Padang (UNAND) – Polusi udara tidak hanya mengancam kesehatan saluran pernapasan, tetapi juga dapat berdampak pada pembuluh darah, jantung, dan otak. Risiko kesehatan akibat paparan tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Hal itu disampaikan Guru Besar bidang Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Prof. dr. Hardisman, M.HID., Dr.PH., FRSPH., saat ditemui pada Rabu (30/9).

Prof. Hardisman menjelaskan, tubuh memiliki mekanisme pertahanan terhadap zat asing yang masuk melalui saluran pernapasan. Salah satu respons awalnya berupa iritasi yang ditandai dengan batuk. Jika paparan terjadi secara terus-menerus, keluhan dapat menetap meskipun seseorang sudah menjauh dari sumber pencemaran.

Ketika zat berbahaya masuk lebih jauh ke saluran pernapasan, dampaknya dapat berupa sesak napas. Pada penderita asma dan PPOK, paparan polusi udara dapat memperburuk keluhan serta meningkatkan risiko serangan yang lebih berat.

Ia mengingatkan bahwa dampak polusi udara juga dapat menjangkau organ lain melalui gangguan pada pembuluh darah. Paparan polutan dapat memicu proses fisiologis dan patofisiologis yang berkaitan dengan kerusakan pembuluh darah serta pembentukan plak, sehingga berisiko terhadap kesehatan jantung dan otak.

Menurutnya, tingkat risiko tidak hanya ditentukan oleh lama paparan. Konsentrasi dan jenis zat pencemar, serta kondisi kesehatan seseorang, turut memengaruhi dampak yang diterima tubuh.

Komposisi polutan pun dapat berbeda sesuai sumber pencemar. Asap dari aktivitas industri, kebakaran rumah, dan kebakaran hutan, misalnya, dapat mengandung zat yang berbeda, bergantung pada material yang terbakar dan kesempurnaan proses pembakaran.

Prof. Hardisman menjelaskan, pembakaran tidak sempurna dapat menghasilkan karbon monoksida (CO). Zat ini mengganggu kemampuan hemoglobin dalam membawa oksigen, sehingga pasokan oksigen ke jaringan tubuh dapat terhambat. Sementara itu, paparan jangka panjang terhadap zat hasil pembakaran yang bersifat karsinogen dapat meningkatkan risiko kanker.

Untuk mengurangi risiko tersebut, ia menyarankan masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Namun, berada di dalam rumah juga perlu disertai perhatian terhadap kualitas udara di dalam ruangan karena polutan dari luar tetap dapat masuk.

Jika aktivitas di luar ruangan tidak dapat dihindari, penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi tinggi, seperti N95, dapat membantu mengurangi paparan partikel halus, khususnya PM2.5.

Ia juga menekankan pentingnya mengenali keluhan yang muncul saat terpapar udara buruk. Gejala seperti sesak napas, batuk berat, atau pusing perlu segera direspons dengan menjauhi sumber pencemaran dan berpindah ke tempat dengan kualitas udara yang lebih baik.

Apabila gangguan pernapasan semakin berat, masyarakat perlu segera mencari pertolongan di fasilitas pelayanan kesehatan. Berpindah ke tempat berudara lebih segar saja tidak selalu cukup ketika paparan sudah mengganggu pernapasan dan pemenuhan kebutuhan oksigen tubuh.

“Perlindungan dari polusi udara perlu mendapat perhatian lebih besar pada kelompok rentan, termasuk penderita asma dan PPOK. Mengenali risiko, mengurangi paparan, dan segera mencari pertolongan ketika keluhan memburuk menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan di tengah kualitas udara yang menurun,” pungkasnya.(nic)

Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik