Dulu, ketika saya hendak mendaftar Sekolah Dasar, guru tidak pernah bertanya berapa usia calon muridnya. Pertanyaan itu tidak relevan, sebab kebanyakan orang tua di kampung kami buta huruf dan tidak menyimpan catatan kelahiran. Sebagai gantinya, ada satu bentuk tes seleksi yang sangat sederhana, tetapi cukup krusial:
“Angkat tangan kananmu. Lewatkan di atas kepalamu, lalu sentuh telinga kirimu.”
Jika ujung jari tangan kanan berhasil menyentuh daun telinga kiri, anak itu dinyatakan lolos dan resmi diterima sekolah. Sebaliknya, jika jarinya belum sampai, anak itu diminta pulang kembali. Ia dianggap belum “jadi orang”. Belum dianggap cukup kuat untuk berjalan kaki sendiri sejauh tiga kilometer setiap hari, belum cukup tahan banting menghadapi tempaan, dan belum cukup matang untuk mengerti batas-batas disiplin. Jika di sekolah ia dimarahi guru lalu mengadu ke orang tua, bukannya belas kasihan yang didapat, melainkan justru tambahan hukuman di rumah.
Tes fisik itu primitif, tetapi jujur dan presisi dalam mengukur kematangan.
Hari ini, setelah puluhan tahun berlalu, metafora tes fisik tersebut mendadak terasa amat relevan. Bukan untuk menyeleksi anak-anak kecil yang hendak masuk sekolah dasar, melainkan untuk menggambarkan fenomena orang-orang dewasa: mereka yang usianya sudah matang, gelarnya bertumpuk, dan jabatannya tinggi, tetapi cara berpikir serta kedewasaan sikapnya masih setingkat anak yang tangannya belum sampai ke telinga.
Golongan pertama dapat kita temukan pada para penilai karya ilmiah atau reviewer buku yang cara kerjanya serba instan dan kaku. Ketika memegang sebuah buku karya akademisi, perhatian mereka tidak pernah tertuju pada substansi pemikiran atau kebaruan gagasan. Mereka langsung melompati bab demi bab, menuju lembar paling belakang: daftar pustaka.
Di sana, mereka hanya sibuk mencari satu hal: apakah nama penulis buku itu sendiri tercantum dalam daftar pustaka tulisan tersebut atau tidak. Jika nama sang penulis tidak ada di lembaran pustaka itu, dengan sangat mudah dan naifnya si penilai menjatuhkan vonis: “Buku ini tidak memenuhi syarat sebagai buku referensi.”
Logika ini sungguh menggelikan sekaligus ironis. Bagaimana mungkin sebuah karya ilmiah diukur bobot keilmuannya hanya dari formalitas mencantumkan nama sendiri di daftar pustaka? Mereka tidak peduli seberapa dalam analisis yang dibangun, seberapa tajam argumentasi yang disajikan, atau seberapa jauh buku tersebut mampu memecahkan akar persoalan di lapangan. Yang penting bagi mereka hanyalah pemenuhan checklist administratif yang dangkal.
Lucunya, perilaku semacam ini kerap diperagakan oleh asesor atau akademisi bergelar tinggi. Otak mereka telah diwisuda berkali-kali, tetapi nurani dan ketelitian akademik mereka buta terhadap esensi ilmu pengetahuan. Yang mereka ukur bukan kedalaman gagasan, melainkan formalitas penataan. Tangan kanan mereka memang sudah panjang secara rekam jejak akademik, tetapi cara berpikir mereka belum pernah sampai menyentuh telinga kiri.
Golongan kedua hadir dalam wujud para pemimpin atau atasan di lingkungan birokrasi yang mengandalkan kebiasaan berkuasa ketimbang kearifan berpikir. Mereka merasa berhak menentukan segala hal hanya karena duduk di kursi yang lebih tinggi. Persoalan kecil yang semestinya selesai dalam satu lingkar diskusi meja bundar, mendadak dibesarkan demi memuaskan ego sektoral. Akibatnya, letupan kecil berubah menjadi kebakaran hutan; keretakan sederhana bertransformasi menjadi konflik berkepanjangan yang merugikan institusi.
Pendidikan tinggi dan gelar formal yang mereka sandang seolah hanya menjadi hiasan yang terpajang rapi di dinding ruang kerja. Gelar tersebut tidak pernah merembes ke dalam pola pikir, apalagi memengaruhi gaya kepemimpinan sehari-hari. Yang terpancar dari sikap mereka hanyalah otoritas yang kaku, dan yang terdengar hanyalah instruksi searah.
Bawahan atau staf tidak pernah merasakan arahan yang membimbing, melainkan hanya tekanan administratif yang melelahkan. Para atasan ini bertindak seolah-olah kursi jabatan otomatis menganugerahkan kebijaksanaan, padahal kursi itu hanya meninggikan tempat duduk, bukan meningkatkan kapasitas dan kedewasaan berpikir.
Dulu, anak-anak yang tangannya belum sampai ke telinga kiri ditolak masuk sekolah dengan jujur dan tegas. Si anak dan orang tuanya sadar diri bahwa waktu untuk belajar memang belum tiba. Mereka menerima keputusan itu dengan lapang dada dan memilih menempa diri terlebih dahulu di rumah.
Hari ini, keadaan justru terbalik di banyak lembaga. Orang-orang yang mentalitas dan kedewasaan pikirannya belum sampai justru diberi wewenang besar untuk menilai, mengatur, dan memerintah. Mereka tidak pernah ditolak, melainkan terus dipromosikan naik tangga jabatan.
Ironisnya, anak kecil zaman dulu tahu diri bahwa dirinya belum siap. Sementara orang dewasa zaman sekarang sering kali tidak tahu diri bahwa mereka sebenarnya belum cukup matang untuk memegang tanggung jawab yang mereka pangku. Tangan kanan mereka mungkin sudah cukup panjang untuk menjangkau berbagai fasilitas, wewenang, dan gelar akademik, tetapi telinga kiri mereka—simbol dari kebijaksanaan, pemahaman mendalam, dan rasa empati—masih terlalu jauh untuk dijangkau.
Penulis: Prof. Mas Mera, Ph. D (Guru Besar Teknik Sipil, Kepala Laboratorium Mekanika Fluida dan Hidrolika Teknik Sipil UNAND)
