Banjir Mengubah Sungai
Banjir bandang di penghujung 2025 dan kekeringan di awal 2026 menjadi dua keadaan alam yang kontras di Kota Padang. Dipicu oleh Siklon Tropis Senyar, hujan ekstrem mengguyur kota ini hingga banjir bandang melanda dataran aluvialnya.
Akumulasi curah hujan berdasarkan data Global Precipitation Measurement – Integrated Multi-satellite Retrievals for GPM (GPM IMERG) di hulu Batang Kuranji pada 19–25 November 2025 telah melampaui 500 mm, lalu disusul 190 mm hanya dalam dua hari, 26–27 November 2025.
Dalam bahasa hidrologi, angka ini bukan sekadar statistik hujan. Ini adalah proses pelan namun pasti ketika tanah di lereng-lereng Bukit Barisan dipaksa menerima air melampaui kapasitas alaminya. Hari demi hari, pori-pori tanah yang biasanya bekerja seperti spons raksasa terisi penuh. Air tidak lagi meresap dengan tenang ke dalam profil tanah, tetapi mulai mencari jalan di permukaan, menyatukan diri menjadi aliran-aliran kecil yang kian membesar.
Pada tahap inilah DAS Batang Kuranji memasuki fase kritis. Ketika hujan tambahan 190 mm turun dalam dua hari berikutnya, tanah yang telah jenuh tak lagi mampu menahan beban. Air yang seharusnya menjadi simpanan berubah menjadi limpasan. Lereng kehilangan daya cengkeramnya, alur-alur sungai menerima kiriman air dalam jumlah yang melampaui ritme alaminya. Maka yang terjadi bukan sekadar banjir, melainkan respons bentang alam terhadap akumulasi air yang telah melampaui ambang keseimbangannya.
Air yang meluap dari Batang Kuranji perlahan menggenangi kawasan di sepanjang alirannya, merendam permukiman di Kecamatan Pauh, Kecamatan Kuranji, Kecamatan Nanggalo, dan Kecamatan Padang Utara. Dasar sungai terisi sedimen halus dan kasar yang terbawa dari hulu, sehingga elevasinya meningkat sekitar satu hingga dua meter. Namun beberapa minggu setelah hujan berhenti, sungai yang sama justru memperlihatkan wajah berbeda: alirannya menipis, menyisakan batu-batu yang mulai tersingkap di dasarnya.
Beberapa minggu setelah hujan berhenti, sungai yang sama memperlihatkan wajah yang sama sekali berbeda.Batu-batu besar dan kecil perlahan menampakkan diri di dasar Batang Kuranji. Alurnya melebar, tetapi dangkal, dan air mengalir tipis seakan-akan sungai ini sedang “kurus”. Banyak orang mengira penyebabnya sederhana: hujan sedang sedikit. Padahal, bila dibaca melalui kacamata hidrologi daerah aliran sungai (DAS), jawabannya jauh lebih dalam—dan kisahnya selalu bermula dari hulu.
Spons Alam Melemah
Hulu Batang Kuranji terletak di bentang tektonik Pegunungan Bukit Barisan yang secara alami penuh pori, rekahan, dan rongga batuan. Tanah dan regolit di wilayah ini sesungguhnya bekerja seperti spons raksasa: setiap tetes hujan diserap, disimpan diam-diam di dalam perut bumi, lalu dilepaskan perlahan sebagai aliran dasar yang menjaga sungai tetap hidup ketika hujan telah lama berhenti.
Masalah mulai terasa ketika fungsi spons alamiah ini melemah. Tutupan lahan berubah—hutan berganti kebun campuran, ladang, jalan, dan permukiman—sehingga tanah tak lagi mampu menahan air seperti dahulu. Setiap hujan yang turun kini lebih banyak berlari di permukaan, tergesa menuju sungai, lalu lekas pula meninggalkannya ke hilir. Air tidak sempat tinggal cukup lama di dalam tanah untuk menjadi tabungan.
