Padang (UNAND) — Banjir bandang yang terjadi silih berganti di berbagai wilayah Indonesia sejak akhir 2025 hingga awal 2026 bukan sekadar bencana hidrometeorologi. Menurut Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Faperta UNAND), Prof. Dian Fiantis, di balik banjir terdapat proses alam panjang yang selama ribuan tahun justru membentuk kesuburan tanah di dataran rendah.

“Hamparan sawah subur yang kita lihat hari ini pada dasarnya bukan terbentuk di tempat itu. Material penyusunnya berasal dari lereng pegunungan, hasil pelapukan batuan dan erosi hujan, yang diangkut sungai dan diendapkan kembali di dataran rendah,” jelas Prof. Dian pada Selasa (27/1).

Dalam ilmu geomorfologi, proses tersebut dikenal sebagai fluvial–aluvial. Fluvial merujuk pada kerja sungai yang mengikis dan mengangkut material dari hulu, sementara aluvial adalah proses pengendapan kembali material tersebut di hilir. Sungai, kata Prof. Dian, tidak hanya merusak melalui erosi, tetapi sekaligus membangun dataran subur yang menjadi basis pertanian.

Ia menjelaskan bahwa sejak tumbuhan darat berkembang dan akar mulai menahan tanah, sungai tidak lagi bersifat sepenuhnya erosif. Saat banjir musiman terjadi, sungai justru meninggalkan lapisan sedimen halus di kiri dan kanannya. Proses berulang inilah yang membentuk dataran banjir yang kini dimanfaatkan manusia sebagai sawah dan kebun.

“Kesuburan tanah aluvial berasal dari sifatnya yang terus diperbarui. Setiap banjir membawa endapan halus kaya unsur hara seperti kalsium, magnesium, dan kalium,” ujar Prof. Dian. Kondisi muka air tanah yang relatif dangkal serta permukaan lahan yang datar juga mendukung produktivitas pertanian.

Namun, Prof. Dian mengingatkan bahwa perubahan iklim telah menggeser keseimbangan alami tersebut. Hujan yang semakin ekstrem dalam waktu singkat meningkatkan erosi di hulu dan volume sedimen yang terbawa sungai. Akibatnya, endapan yang tiba di sawah tidak lagi berupa lapisan tipis penyubur tanah, melainkan lumpur tebal yang merusak lahan dan menyumbat irigasi.

“Ketika sawah tertimbun lumpur, pendekatan yang tepat bukan langsung membuang sedimen, tetapi memahami sifatnya. Lumpur banjir sering kali kaya mineral, hanya saja menutup lapisan olah,” jelasnya. Rehabilitasi dilakukan melalui perataan lahan, perbaikan drainase, pencampuran sedimen dengan tanah asli, serta penambahan bahan organik untuk memulihkan kondisi fisik dan biologi tanah.

Lebih jauh, Prof. Dian menekankan pentingnya memberi ruang bagi sungai. Upaya teknis seperti meninggikan tanggul tanpa memperhatikan ruang alami banjir justru berisiko memperparah dampak ketika terjadi luapan ekstrem.

“Mengelola dataran aluvial berarti mengelola seluruh daerah aliran sungai, dari hulu hingga hilir. Menjaga hutan di hulu, memberi ruang sungai di tengah, dan mengatur air dengan bijak di hilir adalah kunci,” tegasnya.

Menurut Prof. Dian Fiantis, ketahanan pangan Indonesia sangat bergantung pada kesehatan proses fluvial–aluvial ini. Setiap bulir padi yang tumbuh di dataran banjir adalah hasil kerja panjang sungai selama ribuan tahun. “Cara terbaik menjaga masa depan pertanian kita adalah dengan kembali menghormati cara sungai bekerja, bukan melawannya,” pungkasnya.(*)

Selengkapnya juga bisa dibaca Telaah Dataran aluvial di antara bencana dan berkah dari sungai

Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik