Banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatera Barat pekan ini menghantam banyak wilayah sekaligus. Kota Padang, Padang Pariaman, Tanah Datar, Padang Panjang, Agam, hingga Pesisir Selatan porak-poranda. Rumah terendam, jembatan putus, sawah tertimbun material, aktivitas ekonomi lumpuh. Banyak keluarga harus meninggalkan rumah dalam keadaan panik. Kota-kota yang biasanya ramai berubah menjadi ruang cemas.

Di tengah kondisi itu, satu hal bergerak paling cepat: komunikasi kemanusiaan. Komunikasi ini menekankan kepedulian, empati, dan solidaritas. Ia bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi hadir untuk menenangkan, memberi arahan, dan memastikan orang lain tidak menghadapi krisis sendirian. Warga saling menghubungi keluarga/kerabat/tetangga, mencari anggota yang belum terhubung, dan membuka pintu rumah bagi mereka yang membutuhkan tempat aman. Komunikasi kembali ke makna paling dasar: hadir, peduli, dan saling menjaga.

Solidaritas tampak di banyak titik. Rumah-rumah di dataran lebih tinggi menjadi tempat berlindung keluarga besar. Pemuda turun mengevakuasi warga yang terjebak. Ibu-ibu memasak untuk dibagikan kepada tetangga yang dapurnya terendam. Tidak semua bantuan lahir dari peralatan canggih; banyak yang hanya berangkat dari kalimat sederhana, “Apa yang bisa saya bantu?” Dalam saat paling genting, bahasa manusia menjadi kekuatan yang tidak dapat ditukar oleh apa pun.

Keluarga besar Universitas Andalas juga tidak luput dari dampak bencana. Mahasiswa terjebak banjir, dosen dan tenaga kependidikan mengalami kerusakan rumah, bahkan ada yang kehilangan tempat tinggal. Di saat itu, komunikasi internal kampus bergerak cepat. Grup WhatsApp penuh dengan informasi lokasi bencana, permintaan bantuan, dan ajakan berdonasi. Relawan kampus membuka posko, mahasiswa mengumpulkan logistik, dosen menghubungkan donatur dengan titik yang paling membutuhkan, dan alumni mengirimkan bantuan dari luar daerah. Bantuan juga mencakup pemberian makanan dan kebutuhan pokok di titik-titik pengungsian. Unit pemadam kebakaran kampus turut turun langsung membantu warga di sekitar kampus membersihkan material lumpur dan puing. Kampus berubah menjadi ruang solidaritas yang hidup, menjadi pusat koordinasi dan kepedulian bagi warga terdampak.

Dalam situasi krisis, komunikasi yang jernih menjadi kebutuhan mendesak. Informasi yang benar dapat menenangkan warga, sedangkan informasi yang tidak akurat dapat memicu kecemasan yang tidak perlu. Banyak masyarakat menunggu kabar dari pemerintah, BPBD, atau relawan bukan hanya untuk mengetahui kondisi terkini, tetapi untuk memperoleh rasa aman. Warga lebih membutuhkan informasi yang jelas dan menenangkan daripada kabar yang terburu-buru dan membingungkan.

Di banyak daerah, jalur komunikasi warga bahkan lebih cepat daripada kanal resmi. Pengeras suara masjid, pesan singkat, atau teriakan dari pintu ke pintu menjadi penyelamat dalam jam-jam kritis. Informasi sederhana seperti “air naik,” “jalan tidak bisa dilewati,” atau “ada warga yang belum ditemukan” sering menjadi penentu keselamatan. Pada akhirnya, bencana mengingatkan bahwa manusia membutuhkan manusia lain sebagai kekuatan psikologis. Teknologi membantu menyebarkan informasi, tetapi keberanian muncul saat ada orang yang hadir dan mendampingi.

Ketika banjir memisahkan keluarga dari rumah dan harta benda mereka, komunikasi kemanusiaan justru menyatukan. Kita melihat bahwa kekuatan masyarakat Sumatera Barat bukan hanya pada infrastruktur atau sumber daya, tetapi pada kemampuan untuk saling menopang. Bencana menguji banyak hal, tetapi solidaritas yang tumbuh membuat kita tetap bertahan.

Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa komunikasi bukan sekadar penyampaian pesan. Ia adalah jantung dari ketahanan sosial. Ia memberi arah, memberi ketenangan, dan meneguhkan bahwa kita menghadapi situasi ini bersama. Selama komunikasi kemanusiaan terus hidup, Sumatera Barat akan selalu mampu bangkit, berapa pun kali ia diuji.