Padang (UNAND) — Sungai kerap menjadi pihak yang dituding sebagai biang keladi banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Ketika debit air melonjak akibat hujan ekstrem, sungai seperti Batang Anai, Batang Kuranji, Batang Toru, dan Krueng Meureudu dianggap gagal menampung aliran air hingga meluap dan menimbulkan kerusakan.

Namun, Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Andalas (UNAND), Prof. Dian Fiantis, menegaskan bahwa sungai sejatinya bukan penyebab utama bencana. Menurutnya, banjir bandang adalah akumulasi dari proses alam yang panjang, diperparah oleh campur tangan manusia yang tidak selaras dengan prinsip ekologi.

“Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, sungai hanya menjadi jalur terakhir air. Masalah muncul ketika daerah tangkapan air di hulu rusak, sungai menyempit, dan alur alaminya terganggu,” ujar Prof. Dian pada Senin (19/1).

Peristiwa putusnya jalan penghubung Kota Padang–Padang Panjang akibat longsor serta pergeseran alur Batang Anai, menurutnya, mencerminkan ketidakseimbangan sistem bentang alam. Sungai kehilangan ruang alaminya untuk menyalurkan air dan sedimen, sehingga luapan tak terelakkan.

Prof. Dian menjelaskan, sungai merupakan salah satu bentang alam tertua di Bumi. Jauh sebelum manusia mengenal peradaban, air telah lebih dulu mengalir, mengikis batuan, dan membentuk daratan. Evolusi sungai berlangsung selama miliaran tahun, mengikuti perubahan iklim, aktivitas tektonik dan vulkanis, serta perkembangan kehidupan.

“Pada masa awal terbentuknya Bumi, sungai belum ada seperti sekarang. Sungai baru mulai berkembang ketika kerak benua menebal dan daratan menjadi stabil. Sejak saat itu, sungai membentuk lanskap dan menjadi fondasi ekosistem darat,” jelasnya.

Memasuki era modern, sungai justru berada dalam tekanan besar. Penebangan hutan di hulu, alih fungsi lahan, pendangkalan akibat sedimentasi, serta pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan membuat sungai kehilangan kapasitas alaminya.

Kondisi ini diperparah oleh perilaku masyarakat yang menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Prof. Dian menegaskan bahwa sampah, terutama plastik dan limbah berbahaya, tidak hanya menyumbat aliran sungai dan memicu banjir, tetapi juga merusak ekosistem dan mengancam kesehatan manusia melalui rantai makanan.

“Sungai bukan tong sampah. Ia adalah nadi kehidupan. Menjaganya berarti menjaga keselamatan lingkungan dan masa depan generasi mendatang,” tegasnya.

Ia menilai, kesadaran menjaga sungai harus dibangun sejak dini, sebagaimana yang telah menjadi budaya di banyak negara maju. Sungai diperlakukan sebagai ruang hidup bersama yang harus dijaga kebersihannya, bukan sebagai saluran pembuangan.

Di era Antroposen, ketika manusia menjadi kekuatan geomorfologi utama, Prof. Dian mengingatkan bahwa tanggung jawab terbesar ada pada manusia. Sungai terus berubah mengikuti zaman, namun kerusakan yang terjadi saat ini akan menjadi catatan sejarah bagi generasi mendatang.

“Kita perlu berhenti menyalahkan sungai atas bencana yang terjadi. Bukan sungainya yang gagal, tetapi cara kita memperlakukannya yang keliru,” pungkas Prof. Dian Fiantis.(*)

Selengkapnya juga bisa baca disini Menelusuri evolusi sungai dari bumi purba hingga sumber bencana

Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik