Bayangkan seorang wanita sedang melakukan livestreaming. Ia menjual produk yang telah diproduksinya, berbincang dengan penonton, atau melukis untuk menunjukkan bakat.

Semua berjalan biasa saja.

Lalu ia mengingatkan penonton untuk menekan tombol checkout, mengirimkan gift virtual, atau memberikan donasi agar ia dapat terus membuat konten.

Tiba-tiba arah percakapan berubah.

Ada yang tidak lagi membicarakan isi kontennya, melainkan rambut, wajah, pakaian, dan tubuhnya. Ada yang merasa berhak menggoda. Ada pula yang menganggap komentar semacam itu wajar karena sudah memberikan uang.

Seolah-olah ketika uang berpindah tangan, batas kesopanan ikut menghilang.

Bukankah sang kreator memang sedang mencari penghasilan?

Benar. Namun apakah orang yang membayar kemudian memperoleh hak untuk merendahkan orang yang menerima pembayaran?

Nanti dulu.

Ketika Tombol Donasi Mengubah Pandangan

Sebuah penelitian terbaru dalam Journal of Interactive Marketing berjudul “Women Can’t Have It All: How Monetization Fuels Sexist Behavior on Livestreaming Platforms” menemukan sebuah paradoks dalam ekonomi konten, terutama wanita.

Fitur monetisasi yang dirancang untuk membantu kreator memperoleh penghasilan ternyata dapat meningkatkan risiko perilaku seksis terhadap mereka.

Ketika seorang wanita secara terang-terangan meminta penonton membeli atau memberikan donasi, sebagian penonton laki-laki lebih mudah menganggap bahwa wanita itu sedang menggunakan penampilan dan daya tarik seksualnya untuk memperoleh uang.

Persepsi itulah yang kemudian membuka jalan bagi komentar seksis.

Padahal meminta dukungan finansial adalah sesuatu yang wajar dalam dunia kerja digital. Kreator mengeluarkan waktu, tenaga, peralatan, kreativitas, dan biaya produksi. Namun ketika kreatornya wanita, permintaan dukungan tersebut dapat dibaca secara berbeda.

Keahliannya menjadi kurang terlihat. Kerjanya dianggap bukan benar-benar kerja. Kesuksesannya dikaitkan dengan penampilan.

Di sinilah letak persoalannya.

Wanita diberikan kesempatan untuk tampil, tetapi dicurigai ketika mencari penghasilan. Ia boleh menjadi kreator, tetapi ketika terang-terangan berbicara tentang uang, profesionalitasnya mulai dipertanyakan.

Seolah-olah wanita boleh berkarya, asalkan tidak terlihat terlalu ingin berhasil.

Membayar Bukan Berarti Membeli Orangnya

Dalam bisnis konvensional, kita membeli produk atau jasa. Namun pada bisnis kreator konten, batas antara produk dan orang yang membuatnya menjadi lebih tipis.

Penonton tidak hanya menikmati konten. Mereka merasa mengenal kreatornya. Mereka mengikuti kehidupan sehari-harinya, mendengar cerita pribadinya, dan berinteraksi langsung melalui kolom percakapan.

Hubungan itu terasa dekat, tetapi sebenarnya tidak selalu setara.

Ketika penonton memberikan uang, kedekatan semu tersebut dapat berubah menjadi rasa memiliki. Ada yang mulai berpikir, “Saya sudah membayar, jadi saya berhak mendapatkan perhatian.”

Dari sini muncul persoalan baru.

Dukungan finansial tidak lagi dipahami sebagai penghargaan terhadap karya, tetapi seperti pembayaran untuk memperoleh akses pribadi terhadap kreatornya. Bukti checkout, lencana pelanggan, hadiah digital, dan status sebagai donatur kemudian menjadi semacam tanda kekuasaan.

Penelitian tersebut menemukan bahwa komentar seksis dari pelanggan berbayar cenderung dinilai lebih ringan dibandingkan komentar yang sama dari pengguna yang tidak membayar. Orang lain menjadi kurang tegas mendukung hukuman ketika pelakunya adalah pelanggan.

Uangnya tidak hanya memengaruhi pelaku. Uang juga memengaruhi orang-orang yang menyaksikannya.