Pada saat yang sama, lereng-lereng yang terbuka mengirim pasir, lanau, dan kerikil ke tubuh sungai. Material itu mengendap, membentuk gosong pasir dan perlahan mendangkalkan alur Batang Kuranji. Secara kasatmata sungai tampak seolah kekurangan air, padahal sebagian persoalannya tersembunyi pada perubahan bentuk alurnya akibat sedimentasi.
Sungai Kehilangan Baseflow
Di beberapa segmen Batang Kuranji, aliran yang tampak menipis sesungguhnya lebih tepat dibaca sebagai gejala hidrologi. Dasar sungai yang disusun pasir, kerikil, dan material vulkanik berpori tinggi membuat air mudah meresap ke bawah. Ketika simpanan air tanah dangkal di hulu menyusut setelah lama tak diguyur hujan, arah gerak air berbalik: sungai tak lagi disangga oleh pelepasan air tanah, melainkan justru mengalir masuk mengisi akuifer. Pada saat itulah sungai berubah peran menjadi losing stream.
Akibatnya, debit yang terlihat di permukaan berkurang nyata. Air seolah “menghilang” di tengah alur, dan bagian hilir menerima aliran yang jauh lebih kecil tanpa adanya sadap besar yang terlihat. Gejala ini lazim pada DAS vulkanik ketika baseflow melemah dan muka air tanah turun.
Baseflow adalah aliran dasar sungai yang berasal dari pelepasan air tanah ke badan sungai. Ia bekerja sunyi, lambat, dan stabil, menjaga sungai tetap mengalir meski hujan telah lama berhenti. Ketika baseflow melemah, sungai kehilangan “tabungan” airnya dan menjadi sangat bergantung pada hujan sesaat.
Pesan Datang Hulu
Pada 12–26 Januari 2026, curah hujan harian di hulu Batang Kuranji yang terekam GPM IMERG berkisar 0–24 mm dengan rerata 7,30 mm per hari, sebuah ritme hujan ringan yang seharusnya cukup untuk mengisi pori-pori tanah secara perlahan. Namun ketika hujan seperti ini datang setelah tanah kehilangan daya serapnya atau tidak berlangsung cukup lama, cadangan air bawah permukaan tidak pernah benar-benar terisi kembali. Akibatnya, aliran sungai menipis di musim kering dan sumur-sumur warga perlahan mengering karena keduanya bergantung pada simpanan air tanah yang kian menurun.
Gejala ini sesungguhnya telah lebih dulu terlihat pada menghilangnya mata-mata air kecil di kaki lereng. Dulu, rembesan kecil ini menjadi penopang aliran sungai saat cuaca kering, penanda bahwa tanah masih menyimpan air di kedalaman. Kini banyak yang melemah atau hilang sama sekali.
Tanpa pasokan hujan yang cukup untuk mengisi ulang simpanan bawah tanah, defisit air semakin dalam, hingga tak lagi tersedia air bersih dari sumur warga, bahkan dari pipa PDAM. Semua proses ini bermuara pada satu gejala yang sama: melemahnya baseflow. Maka, ketika Batang Kuranji tampak “kurus”, sesungguhnya ia sedang menyampaikan pesan dari hulu. Solusinya tidak berada di hilir, melainkan di perbukitan tempat setiap tetes hujan pertama kali jatuh: memulihkan tutupan vegetasi, menahan erosi, menjaga zona mata air, dan menata kembali pemanfaatan air.
Jika fungsi spons DAS dipulihkan, Batang Kuranji akan kembali memiliki tabungan airnya —tak lagi tampak kurus di musim kering dan tak mudah meluap saat musim hujan. Itulah harapan kita warga kota Padang tercinta.

DAS Batang Kuranji di Kecamatan Pauh, kota Padang sebelum dan sesudah banjir bandang 26-27 November 2025
Penulis: Prof. Dr. Ir. Dian Fiantis, MSc (Dosen di Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas)

