Padang (UNAND) – Universitas Andalas (UNAND) memperkuat komitmennya dalam mendorong inovasi pertanian berkelanjutan melalui penyelenggaraan The 7th International Conference on Sustainable Agriculture and Biosystem (ICSAB) dengan tema “Innovation in Smart Agriculture: Strengthening Global Food Systems for a Sustainable Future”. Kegiatan ini diselenggarakan Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) UNAND di Ruang Seminar Sekolah Pascasarjana UNAND, Rabu (7/10).
Konferensi internasional ini menjadi ruang pertukaran gagasan dan pengetahuan antara akademisi, peneliti, serta mitra internasional dalam mengembangkan teknologi pertanian cerdas yang adaptif terhadap tantangan pangan dan lingkungan. ICSAB ke-7 menghadirkan sejumlah pembicara utama dari berbagai perguruan tinggi internasional, yakni Assoc. Prof. Dr. Panida Boonyaritthongchai dari Mongkut's University of Technology Thonburi (KMUTT), Thailand; Assoc. Prof. Vilim Filipovic, Ph.D. dari Queensland, Australia; Prof. Takashi Okayasu, Ph.D. dari Kyushu University, Jepang; Assoc. Prof. Ts. Dr. Shamsiah Abdullah dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia; serta Dr. Putri Wulandari Zainal, S.TP., M.Si., Ph.D. dari Universitas Andalas.
Rektor Universitas Andalas, Dr. Efa Yonnedi, SE., MPPM., Akt., mengatakan tema konferensi tersebut sangat relevan dengan kondisi pertanian di Sumatera Barat yang memiliki potensi besar, namun masih menghadapi tantangan dalam pengolahan dan hilirisasi komoditas pertanian.
“Pertanian Sumatera Barat didominasi oleh komoditas yang memiliki potensi ekspor. Namun, sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi dan dikelola oleh petani kecil dengan tradisi yang masih konvensional,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang bagi perguruan tinggi untuk menghadirkan inovasi yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi petani dan memperkuat daya saing produk pertanian.
Rektor menyampaikan bahwa UNAND terus mendorong ekosistem riset dan inovasi agar hasil penelitian dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Saat ini, UNAND telah berhasil mengomersialkan 33 produk bioteknologi kesehatan dan konsisten berada dalam jajaran 10 besar SINTA Indonesia.
“Upaya hilirisasi kami memastikan bahwa hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi semata, melainkan berkembang menjadi produk, lisensi, dan nilai ekonomi,” jelasnya.
Ia menambahkan, penerapan teknologi cerdas dalam sektor pertanian menjadi salah satu langkah penting untuk menjawab tantangan produktivitas, perubahan lingkungan, keterbatasan sumber daya, hingga kebutuhan pangan global.
“Tema ini relevan untuk mendorong adopsi teknologi cerdas agar produktivitas meningkat tanpa merusak lingkungan, sekaligus memastikan teknologi tersebut dapat menjangkau dan memberikan manfaat bagi petani kecil,” tambahnya.
Melalui ICSAB ke-7, UNAND juga memperkuat jejaring kolaborasi internasional. Selain pelaksanaan konferensi, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Universitas Andalas dengan sejumlah perguruan tinggi mitra, yaitu Universiti Teknologi MARA (UiTM), Kyushu University, Mongkut's University of Technology Thonburi (KMUTT), dan Gifu University.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari langkah UNAND dalam memperluas kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengembangan teknologi, khususnya untuk mendukung pertanian berkelanjutan serta penguatan sistem pangan. Melalui kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin tersebut, UNAND mendorong agar inovasi pertanian tidak berhenti pada ruang akademik, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat dan memberikan kontribusi terhadap pembangunan sistem pangan yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan. (N)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik.
