Media sosial membuat kita terbiasa menilai sesuatu dari angka: berapa kali sebuah video ditonton, berapa banyak yang menyukai, berapa ribu komentar masuk, atau berapa besar pengikut sebuah akun. Semakin tinggi angkanya, semakin mudah kita menganggap seseorang berpengaruh. Padahal tidak selalu begitu.
Di ruang digital, terlihat bukan berarti dipercaya. Ramai bukan berarti disetujui. Viral pun belum tentu menunjukkan bahwa sebuah pendapat benar-benar memengaruhi cara orang berpikir dan bertindak. Ini penting karena kita hidup di tengah masyarakat yang sangat terkoneksi. Survei dari APJII mencatat penetrasi internet Indonesia pada 2026 mencapai sekitar 81,72 persen, atau kurang lebih 235 juta pengguna, sementara DataReportal memperkirakan ada sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada akhir 2025.
Angka ini menunjukkan bahwa media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian. Orang mencari berita, mengikuti perdebatan politik, belajar agama, mencari hiburan, bahkan mencoba memahami persoalan akademik di sana. Karena begitu ramai, kita cenderung menganggap apa yang tampil di media sosial sebagai cerminan masyarakat. Kenyataannya jauh lebih rumit.
Sebuah isu bisa sangat ramai bukan karena semua orang setuju, melainkan karena orang sedang berdebat. Konten yang memancing marah, penasaran, protes, dukungan, atau perdebatan biasanya menghasilkan interaksi tinggi, dan semakin banyak komentar, semakin besar peluangnya terus muncul di linimasa. Tidak sedikit pula yang sengaja memancing kemarahan publik (rage-baiting) demi mendongkrak engagement.
Karena itu kita perlu membedakan sirkulasi dan persetujuan. Seribu komentar tidak berarti seribu orang sepakat. Sepuluh ribu kali dibagikan tidak otomatis berarti pesan itu dipercaya. Yang kita lihat sering kali hanyalah tanda bahwa sebuah pesan bergerak cepat. Bagi saya, ini perlu lebih sering dibicarakan dalam kajian komunikasi.
Media sosial juga membuat popularitas sangat terlihat. Dulu kita tidak selalu tahu seberapa terkenal seseorang; sekarang jumlah pengikut, tayangan, dan komentar ada di depan mata, dan angka-angka itu ikut membentuk kesan. Akun dengan ratusan ribu pengikut tampak lebih meyakinkan. Video dengan jutaan penonton terasa lebih penting. Orang yang sering muncul di beranda dianggap lebih layak didengar.
Tetapi kepercayaan tidak bekerja sesederhana itu. Orang masih mempertimbangkan reputasi, pengalaman, konsistensi, pengetahuan, hubungan sosial, dan rekam jejak sebelum percaya. Seseorang bisa sangat populer, tetapi tidak menjadi rujukan ketika orang menghadapi persoalan penting. Sebaliknya, ada orang yang nyaris tak dikenal di media digital, tetapi sangat dipercaya di lingkungannya. Platform bisa mempercepat keterlihatan, tetapi tidak bisa memproduksi kepercayaan dengan cara yang sama. Kredibilitas dibangun lebih lama.
Algoritma membuat sesuatu terlihat besar
Apa yang sering muncul di layar kita belum tentu yang paling penting bagi masyarakat. Setiap orang menerima linimasa yang berbeda, karena algoritma bekerja berdasarkan pola interaksi, kebiasaan, jaringan pertemanan, dan konten yang pernah kita tonton. Akibatnya, seseorang bisa merasa sebuah isu dibicarakan "semua orang", padahal ia hanya berada di lingkungan digital yang sangat spesifik.
Di sinilah istilah seperti "netizen marah", "publik menolak", atau "masyarakat mendukung" perlu digunakan dengan hati-hati. Siapa sebenarnya netizen itu? Berapa banyak yang terlibat? Apakah mereka mewakili masyarakat luas, atau hanya sekelompok pengguna yang sangat aktif?
Kehidupan digital dan keseharian pun sulit dipisahkan. Orang menemukan informasi di TikTok, lalu bertanya kepada teman; melihat video di Instagram, lalu membandingkannya dengan Google; membaca komentar, lalu memeriksa kembali kepada orang yang dianggap lebih paham. Informasi bergerak ke mana-mana, begitu juga kepercayaan.
Seseorang bisa dikenal lewat media sosial, lalu dipercaya karena konsisten. Sebaliknya, tokoh yang lama dihormati di lingkungan sosialnya bisa memperluas pengaruh lewat platform digital. Otoritas hari ini bukan sekadar online atau offline; keduanya berkelindan. Yang terjadi adalah persaingan berbagai sumber kepercayaan: influencer, dosen, tokoh agama, jurnalis, pejabat, teman, keluarga, bahkan kecerdasan buatan, semuanya dalam ruang informasi yang sama.
Kita Mengalami Banjir Otoritas
Kita sering memakai istilah information overload untuk menggambarkan banjir informasi. Menurut saya, kini kita juga menghadapi authority overload: terlalu banyak pihak tampil seolah-olah layak dipercaya. Di layar yang sama, seorang ahli dan orang yang baru membaca satu unggahan bisa muncul dengan format hampir sama. Keduanya punya kamera, akun, dan rasa percaya diri. Keduanya bahkan bisa viral.
Platform memberi semua orang kesempatan tampil, dan itu bagus. Tetapi platform tidak membuat semua orang punya kompetensi yang sama. Kita hidup di ruang komunikasi yang sangat terbuka, sementara kemampuan menilai siapa yang layak dipercaya belum tentu mengikuti kecepatan perubahan itu.
Karena itu, kampus punya pekerjaan penting. Mahasiswa kini tidak hanya belajar dari dosen atau buku. Sebelum masuk kelas, mereka mungkin sudah melihat penjelasan teori di TikTok, YouTube, Instagram, podcast, mesin pencari, atau aplikasi kecerdasan buatan. Ini tidak perlu dilihat sebagai ancaman; ini menunjukkan bahwa cara belajar sudah berubah. Yang perlu diperkuat adalah kemampuan menilai sumber. Mahasiswa tidak cukup diajarkan mencari informasi. Mereka juga perlu dibiasakan bertanya: siapa yang berbicara, apa kompetensinya, apa dasar klaimnya, adakah buktinya, bisakah pendapat itu diperiksa, dan mengapa kita memilih mempercayainya.
Karenannya kita tidak hanya membutuhkan literasi media, tetapi juga literasi otoritas. Dunia digital tidak hanya dipenuhi informasi, tetapi juga orang-orang yang ingin dianggap layak dipercaya.
Pada akhirnya, media sosial membuka ruang luas bagi siapa saja untuk berbicara, dan itu kekuatan terbesarnya. Namun kesempatan berbicara tidak sama dengan kompetensi. Popularitas tidak sama dengan kredibilitas. Viralitas tidak sama dengan kebenaran. Maka mungkin kita perlu mengubah kebiasaan: jangan terlalu cepat bertanya, "Apa yang sedang viral?" Lebih penting bertanya, "Mengapa saya mempercayai ini?" Pertanyaan kedua lebih sehat. Ini berlaku bukan hanya bagi mahasiswa, tetapi bagi kita semua yang setiap hari hidup di tengah arus pesan, angka, komentar, dan notifikasi. Sebab di era media sosial, tantangan komunikasi bukan lagi sekadar menemukan informasi, melainkan menentukan siapa yang layak dipercaya, dan mengapa.
Penulis: Yayuk Lestari (Dosen Ilmu Komunikasi UNAND)
