Sijunjung (UNAND) — Program Studi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB UNAND), kembali menggelar summer course bersama The University of Osaka, Jepang. Sebanyak 20 mahasiswa mengikuti program bertajuk Minangkabau for the Global Community di Padang dan Sijunjung pada 17–26 September 2026.

Mengusung tema Sijunjung as a Living Archive: Integrating Manuscripts, Memory, and Cultural Ecology, kegiatan ini mengajak peserta mempelajari kebudayaan Minangkabau melalui perjumpaan langsung dengan masyarakat, pelaku budaya, dan lingkungan tempat tradisi tersebut hidup.

Peserta terdiri atas 19 mahasiswa bidang Sastra Indonesia dan satu mahasiswa bidang Persia. Mereka didampingi dosen The University of Osaka, Prof. Dr. Yumi Sugahara.

Setelah tiba di Sumatera Barat pada Kamis (17/9), peserta mengikuti pengenalan program dan kuliah umum di FIB UNAND pada Jumat (18/9). Kuliah umum menghadirkan Prof. Pramono, M.Si., Ph.D. dan Dr. Eka Meigalia, M.Hum. dari UNAND, serta Prof. Dr. Yumi Sugahara. Dekan FIB UNAND, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., membuka kegiatan tersebut.

Pembelajaran lapangan dimulai di Sijunjung pada Sabtu (19/9). Di Kampung Adat Nagari Sijunjung, peserta mengenal rumah adat, kehidupan sosial, kuliner, serta peran perempuan dalam kebudayaan Minangkabau. Mereka juga mempelajari hubungan adat dan agama Islam, mengenal naskah kuno dan silek, mewawancarai pelaku budaya, serta berlatih tari hingga menampilkan pertunjukan. Kunjungan ke Geopark Silokek Ranah Minang melengkapi pembelajaran tentang hubungan budaya dan lingkungan.

“Mahasiswa belajar dari masyarakat, lingkungan, tradisi, dan praktik budaya yang ada di tengah kehidupan sehari-hari,” ujar Ike. Menurutnya, pengalaman langsung membantu peserta memahami pengetahuan budaya dalam bentuk yang nyata.

Ketua Prodi Sastra Minangkabau FIB UNAND, Yerri Satria Putra, S.S., M.A., mengatakan program ini dirancang agar mahasiswa dapat membaca, melihat, mendengar, dan mengalami kehidupan budaya masyarakat secara langsung. “Dengan cara itu, Minangkabau dapat dipahami sebagai kebudayaan yang hidup dan terus berkembang,” katanya.

Ini merupakan penyelenggaraan kedua summer course hasil kerja sama kedua perguruan tinggi. Pada 2023, kegiatan serupa dilaksanakan di Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam.(*)

Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik