Seseorang membuka aplikasi investasi pada Jumat pagi.
Angka-angka yang biasanya berwarna hijau mendadak berubah merah. Nilai portofolionya berkurang puluhan juta rupiah hanya dalam beberapa menit. Ia menutup aplikasi, menarik napas panjang, lalu membatalkan rencana membeli mobil baru.
Masuk akal.
Namun di tempat lain, seorang investor dengan pendapatan tinggi mengalami kejadian serupa. Bukannya menahan pengeluaran, ia justru membeli jam tangan mahal yang sudah lama diincarnya.
Mengapa kerugian yang sama dapat membuat seseorang menabung, tetapi mendorong orang lain berbelanja?
Jawabannya ternyata bukan sekadar terletak pada jumlah uang yang hilang.
Ketika Bursa Mendadak Tersungkur
Pada 16 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan turun begitu tajam sehingga Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan setelah penurunannya mencapai 8 persen.
IHSG akhirnya ditutup merosot sekitar 11,6 persen pada hari tersebut. Pada perdagangan berikutnya, indeks kembali turun 3,6 persen. Penurunan selama dua hari itu dianggap sebanding dengan penurunan ketika krisis finansial Asia 1998. Pasar kemudian sempat bangkit sekitar 5,3 persen pada 20 Oktober 2026.
Kepanikan itu dipicu oleh peringatan MSCI mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Persoalan transparansi kepemilikan saham, perdagangan terkoordinasi, dan penegakan aturan menjadi perhatian.
Kejadian tersebut tidak hanya penting bagi segelintir pengelola dana besar.
Berdasarkan statistik Kustodian Sentral Efek Indonesia, jumlah investor pasar modal telah mencapai 32.166.493 SID pada akhir September 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 10,25 juta merupakan SID saham dan surat berharga lainnya. Perlu dicatat, SID pasar modal mencakup pula investor reksa dana dan surat berharga negara, sehingga tidak semuanya terkena penurunan IHSG secara langsung.
Namun puluhan juta SID menunjukkan bahwa gejolak pasar modal semakin dekat dengan kehidupan rumah tangga Indonesia.
Persoalannya, apakah berkurangnya nilai investasi otomatis membuat konsumen berhenti berbelanja?
Mari kita telaah dulu.
Merasa Miskin Belum Tentu Benar-Benar Miskin
Sebuah penelitian terbaru dalam Journal of Marketing Research berjudul “Out of Control: The Interplay of Subjective Poverty and Income on Spending” menawarkan jawaban yang menarik.
Penelitian yang dilakukan Joe J. Gladstone dan Silvia Bellezza tersebut membedakan kemiskinan objektif dengan kemiskinan subjektif.
Kemiskinan objektif berkaitan dengan sumber daya yang benar-benar dimiliki seseorang: pendapatan, tabungan, dan aset.
Sebaliknya, kemiskinan subjektif adalah perasaan bahwa uang yang kita miliki tidak cukup.
Keduanya tidak selalu berjalan beriringan.
Orang yang pendapatannya terbatas dapat merasa cukup karena kebutuhannya terkendali. Sebaliknya, orang berpendapatan tinggi dapat merasa miskin karena melihat nilai portofolionya jatuh, memiliki utang besar, atau membandingkan dirinya dengan orang yang jauh lebih kaya.
Seseorang mungkin masih memiliki rumah, kendaraan, tabungan, dan penghasilan yang baik. Namun ketika sahamnya anjlok, ia dapat merasa seolah-olah keamanan finansialnya ikut menghilang.
Perasaan itulah yang kemudian memengaruhi perilaku konsumsi.
Si Miskin Mengerem, Si Kaya Menekan Gas
Melalui lima studi yang memanfaatkan catatan transaksi, survei longitudinal, dan eksperimen, penelitian tersebut menemukan pola yang berlawanan.
Ketika orang berpendapatan rendah merasa semakin miskin, mereka cenderung mengurangi pengeluaran. Mereka menjadi lebih peka terhadap harga, mempertimbangkan biaya dari setiap keputusan, dan memusatkan uang pada kebutuhan yang paling mendesak.
Bagi kelompok ini, mengurangi belanja merupakan cara untuk mendapatkan kembali rasa aman.
Mereka mungkin menunda mengganti telepon seluler, mengurangi makan di luar, memilih kemasan yang lebih kecil, berpindah ke merek yang lebih murah, atau meningkatkan tabungan darurat.
Namun orang berpendapatan tinggi dapat memberikan respons yang berbeda.
Ketika kelompok ini merasa miskin, pengeluaran mereka justru dapat meningkat, terutama untuk produk yang menunjukkan status.
Mengapa?
Karena bagi orang yang masih mempunyai sumber daya, perasaan miskin tidak selalu menjadi ancaman terhadap kebutuhan pokok. Ia lebih menyerupai ancaman terhadap identitas.
Penurunan portofolio membuat mereka merasa tidak lagi sekaya, seaman, atau seberhasil sebelumnya. Untuk mengembalikan perasaan tersebut, mereka dapat membeli sesuatu yang menegaskan kembali kemampuan finansialnya.
Mobil baru, tas mewah, jam tangan mahal, atau liburan eksklusif seolah-olah menyampaikan pesan, “Saya masih baik-baik saja.”
Inilah yang disebut konsumsi kompensatoris.
Belanja tidak lagi sekadar ditujukan untuk mendapatkan barang, tetapi juga untuk memperbaiki perasaan tentang diri sendiri.
Persoalannya adalah Rasa Kendali
Kedua kelompok sebenarnya menghadapi persoalan psikologis yang sama: kehilangan rasa kendali.
Ketika nilai investasi turun tanpa dapat dicegah, konsumen menyadari bahwa kondisi keuangannya tidak sepenuhnya berada di bawah kuasanya. Berita tentang pelemahan rupiah, arus modal keluar, dan ketidakpastian ekonomi dapat memperbesar perasaan tersebut.
Namun cara mereka mendapatkan kembali kendali ditentukan oleh sumber daya yang tersedia.
Konsumen berpendapatan rendah melakukannya dengan menjaga uang yang tersisa.
Konsumen berpendapatan tinggi dapat melakukannya dengan menggunakan uang yang masih tersedia.
Yang satu merasa lebih berkuasa ketika berhasil tidak membeli. Yang lain merasa lebih berkuasa ketika masih mampu membeli.
Tentu penelitian tersebut tidak secara khusus meneliti kejatuhan IHSG maupun konsumen Indonesia. Karena itu, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa seluruh investor kaya Indonesia pasti berbelanja lebih banyak atau seluruh investor kecil pasti berhenti berbelanja.
Namun temuan tersebut memberikan lensa penting untuk memahami bahwa guncangan pasar tidak menghasilkan satu respons konsumen yang seragam.
Tidak Punya Saham Pun Bisa Ikut Cemas
Dampak psikologis kejatuhan IHSG juga tidak berhenti pada pemilik saham.
Orang yang tidak mempunyai portofolio investasi dapat melihat kejatuhan indeks sebagai tanda bahwa perekonomian sedang bermasalah. Ia mungkin mulai mengkhawatirkan pekerjaannya, pendapatan usahanya, harga barang impor, atau kemampuan membayar cicilan.
Tidak ada uangnya yang hilang di bursa.
Namun rasa amannya dapat ikut turun.
Karena itulah hubungan antara pasar saham dan konsumsi tidak hanya bekerja melalui kekayaan yang benar-benar berkurang. Ia juga dapat bekerja melalui berita, persepsi, dan ekspektasi.
Berita buruk yang terus-menerus dapat membuat konsumen merasa lebih miskin sebelum pendapatannya benar-benar berkurang.
Jangan Asal Memberikan Diskon
Bagi pelaku bisnis, memahami perbedaan tersebut sangat penting.
Ketika konsumen berpendapatan rendah sedang merasa tidak aman, promosi yang agresif belum tentu efektif. Diskon besar pun tidak selalu cukup apabila konsumen menganggap pembelian tersebut tidak diperlukan.
Mereka lebih membutuhkan kepastian nilai.
Perusahaan dapat menekankan daya tahan produk, penghematan jangka panjang, jaminan, harga yang transparan, atau pilihan kemasan yang lebih terjangkau. Pesannya bukan sekadar “belilah sekarang”, melainkan “uang Anda digunakan secara bijaksana”.
Untuk konsumen berpendapatan tinggi, pendekatannya berbeda. Mereka mungkin masih memiliki kemampuan membeli, tetapi sedang kehilangan rasa percaya diri dan kendali.
Merek dapat menawarkan personalisasi, layanan eksklusif, kemudahan menentukan pilihan, atau pengalaman yang membuat konsumen merasa memegang kendali. Namun perusahaan juga perlu berhati-hati agar tidak mengeksploitasi kecemasan untuk mendorong pembelian berlebihan.
Sebab penjualan yang meningkat hari ini dapat berubah menjadi penyesalan konsumen besok.
Bukan Hanya Angka di Layar
IHSG memang merupakan indeks pasar saham. Namun ketika jumlah investor Indonesia telah mencapai puluhan juta SID, pergerakannya semakin bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari.
Kejatuhan pasar dapat membuat sebagian orang kehilangan kekayaan. Bagi yang lain, ia menghilangkan rasa aman. Ada yang kemudian mengurangi belanja, sedangkan yang masih memiliki sumber daya mungkin justru membeli lebih banyak untuk meyakinkan dirinya bahwa keadaan masih terkendali.
Jadi, ketika IHSG anjlok, jangan langsung menyimpulkan bahwa seluruh konsumen akan berhenti berbelanja.
Pertanyaan yang lebih penting bukan hanya, “Berapa banyak uang yang mereka miliki?”
Namun juga, “Seberapa miskin mereka merasa?”
Sebab keputusan menabung atau berbelanja tidak selalu ditentukan oleh isi rekening.
Kadang-kadang, ia ditentukan oleh perasaan apakah kita masih memegang kendali atas kehidupan.
Penulis: Ares Albirru Amsal (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas)
