Lima Puluh Kota (UNAND) — Fenomena tanah amblas (sinkhole) yang terjadi di tengah hamparan sawah Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, pada awal 2026. Lubang yang awalnya berukuran kecil tersebut terus melebar hingga mencapai sekitar 7 meter dengan kedalaman 5 meter di bawah permukaan tanah, disertai naiknya genangan air dari dasar lubang setelah satu pekan kejadian.

Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UNAND Prof. Dian Fiantis, menjelaskan bahwa meskipun sinkhole umumnya terjadi di kawasan karst atau batuan kapur, fenomena serupa juga dapat muncul di wilayah vulkanis seperti sekitar lereng Gunung Sago.

“Di daerah vulkanis, sinkhole bisa terbentuk akibat pengikisan material tanah di bawah permukaan oleh aliran air. Tanah vulkanis berasal dari material letusan gunung api seperti abu, tuf, dan breksi yang bersifat berpori dan rapuh,” ujar Prof. Dian Fiantis pada Jumat (16/1).

Ia menjelaskan, air hujan yang mudah meresap ke dalam tanah akan mengalir dan secara perlahan menggerus partikel tanah halus. Proses ini dikenal sebagai piping, yang membentuk rongga kosong di bawah permukaan tanah dan terus membesar seiring waktu.

“Tanda awalnya biasanya berupa retakan halus dan penurunan muka tanah secara perlahan. Ketika lapisan atas tidak lagi mampu menahan beban tanah dan air di atasnya, maka runtuhan bisa terjadi secara tiba-tiba, terutama setelah hujan deras berkepanjangan,” jelasnya.

Menurut Prof. Dian, wilayah Sumatra Barat memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap fenomena ini karena kombinasi curah hujan yang tinggi, topografi perbukitan yang curam, serta kondisi geologi yang rapuh akibat percampuran batuan karst dan vulkanis.

Jika air hujan terus masuk ke dalam lubang yang terbentuk, rongga bawah tanah akan semakin melebar dan tepi sinkhole berpotensi runtuh secara bertahap. Dalam kondisi tertentu, sinkhole bahkan dapat berkembang menjadi danau alami atau danau dolina apabila dasar lubang tertutup lapisan kedap air.

“Sinkhole sejatinya merupakan proses geologi alami, tetapi menjadi ancaman serius ketika terjadi di dekat pemukiman atau lahan pertanian karena dapat merusak infrastruktur dan mengganggu sistem air tanah,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya deteksi dini untuk meminimalkan risiko. Beberapa tanda yang dapat diamati masyarakat antara lain munculnya retakan kecil di tanah atau bangunan, halaman yang turun perlahan, pohon yang mulai condong, serta perubahan drastis pada kondisi sumur.

“Dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti radar tembus tanah, metode geolistrik, dan pemetaan geologi, potensi sinkhole sebenarnya bisa diidentifikasi lebih awal. Mitigasi terbaik bukan menunggu bencana, tetapi memahami isyarat alam sejak dini,” pungkas Prof. Dian Fiantis.(*)

Selengkapnya juga bisa baca disini 'sinkhole' Fenomena Alam yang Wajar. Apakah bisa Membesar Hingga Jadi Danau

Humas, Protokoler, dan Layanan Informasi Publik