lestari sepanjang musim, dan emisi ikut turun. Langkah ini sekaligus mendukung ketahanan pangan dan penanganan perubahan iklim.

Pada akhirnya susu bukan sekadar komoditas dagang. Ia adalah sumber protein hewani, kalsium, dan penopang pencegahan stunting. Gangguan pada sapi perah berarti gangguan pada gizi anak, pendapatan keluarga peternak rakyat, dan stabilitas rantai pasok nasional. Pemanasan global sudah berada di dalam kandang kita. Pilihannya hanya dua: beradaptasi dengan kandang sejuk, pakan adaptif, dan teknologi tepat guna, atau membiarkan cita-cita kemandirian susu tinggal di atas kertas.

Infografis dibuat oleh penulis, generated by AI

Penulis: Eli Ratni (Dosen Departemen Teknologi Produksi Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Andalas)