Dampak bencana banjir Sumatra pada akhir November 2025 betul-betul mengagetkan kita. Ratusan jiwa melayang, dan tidak sedikit yang belum ditemukan. Banyak infrastruktur yang rusak. Sebagian pihak menaksir kerugian bisa mencapai triliunan rupiah. Begitu besarnya dampak dari bencana ini.

Tidak ada yang menduga akan separah ini. Apa lagi, November memang musim hujan di Sumatra. Peringatan BMKG mungkin dianggap biasa. Masyarakat sudah biasa dengan hujan lebat pada bulan November. Namun, peringatan kali ini ternyata akurat. BMKG sendiri mungkin tidak menyangka bahwa hujan ekstrem tersebut akan menimbulkan dampak separah ini.

Pemicu hujan ekstrem
Uap air adalah "bahan bakar" utama untuk pembentukan awan hujan. Semakin banyak uap air di atmosfer, semakin besar potensi energi untuk menghasilkan hujan ekstrem.

Terdapat tiga kemungkinan penyebab melimpahnya uap air pada akhir November ini.

Pertama adalah cold surge (gelombang atau seruakan dingin), berupa aliran massa udara dingin yang bergerak ke arah selatan menuju Indonesia, terutama pada saat Asia mengalami musim dingin bersamaan dengan periode dominasi angin Muson Timur. Angin ini bertiup dari daratan Asia menuju Samudra Pasifik dan Australia. Jika mengacu kepada laporan Badan Meteorologi Malaysia, tahun ini angin Muson Timur dimulai pada 13 November 2025. Meskipun udara dingin dari cold surge pada dasarnya bersifat kering, tetapi saat melintasi area perairan seperti Laut Cina Selatan, angin ini akan menyerap uap air hangat dan membawa kelembapan tambahan ke wilayah yang dilewatinya. Inilah kemungkinan pemicu pertama.

Kedua adalah La Niña. Walaupun tidak begitu kuat, La Niña aktif pada November. Fenomena ini menyebabkan angin timuran (dari Samudra Pasifik menuju Indonesia) menguat, sehingga kelembapan dan air laut bersuhu tinggi terkonsentrasi ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Ketiga adalah Indian Ocean Dipole (IOD) fase negatif. Pada fase ini, suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian barat lebih hangat dari biasanya. Akibatnya, angin baratan yang lebih kuat membawa uap air lebih banyak dan mendorong air laut bersuhu tinggi ke kawasan Indonesia.

Inilah tiga fenomena utama, dan ketiganya terjadi bersamaan.

Faktor lain bisa juga memperkuat. Pada November, Zona Konvergensi Antar-Tropis (ITCZ) bergeser ke arah selatan menuju khatulistiwa. ITCZ merupakan tempat bertemunya angin pasat dari belahan bumi utara dan selatan. Pertemuan ini membuat massa udara yang hangat dan lembap terangkat ke atmosfer, menjadi awan dan hujan.

Dapat dibayangkan, uap air tersedia dalam jumlah besar. Kemudian, zona konvergensi juga ada di sana. Awan hujan yang intens lebih mudah terbentuk.

Siklon Tropis Senyar yang tidak biasa
Kita dikagetkan dengan munculnya Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka. Ini tidak biasa. Senyar adalah siklon tropis pertama di selat ini. Selain lautan yang sempit, jarak ke khatulistiwa juga dekat. Lazimnya, siklon tropis membutuhkan jarak setidaknya sekitar 500 km dari khatulistiwa untuk terbentuk dan berkembang, dan itu pun di lautan luas, yaitu samudra. Pada jarak itu, gaya Coriolis akibat rotasi bumi dipandang cukup untuk mengorganisir rotasi fluida menjadi siklon.

Senyar terbentuk dalam rentang yang lebih dekat ke khatulistiwa karena tingginya suhu permukaan air laut. La Niña, IOD negatif, dan cold surge terjadi secara bersamaan, menyebabkan naiknya suhu permukaan laut di kawasan, termasuk di Selat Malaka.

Suhu permukaan air laut yang tinggi saja tidak cukup. Siklon tropis adalah sistem pusaran atmosfer (vorteks) yang intens. Untuk bisa terbentuk siklon, maka diperlukan pusaran (vortisitas) awal. Apakah gangguan atmosfer yang menyediakan vortisitas awal ini?

Ada dua kandidat, yaitu gelombang tropis atau palung monsun. Interaksi beberapa gelombang atmosfer mungkin terjadi. Interaksi antara gelombang Rossby ekuatorial dan gelombang Kelvin diduga adalah penyedia vortisitas awal, sebagaimana pernah teramati pada Siklon Tropis Seroja tahun 2021. Palung monsun juga kandidat kuat, karena 60–70% siklon di Pasifik Barat terkait dengan palung monsun yang aktif. Palung monsun adalah zona konvergensi angin permukaan, tempat angin dari berbagai arah bertemu dan naik, menghasilkan vortisitas siklonik di lapisan bawah atmosfer.

Vortisitas awal yang sudah terbentuk kemudian diperkuat oleh cold surge. Angin cold surge ini bisa jadi adalah faktor dominan penentu arah Senyar.

Secara umum, arah penjalaran siklon tropis menjauh dari khatulistiwa karena dipengaruhi oleh gaya Coriolis. Pengaruh gaya ini menyebabkan siklon bergerak secara perlahan ke arah kutub (utara di belahan bumi utara, selatan di belahan bumi selatan) dan ke arah barat, sebagaimana Siklon Koto yang terjadi di Filipina. Namun, Senyar berbeda, mengarah ke selatan.

Dugaan awal adalah, ketika siklon tropis terjadi pada kawasan dengan gaya Coriolis lemah, maka arah siklon akan sangat ditentukan oleh aliran angin kemudi (steering flow) berupa angin berskala besar di lapisan tengah hingga atas atmosfer di sekitarnya. Untuk Senyar, kami menduga angin cold surge sangat menentukan arahnya. Cold surge mengarah ke selatan, maka Senyar juga mengarah ke selatan.

Namun, angin cold surge bisa jadi tidak sendiri. Ketika Senyar terjadi, ada dua siklon lain, yaitu Siklon Tropis Koto yang bergerak ke tengah Laut Cina Selatan, dan Siklon Tropis Ditwah yang terbentuk dan bergerak ke arah Sri Lanka. Interaksi antara Senyar dengan Koto dan Ditwah juga diduga kuat sebagai faktor utama yang memengaruhi propagasi Senyar. Interaksi satu siklon dengan siklon lain dapat mengubah jalurnya secara drastis, terkadang menyebabkannya berbelok tajam. Ini terlihat dari lintasan Senyar yang sempat membentuk huruf “U“ di sekitar Aceh. Interaksi tiga siklon secara bersamaan jarang sekali terjadi.

Menurunnya daya dukung lingkungan
Kondisi ekstrem di atas menyebabkan hujan yang sangat lebat di Sumatra. Kondisi ekstrem tidak hanya pada intensitas, tetapi juga durasi, di mana hujan berlangsung beberapa hari tanpa henti. Hal ini dipicu oleh lambatnya pergerakan Senyar. Pergerakan siklon yang relatif lambat menyebabkan akumulasi awan hujan di lokasi yang sama selama beberapa hari, yang memicu hujan lebat dan banjir ekstrem.

Bencana Sumatra tidak hanya karena hujan. Kerusakan ekologis turut memperparah. Hilangnya tutupan hutan, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta degradasi daerah aliran sungai menyebabkan air hujan tidak lagi terserap optimal. Akibatnya, limpasan permukaan meningkat tajam, mempercepat terjadinya banjir, longsor, dan kerusakan infrastruktur. Hal ini terlihat jelas dari fakta lapangan, di mana banyak kayu-kayu yang dibawa oleh banjir. Kayu-kayu inilah sebagian yang merusak jembatan dan bahkan mengubah aliran sungai karena aliran asalnya terhalang atau tertutup kayu.

Kondisi ini menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi di Sumatra bukan semata-mata oleh cuaca ekstrem, tetapi juga oleh menurunnya daya dukung lingkungan.

Jaga kesetimbangan alam
Alam bekerja pada titik kesetimbangan yang sudah Allah tetapkan. Selama kesetimbangan itu dijaga, apa pun yang ada di dunia ini akan berjalan dengan baik. Allah berfirman: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." (QS. Al-Qamar: 49). Juga kita jumpai dalam ayat lain, misalnya Surat Al-Furqan ayat 2: "Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya, dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya." (QS. Al-Furqan: 2). Hal ini juga dipertegas dalam Surah Ar-Rahman: 7–9: “Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.”

Bencana Sumatra peringatan serius dari alam. Alam mengabari kita bahwa kesetimbangan itu sudah terganggu. Pada lahan alami, hanya 10% air menjadi limpasan sehingga potensi banjir akan lebih kecil. Namun, pada permukaan kedap air 35–50%, runoff naik hingga 30%, sementara infiltrasi dangkal dan dalam menurun drastis. Tidak hanya itu, peningkatan permukaan kedap air juga akan menurunkan evapotranspirasi, kehilangan air melalui evaporasi (penguapan air dari permukaan tanah dan badan air) dan transpirasi (penguapan air dari tanaman melalui daun).

Jagalah keseimbangan alam. Sedikit saja kesetimbangan terganggu, akan meningkatkan bencana alam. Apa lagi Sumatra Barat. Sungai-sungai di Sumatra Barat cenderung curam atau bervariasi, terutama di bagian hulu (pegunungan dan perbukitan). Akibatnya, kecepatan aliran sungai lebih deras dan cepat dibandingkan sungai di kawasan timur Sumatra, seperti di Riau. Sedikit saja kesetimbangan terjadi, maka dampaknya akan luar biasa.

Menjaga kesetimbangan bukan berarti kita tidak bisa memanfaatkan alam. Manusia adalah pemegang amanah untuk memakmurkan bumi, tetapi bukan merusaknya. Memanfaatkan sumber daya alam secara adil dan bijak, sesuai dengan konsep kesetimbangan yang sudah Allah tetapkan.

Karena itu, menjaga harmoni dengan alam bukan hanya pilihan, tetapi syarat mutlak agar Sumatra Barat tetap tangguh menghadapi ancaman bencana di masa depan. Bencana Sumatra peringatan serius dari alam untuk kita yang mau mengambil pelajaran.