Bukankah ini juga terjadi di luar ruang digital?

Pelanggan yang membayar mahal kadang merasa berhak membentak petugas. Pembeli merasa selalu benar. Pemberi uang menganggap penerima harus lebih sabar menghadapi perilakunya.

Kini pola lama itu dibawa ke dalam teknologi baru.

Bedanya, dalam livestreaming, pelecehan terjadi di hadapan banyak orang, disaksikan secara langsung, dan dapat diikuti oleh komentar lain. Satu perkataan yang dibiarkan dapat menjadi contoh. Lama-kelamaan, yang sebelumnya dianggap tidak pantas berubah menjadi kebiasaan.

Bagaimana dengan Minangkabau?

Bagi masyarakat Minangkabau, persoalan ini seharusnya menjadi bahan renungan yang lebih dalam.

Kita mengenal falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Adat bersendikan agama, dan agama menjadi sumber nilai dalam kehidupan bersama.

Minangkabau juga dikenal dengan sistem kekerabatan matrilineal. Wanita menempati posisi penting dalam keluarga dan keberlanjutan kaum. Kita mengenal figur bundo kanduang sebagai simbol kebijaksanaan, martabat, dan penjaga nilai dalam rumah gadang.

Namun penghormatan simbolik saja tidak cukup.

Apa artinya memuliakan wanita dalam pidato adat jika di ruang digital kita membiarkan mereka dipermalukan? Apa gunanya menyebut wanita sebagai limpapeh rumah nan gadang jika penghasilannya dianggap sebagai alasan untuk melecehkannya?

Falsafah adat dan agama semestinya tidak dipakai hanya untuk mengawasi pakaian atau membatasi ruang gerak wanita. Nilai itu juga harus mengatur cara laki-laki memandang, berbicara, dan memperlakukan wanita.

Kesopanan bukan kewajiban satu pihak.

Dalam masyarakat yang mengaku menjunjung adat dan syarak, menjaga martabat wanita tidak berarti menyuruh wanita menghilang dari ruang publik. Justru ruang publiklah yang harus dibuat aman agar mereka dapat berkarya tanpa kehilangan kehormatan.

Wanita Minang yang berjualan melalui siaran langsung, membuat konten, atau membangun bisnis digital tidak sedang meninggalkan adat. Mereka sedang menggunakan teknologi baru untuk melanjutkan tradisi berdagang, bekerja, dan menopang keluarga.

Yang harus dipersoalkan bukan keberanian mereka tampil atau mencari uang, melainkan perilaku orang yang menganggap uang dapat membeli martabat manusia.

Jangan Bebankan Semuanya kepada Wanita

Solusinya bukan meminta kreator wanita lebih tertutup, lebih diam, atau tidak terlalu sering mengajak penonton berdonasi.

Jika itu dilakukan, sekali lagi wanitalah yang harus menanggung biaya dari perilaku buruk orang lain.

Platform perlu ikut bertanggung jawab. Dukungan finansial sebaiknya dibingkai sebagai pembayaran untuk karya dan keberlanjutan konten, bukan akses terhadap pribadi kreator. Status pelanggan berbayar juga tidak boleh menjadi alasan untuk memperoleh perlakuan istimewa ketika melakukan pelecehan.

Moderator perlu menilai isi komentar, bukan jumlah uang yang pernah dibayarkan pengirimnya.

Penonton juga mempunyai tanggung jawab. Seksisme tidak hanya tumbuh karena ada pelaku, tetapi juga karena ada banyak orang yang melihat lalu memilih diam. Tawa, emoji, atau pembiaran dapat mengubah satu komentar menjadi norma kelompok.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar teknologi.

Ini adalah persoalan tentang cara kita memandang wanita, pekerjaan, dan uang.

Ekonomi kreator konten menjanjikan kebebasan. Namun kebebasan itu tidak lengkap jika wanita harus memilih antara memperoleh penghasilan dan memperoleh rasa aman.

Wanita seharusnya tidak dipaksa memilih salah satunya.

Mereka berhak mendapatkan keduanya.

Penulis: Ares Albirru Amsal (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas)